ARTIKEL

Koalisi kaum muda yang memiliki kepedulian tentang Tuberkulosis menemui titik kesepakatan. Koalisi yang bernama “Indonesia Muda Untuk Tuberkulosis” (TBC) lahir sebagai aksi lanjutan dari forum diskusi tingkat global, Youth Town Hall to End TB, yang diselenggarakan pada 17 Juli 2019. Di dalam koalisi ini, terdapat 12 organisasi kaum muda yang ikut terlibat untuk menuntaskan isu TBC di Indonesia. Pembentukan koalisi inis ini tidak lepas dari peran CISDI sebagai think tank di sektor kesehatan dan kepemudaan, sekaligus mitra pelaksana resmi dari acara yang digagas oleh Kemenkes dan WHO dalam memfasilitasi partisipasi  kaum muda dalam pembangunan kesehatan.

CISDI dipilih sebagai fasilitator dalam proses konsolidasi kaum muda peduli isu tuberkolusis di Indonesia karena memiliki kapasitas dalam pengembangan pergerakan kaum muda di sektor kesehatan di Indonesia. “Dengan visi yang sama, CISDI turut terlibat aktif dalam membantu memperkuat organisasi lintas sektor seperti STPI (Stop TB Partnership Indonesia). Selain itu, CISDI telah melakukan upaya preventif dan advokasi tentang isu TBC di lapangan melalui program Pencerah Nusantara. Hal ini menjadi faktor terpenting untuk menggerakan kaum muda dalam pengembangan aksi nyata untuk isu Tuberkulosis di Indonesia” ujar Olivia Herlinda, Policy Director CISDI.

Semangat kaum muda dalam membentuk koalisi ini tidak lepas dari fakta yang menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berada dalam rentang usia produktif. Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara ketiga di dunia dengan prevalensi TBC tertinggi di dunia. Jumlah penyintas terbesar TBC berada di usia produktif dengan rentang usia 18 – 35 tahun. Salah satu faktor terpenting mengapa prevalensi TBC di Indonesia terus meningkat adalah kurangnya pemahaman mengenai TBC di masyarakat, terutama di kalangan kelompok muda. “Banyak orang muda yang masih belum tahu tentang ciri-ciri TBC. Terlebih, asosiasi yang ada di masyarakat luas adalah TBC merupakan penyakit yang menyerang bagian paru-paru saja,” ujar Faradiba, mahasiswi kesehatan sekaligus TB-XDR survivor.

Faktor lain yang turut berkontribusi besar dalam peredaran TBC adalah asupan gizi yang kurang seimbangt. Asupan gizi menjadi penting dalam menekan kasus TBC karena kualitas gizi yang baik mampu meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lung India tentang nutrisi dan TBC (2009), malnutrisi dapat menyebabkan defisiensi imun sekunder yang meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi, terlebih pada bakteri TBC. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dilakukan dan ditemukan oleh salah satu komunitas kaum muda di bidang gizi di Tasikmalaya. “Kami dari Komunitas Gizi Tasikmalaya menemukan hubungan yang kuat antara gizi dan TBC di daerah Tasikmalaya. Karenanya, kami bergabung dengan seluruh organisasi atau komunitas orang muda untuk menghentikan penyebaran TBC ini,” ujar Nabila, Komunitas OTIFA.

Koalisi ini diharapkan mampu menjadi salah satu platform bagi kaum muda untuk menekan penyebaran TBC di Indonesia. Selain itu, edukasi terkait penyakit TBC perlu terus dikembangkan untuk meminimalisir stigma yang beredar tentang TBC di masyarakat. “Harapan dari adanya koalisi ini adalah perubahan persepsi dan stigma di masyarakat tentang penderita TBC agar menjadi lebih positif dan merangkul para TB survivor. Selain itu, tujuan kami lainnya adalah adanya dukungan moral dan support system bagi para survivor untuk terus mengkonsumsi obat hingga tuntas sehingga mengurangi resiko penyebaran TBC,” tutup Faradiba.


Penulis:
Angga Prabowo

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)