ARTIKEL

Euforia konsumsi rokok elektronik bermunculan di berbagai belahan dunia. Rokok elektronik, yang salah satu jenisnya adalah Vape, sangatlah terkenal di kalangan perokok maupun non-perokok di Indonesia. 

Rokok elektronik adalah varian baru penghantar nikotin. Berbeda dengan rokok konvensional yang memerlukan proses pembakaran tembakau, rokok elektronik menguapkan cairan untuk menghantarkan nikotin kepada pengguna. Pada dasarnya, rokok elektronik terbagi dalam tiga komponen utama, yakni baterai, elemen pemanas, dan tabung berisi cairan (cartridge). 

Rokok Elektronik dengan berbagai jenis merk bermunculan di berbagai negara. Memepertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan, pemerintah harus menentukan regulasi. (Sumber Gambar: AFP)

Rokok elektronik juga kerap dijual dengan berbagai varian rasa dan bentuk, mulai dari yang sekecil pena hingga sebesar vas bunga. Rokok elektronik diklaim sebagai solusi terbaik dan terfektif untuk mengurangi konsumsi rokok konvensional. Ini lantaran rokok elektronik ditengarai memiliki bahan dasar yang tidak lebih berbahaya dari rokok konvensional. 

Kendati demikian, rokok elektronik tetap saja menghantarkan nikotin dan, “nikotin adalah pembunuh nomor satu di dunia,” ujar Monique Mugglie, Associate Legal Director, Campaign For Tobacco Free Kids pada sebuah diskusi di Yayasan Jantung Indonesia (31/1).

Monique menyatakan bahwa kehadiran industri rokok elektronik tetaplah berkait erat dengan upaya pengendalian tembakau dan perbaikan kualitas kesehatan masyarakat. Banyak riset menyebutkan bahwa industri rokok elektronik merupakan bentuk antisipasi dari turunnya potensi bisnis rokok konvensional.

Sebab itu, lanjutnya, upaya untuk meregulasi keberadaan rokok elektronik sangatlah diperlukan. Apalagi dalam soal komponen, rokok elektronik memiliki karakteristik pembeda melalui tambahan varian rasa pada cairan yang digunakan untuk menghantarkan nikotin. 

Cairan ini sendiri mengandung gliserin, penambah rasa, dan nikotin. Di Amerika, bisnis rokok elektronik berkembang dikarenakan adanya varian rasa dan warna yang menarik bagi anak-anak muda. Di Amerika Serikat saat ini, satu dari empat siswa sekolah menengah ditengarai menggunakan rokok elektonik. 

Akademi Sains, Teknik, dan Kedokteran Nasional (NASEM) di Amerika Serikat bahkan menemukan bukti kuat remaja dan dewasa muda yang menggunakan rokok elektronik memiliki resiko besar menggunakan rokok konvensional di masa depan. 

Monique menyatakan praktik pemasaran yang menarget kaum muda terjadi sebab lemahnya peraturan pemerintah. “Pemasaran industri rokok elektronik sebenarnya juga menggunakan strategi pemasaran yang digunakan oleh industri tembakau.” 

Beberapa langkah yang ditempuh oleh industri rokok elektronik di antaranya mengenalkan faktor perasa kepada anak-anak muda, mempromosikannya di media sosial, dan berusaha menghentikan segala bentuk pelarangan terhadap perasa yang hendak dilakukan oleh pemerintah.

Penyataan ini sangat memiliki dasar lantaran penelitian menunjukkan remaja menganggap rasa sebagai faktor penting ketika mulai menggunakan rokok elektronik. Singkatnya, kehadiran rokok elektronik sangat mengancam segala upaya untuk mengurangi konsumsi tembakau dan kecanduan nikotin yang telah diperjuangkan oleh pemerintah dan masyarakat selama bertahun-tahun. Lantas, mengapa rokok elektronik masih sangat dinikmati?

Klaim Tidak Saintifik

Seperti yang telah dikatakan di awal, industri rokok elektronik bersalin dengan klaim upaya mengurangi kecanduan rokok konvensional. Namun jika merujuk pada konteks sosial-ekonomi, klaim ini sangat lemah. 

Konsep rokok alternatif atau pengganti rokok konvensional dengan alasan kadar bahaya lebih rendah secara tidak langsung mendorong perokok mengonsumsi rokok elektronik saja. Konsep ini memang diterapkan di Britania Raya yang telah memiliki memiliki regulasi rokok konvensional yang ketat. Namun, kondisi ini tidak mungkin efektif ketika tingkat adiksi masyarakat tinggi, penjualan rokok konvensional sangat masif, dan akses mendapatkannya sangat mudah seperti di Indonesia.

Komponen perasa pada nikotin menjadi daya tarik rokok elektronik. (Sumber Gambar: Dokumentasi PKJS UI)

Klaim ini juga terbantahkan melalui berbagai bukti ilmiah. Studi dari Public Health England and Imperial College of London kerap menjadi klaim utama industri rokok elektronik. Hasil riset kedua lembaga tersebut menyatakan bahwa rokok elektronik hanya memiliki 5% tingkat bahaya dari rokok konvensional. Sayangnya, riset tersebut telah berkali-kali dibantah karena ketiadaan pemeriksaan laboratorik dan kriteria formal perekrutan ahli. 

WHO sendiri melalui Global Tobacco Epidemic 2019 menyatakan rokok elektronik yang tergolong dalam Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) terbukti berbahaya bagi kesehatan, tidak direkomendasikan sebagai alat berhenti merokok, dan menjadi pintu potensial remaja untuk menggunakan rokok konvensional. Singkatnya, rokok elektronik justru kembali menormalkan perilaku merokok di masyarakat. 

Membidik Regulasi

Indonesia hingga hari ini belum meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) WHO, sebuah perjanjian internasional yang mengatur tentang pengendalian tembakau. Sebab upaya pengendalian tembakau yang lemah itu, tingkat prevalensi perokok masih tergolong tinggi di Indonesia. Paling menjadi korban dari lemahnya upaya pengendalian tembakau adalah remaja yang rentan menjadi sumber keuntungan bisnis adiktif rokok. 

Selain itu seperti diketahui bersama, di Indonesia industri rokok sendiri telah berjalin dengan beragam aktivitas sosial, mulai dari beasiswa hingga konser musik. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga menampilkan citra industri rokok sebagai sesuatu yang wajar dan layak diterima. Kondisi ini menyulitkan segala upaya kampanye kesehatan masyarakat yang mengingatkan tentang bahaya rokok.

Kehadiran rokok elektronik dengan berbagai komponen dan jenis menjadi tantangan pemerintah untuk menetapkan regulasi yang tepat. (Sumber Gambar: PJKS UI)

Target RPJMN 2014-2019 menurunkan prevalensi perokok remaja dari 10-18 tahun dari 7,2% tahun 2013 menjadi 5,4% pada 2019 gagal total karena prevalensi justru meningkat hingga 9,1% pada tahun itu. Di sisi lain, kehadiran rokok elektronik sangatlah meluas di Indonesia hingga bisa ditemukan di kedai, kios, maupun toko-toko online. 

Oleh karena itu, sebuah kerangka kebijakan diperlukan untuk memantau kehadiran produk ini di Indonesia. Kebijakan yang mengatur kehadiran rokok elektronik harus bersumber pada upaya meningkatkan bahkan menjaga laju kemajuan kesadaran kesehatan masyarakat. Selain itu, kebijakan terkait rokok elektronik juga harus mempertimbangkan dampak kesehatan bukan hanya perseorangan, tetapi juga populasi. 

Berdasarkan alasan tersebut muncul beragam kemungkinan regulasi terhadap produk rokok elektronik. Pertama adalah pelarangan total. Melalui pelarangan total rokok elektronik tidak boleh diproduksi, diimpor, atau dijual di dalam negeri. Prinsip kehati-hatian bahwa rokok elektronik belum bisa dipastikan memiliki potensi risiko dan manfaat bagi pengguna menjadi landasan kuat opsi ini. Ada sekitar 24 negara yang telah menerapkan regulasi ini.  

Opsi kedua adalah meregulasi rokok elektronik sebagai obat terapeutik. Melalui opsi ini rokok elektronik hanya bisa dijual sebagai sebuah obat terapeutik berdasarkan regimen medis atau obat yang sudah ditetapkan di sebuah negara. Opsi ini akan menjadi sangat populer ketika pemerintah telah memiliki bukti kuat rokok elektronik memiliki potensi sebagai alat bantu berhenti merokok. Sekitar 7 negara telah melakukan regulasi ini. 

Opsi ketiga adalah meregulasi rokok elektronik untuk tunduk pada peraturan yang diatur dalam FCTC WHO. Berdasarkan peraturan ini rokok elektronik diatur kehadirannya selayaknya produk-produk tembakau. Peraturan ini bisa digunakan ketika penurunan tingkat merokok terhenti, tetapi prevalensi perokok tetap tinggi. Sampai sekarang, opsi ini merupakan pilihan paling populer dengan 47 negara yang telah melakukan regulasi. Indonesia sendiri kesulitan menetapkan regulasi ini karena belum meratifikasi FCTC.

Larangan sebagai Regulasi Terbaik

Dari ketiga opsi regulasi yang ada, CISDI melihat opsi pelarangan total adalah opsi terbaik jika mempertimbankan kapasitas pemerintah dalam melakukan pengawasan produk tembakau masih sangat lemah. Hingga saat ini, pemerintah pun masih kesulitan dalam pelaksanaan regulasi pengendalian produk tembakau yang diatur dalam PP 109/2012. Penambahan jenis produk tembakau yang harus diregulasi memiliki implikasi yang besar pada beban kerja pemerintah. 

Jika opsi kedua atau ketiga yang diambil oleh pemerintah, banyak mekanisme pengawasan yang harus dikembangkan, seperti misal pengukuran kadar nikotin, standarisasi perangkat dan cairan rokok elektronik, serta mekanisme pembatasan penjualan. 

Sementara jika opsi pelarangan total diambil, pemerintah hanya perlu melakukan pengawasan dan penindakan langsung pada produk rokok elektronik. Meskipun pelarangan total juga tidak akan mudah dilakukan, melihat telah menjamurnya penjualan rokok elektronik di Indonesia, opsi ini tetap menjadi opsi yang paling mungkin diterapkan oleh pemerintah saat ini. 

Keberadaan rokok elektronik di Indonesia sangatlah penting untuk ditanggapi. Karenanya, sebuah regulasi dengan basis pengetahuan yang jelas dan kokoh perlu diterapkan. Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, dan berbagai instansi negara terkait perlu secara kooperatif mengurai permasalahan ini, sekaligus memastikan kehadiran produk ini tidak bertentangan dengan cita-cita kemajuan kesehatan masyarakat yang kerap dinarasikan dalam RPJMN. 


Sumber: 

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2019. Narasi RPJMN IV 2020-2024 Edisi Agustus. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

World Health Organization. 2017. Electronic Nicotine Delivery Systems and Electronic Non-Nicotine Delivery Systems. https://www.who.int/tobacco/communications/statements/eletronic-cigarettes-january-2017/en/. diakses pada 3 Februari 2019.

Campaign for Tobacco Free Kids. 2019. Meregulasi Rokok Elektrik. Jakarta: Campaign for Tobacco Free Kids.

Soerojo, Widyastuti. 2019. Policy Paper: Produk Nikotin dan Tembakau Baru: Epidemi Mendatang. Jakarta. 


Penulis: 
Amru Sebayang

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)