ARTIKEL

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) berkomitmen mendukung pencapaian kesehatan global melalui #Youth4Health. Tujuan pencapaian ini adalah mengimplementasikan Seeking Health Behaviour framework dengan melibatkan peran dari anak muda. Peran anak muda menjadi kunci dalam pembangunan berkepanjangan terlebih dalam mencapai Generasi Emas Indonesia pada 2045. Namun, perjalanan dalam mencapai Generasi Emas Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan karena adanya masalah-masalah yang belum terselesaikan, salah satu yang vital adalah masalah kesehatan.

Masalah kesehatan yang saat ini berada dalam tahap “lazim” di masyarakat adalah perokok usia anak (10-18 tahun). Berdasarkan Riskesdas 2018, angka prevalensi perokok usia anak (10-18 tahun) terus meningkat dari tahun 2014 sebesar 7,2% menjadi 9,1% di tahun 2018. Meningkatnya angka prevalensi ini disebabkan karena lemahnya regulasi pengendalian produk tembakau di Indonesia. Regulasi pengendalian produk tembakau, salah satunya rokok, terjadi karena beberapa faktor diantaranya adalah:

Ketersediaan Rokok dan Harga

Ketersediaan rokok dan keterjangkauan harga satu bungkus rokok yang dijual di warung, mini-market, dan pasar lainnya memberikan peluang bagi anak dan remaja untuk membeli rokok. Dibanderol dengan rentang harga RP 10.000,00 - RP 30.000,00 per bungkus atau RP 1.000,00 - RP 1.500,00 per batang menjadikan rokok sebagai “teman ngobrol” pada saat “nongkrong” bareng dengan teman-teman lainnya.  Strategi ini merupakan strategi yang dikembangkan oleh pihak produksi rokok karena mereka percaya bahwa anak muda adalah target calon perokok pemula dan calon pengganti perokok hari ini.

Iklan Rokok
Strategi komunikasi ini mengedepankan sisi lain dari bahaya merokok. Iklan rokok kerap kali menampilkan sisi maskulinitas, elegan, berkelas, petualangan, bahkan sisi inovator dalam teknologi yang diasosiasikan dengan citra merek rokok. Selain itu, anggaran belanja iklan industri rokok tidaklah sedikit. Menurut Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel), kategori rokok kretek menghabiskan belanja iklan sebesar RP 1,7 Triliun dalam kuartal pertama (Q1) tahun 2019 dengan pertumbuhan 29% dari tahun sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa strategi komunikasi dalam bentuk iklan, sponsorship, ataupun acara tingkat nasional masih terbilang efektif dalam mempromosikan citra merek kepada audiens, terlebih anak muda dan remaja.

Tarif Bea Cukai Rokok
Dibandingkan dengan Amerika Serikat, pada tahun 1997, harga rokok di Amerika dibandrol $2,88 per bungkus, harga yang bahkan lebih mahal dari harga rokok di Indonesia pada saat ini (2019). Tepat pada tahun 2003 Indonesia juga gagal mengaksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) tentang harga rokok. Selain itu, setahun yang lalu, menteri keuangan mengeluarkan peraturan yang menetapkan tidak menaikan tarif cukai di tahun 2019. 

Wadah Aspirasi
Keterlibatan anak muda dalam proses pembuatan kebijakan cukai pada produk tembakau, salah satunya rokok, masih sangat terbatas. Suara anak muda masih sering kalah dari suara pelaku industri yang kerap mengatasnamakan buruh, petani, dan pedagang kecil. Nyatanya, anak dan remaja lah yang dirugikan oleh industri rokok. Beberapa negara di dunia telah berupaya untuk mengendalikan peredaran produk tembakau bersama anak muda, salah satunya adalah Colorado. Pengendalian bersama anak muda dan beberapa komunitas yang berkomitmen untuk mengendalikan produk tembakau berhasil menghasilkan program Get R!el. Program ini adalah lomba olahraga yang terbebas dari rokok dan tidak menerima sponsor dari industri rokok.

Keterlibatan anak muda dalam proses advokasi perlu diperluas terlebih dalam isu cukai rokok dan pembekalan kemampuan untuk mengkomunikasikan isu tersebut ke berbagai kalangan. Pengembangan anak muda dalam isu ini didukung oleh CISDI yang memberikan pelatihan intensif selama 3 dalam acara Campaigners Camp. Acara ini melibatkan 15 anak muda terpilih usia 15-25 tahun yang mewakili komunitas dan organisasi sosial dari berbagai penjuru Indonesia. Selain itu, kegiatan Campaigners Camp bertujuan untuk mengadvokasikan kenaikan cukai tembakau baik secara langsung maupun digital.

“Melalui kegiatan ini, CISDI ingin memperkuat dorongan dari masyarakat bagi pemerintah untuk mereformasi kebijakan cukai yang dapat mengurangi keterjangkauan produk tembakau. Suara anak muda jadi poin utama, karena ancaman rokok bagi masa depan generasi muda adalah hal yang riil, dan perlu dihentikan” tutup Egi Abdul Wahid, Program Direktur CISDI. 

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pemahaman mengenai isu cukai rokok dan memberikan kontribusi nyata melalui program yang dibentuk oleh anak muda terkait isu pengendalian tembakau dan cukai rokok. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi wadah aspirasi anak muda terkait isu pengendalian tembakau di daerah masing-masing dengan tujuan untuk merealisasikan Generasi Emas Indonesia dan Sumber Daya Manusia yang unggul.

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)