ARTIKEL

“Mudah-mudahan selalu sehat dan panjang umur.” Ucapan ini hampir selalu muncul saat seseorang berulang tahun. Seperti halnya tujuan pembangunan kesehatan, semua orang berharap untuk hidup lebih lama dalam keadaan sehat tanpa penyakit apa pun. Sayangnya, saat ini di Indonesia, meskipun angka harapan hidup semakin panjang (45 tahun diawal 1970-an menjadi 68,9 tahun pada tahun 2010[1]) namun angka kesakitan juga terus meningkat. Saat ini, pola penyakit di Indonesia telah bergeser dari penyakit menular atau infeksi menjadi penyakit tidak menular. Penyakit yang paling besar membebani negara Indonesia saat ini adalah stroke atau penyakit pembuluh darah.[2] Penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan, tuberkulosis, infeksi saluran pencernaan dan diare[3] tidak lagi menempati urutan pertama dalam daftar penyakit penyebab kematian di Indonesia, namun masih tetap ada dan menjadi tugas yang harus diselesaikan. 

Pergeseran pola penyakit ini banyak disebabkan oleh kemajuan teknologi di dunia. Penemuan teknologi di bidang kesehatan dalam beberapa dekade terakhir, seperti antibiotik, akses air bersih, penggunaan jamban dan imunisasi, telah berhasil menekan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi di negara-negara maju. Namun, kemajuan teknologi juga mendorong terjadinya pola hidup tidak sehat yang kemudian menjadi penyebab munculnya berbagai jenis penyakit tidak menular. 

Di negara berkembang seperti Indonesia, pergeseran pola penyakit menyebabkan beban kesehatan menjadi berlipat ganda. Di saat kemajuan teknologi dan pola hidup yang tidak sehat semakin meningkatkan angka penyakit tidak menular, angka penyakit infeksi saluran pernapasan dan pencernaan belum juga terselesaikan. Cakupan imunisasi yang masih rendah, resistensi antibiotik akibat penggunaan yang tidak sesuai semakin tinggi, dan akses pada layanan kesehatan berkualitas yang belum merata menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menyusun strategi pembangunan kesehatan. Penyakit tidak menular yang bersifat kronis menyebabkan suatu keadaan dimana seseorang harus hidup dengan penyakitnya dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan penyakit tidak menular cenderung memerlukan biaya yang lebih besar serta masa pengobatan yang lebih panjang. Akibatnya, biaya kesehatan pun menjadi semakin tinggi. Pencegahan adalah upaya yang paling efektif dan efisien dalam menurunkan beban kesehatan. Upaya pencegahan pada penyakit tidak menular menyasar pada perubahan pola hidup dan penurunan faktor risiko, seperti masalah pola makan, aktivitas fisik, serta penanggulangan stres dan rokok.

Pencegahan dan penanggulangan perilaku merokok adalah salah satu upaya yang terbukti efektif menurunkan beban kesehatan, terutam dari penyakit-penyakit kronis tidak menular yang menjadi beban kesehatan tertinggi di Indonesia saat ini seperti stroke dan penyakit jantung. Selain itu, rokok adalah penyebab utama kanker paru-paru yang merupakan penyebab kematian paling umum karena kanker di Indonesia. Tanpa upaya serius penanggulangan perilaku merokok, beban biaya kesehatan di Indonesia dan beban pembangunan akibat penurunan produktifitas akan semakin meningkat.

Upaya pencegahan lainnya yang masih harus diperhatikan di Indonesia adalah masalah gizi atau pola makan. Tingginya angka gizi buruk dan perawakan pendek atau stunting disertai mulai meningkatnya angkat obesitas di Indonesia harus menjadi prioritas kesehatan. Penguatan pelayanan kesehatan primer yang didukung oleh kebijakan terkait untuk menanggulangi masalah kesehatan akibat pola makan yang salah harus dapat terselesaikan untuk memastikan terciptanya dan tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas.

Upaya pencegahan penyakit menular yang terbukti efektif adalah pemberian imunisasi, penyediaan akses air dan lingkungan bersih, serta pembatasan penggunaan antibiotik yang sesuai aturan. Selain itu, sistem pendataan yang kuat didukung oleh ketersediaan akses dan sistem yang responsif merupakan upaya-upaya yang dapat membantu dalam penanganan masalah penyakit menular. Angka kesakitan dan kematian akibat diare, infeksi saluran napas, maupun penyakit infeksi yang bersifat endemik seperti MERS, Ebola atau SARS akan lebih  mudah tertanggulangi dengan pendekatan kolaboratif dan holistik.

Kegagalan Indonesia dalam menanggulangi beban kesehatan akan selalu menjadi beban untuk pembangunan Indonesia seterusnya. Upaya penanggulangan penyakit di Indonesia, baik akibat penyakit menular maupun yang tidak menular hanya dapat tercapai dengan dukungan infrastruktur yang memadai, kolaborasi multi-lateral dan inter-profesi, serta dukungan prolitik yang ditranslasikan dalam bentuk kebijakan. Dengan perubahan tren penyakit saat ini, Indonesia harus segera menyelesaikan tugas eradikasi penyakit menular di saat yang bersamaan dengan menyusun strategi pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular.

Investasi pada pembangunan kesehatan ini menjadi penting dalam memicu roda perekonomian Indonesia. Segala upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit yang responsif dan holistik akan dapat meningkatkan kualitas manusia yang tentu tidak lepas dengan produktivitas masyarakat. Semua tentu berharap, setiap pemangku kepentingan dari berbagai sektor memainkan perannya dalam memastikan beban ganda kesehatan ini tidak menghambat upaya pembangunan negara demi masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera. 

 Penulis : Nurul Nadia dan Sereffina Yohanna


Daftar Pustaka

[1] TNP2K Working Paper. 2013. Asistensi Sosial Untuk Usia Lanjut di Indonesia: Kajian Empiris Program Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar. Jakarta (http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/WP_05_ASLUT_ID_0930.pdf)

[2] Kemenkes RI. 2015. Penyebab Kematian - Data Pembanding Lainnya dan Data Lebih Rinci. Jakarta (http://www.litbang.depkes.go.id/content/penyebab-kematian-data-pembanding-lainnya-dan-data-lebih-rinci)

[3] Ibid

Share this:

VIDEO TERKINI

Menggugah Pemuda Bereaksi Mengantisipasi Beban Sistem Pangan di Masa Depan

Forum for Young Indonesians (FYI) dengan tema 'Our Food, Our Future' digelar di Hall Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, (Minggu 22/10). Hadir pakar-pakar termuka seperti Wakil Presiden RI ke -11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, ekonomo Faisal Basri, ekonom Prof. Dr. Emil Salim serta inovator-inovator muda yang memberi warna baru dalam praktik sistem pangan berk