ARTIKEL

Salah satu upaya aktif dalam meningkatkan pembangunan yang sesuai dengan agenda global dan penguatan komitmen dalam upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tidak menular, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) melakukan pengembangan program edukasi kesehatan yang mengambil pendidikan terkait rokok dengan metode pengajar sebaya yang diberi nama “Generasi Kreatif : Penggerak Nusantara” di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di DKI Jakarta.

Sebagai langkah awal, CISDI melakukan pemetaan kebutuhan di sebuah SMP Swasta di area Jakarta Selatan selama bulan Maret sampai April 2015 untuk menjadi dasar dalam penyusunan materi edukasi terkait masalah rokok di SMP.         

Berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan, CISDI mendapatkan bahwa pengetahuan dan persepsi responden mengenai bahaya merokok sudah baik, namun masih ditemukan perilaku merokok pada 20.5% responden. Hampir seluruh responden mengetahui bahwa merokok berbahaya (93.4%) dan menyetujui bahwa merokok adalah hal yang negatif (98.8%). Pengetahuan responden terkait penyakit yang disebabkan rokok juga sudah sangat baik, meskipun tidak seluruh responden mengetahui bahwa merokok menyebabkan ketagihan (76.8%) dan hanya sedikit yang mengetahui kandungan berbahaya di dalam rokok (40.5%). 

Responden masih banyak melihat iklan rokok dan orang di sekitarnya merokok. Beberapa responden mengetahui orang tuanya merokok (34.4%), gurunya merokok (10%), dan teman dekatnya merokok (17.8%). Sebanyak 85.3% pelajar melihat iklan rokok di warung, 62.9% melihat iklan rokok di restoran, dan 38.6% melihat iklan rokok di acara musik. 

Meskipun 93.8% responden menyetujui bahwa asap rokok berbahaya, 70% responden terpapar asap rokok di tempat umum, 51% terpapar asap rokok di rumah, dan 29% terpapar asap rokok di sekolah. Selain itu hanya 61.8% mengetahui adanya peraturan kawasan dilarang merokok di sekolah dengan masih ada responden yang  melihat guru (4.2%) dan teman dekatnya (4.6%) merokok di sekolah. 

Tidak seluruh responden mendapat informasi mengenai bahaya merokok di sekolah.  Hanya 73.4% responden yang pernah mendapat edukasi terkait rokok di sekolah dan responden yang berminat untuk menyebarkan informasi terkait rokok juga hanya sekitar 10%.

Edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran mengenai masalah rokok merupakan salah satu intervensi yang terbukti dapat menurunkan keinginan merokok pada pelajar[1]. Namun, edukasi kesehatan tentang rokok dengan pendekatan ‘tradisional’ terbukti tidak berhasil menurunkan perilaku merokok[2]. Edukasi kesehatan dengan metode pembelajaran interaktif dari pelajar-ke-pelajarlah yang telah terbukti lebih efektif merubah perilaku dan norma terkait masalah rokok apabila dibandingkan metode kuliah atau pengajaran guru-ke-murid.[3] 

Oleh sebab itu diperlukan pendekatan kreatif yang melibatkan pelajar secara aktif dan memberikan mereka kesempatan untuk menjadi agen perubahan norma di lingkungannya. Hal ini dimaksudkan agar pelajar tidak hanya mendapatkan informasi tentang rokok, namun menerima persepsi bahwa merokok adalah hal yang merugikan bagi mereka.  

Intervensi yang diberikan pada pelajar harus lebih dari hanya memberikan informasi tentang bahaya rokok, namun mencakup :

1. Kandungan berbahaya di dalam rokok dan kerugian merokok yang mudah diterima oleh pelajar, termasuk penyakit dan uang yang hilang atau barang yang dapat dibeli apabila tidak merokok;

2. Dampak iklan rokok serta kawasan dilarang merokok, dan bagaimana kedua hal tersebut mempengaruhi perilaku merokok pelajar;

3. Bagaimana peraturan kawasan dilarang merokok melindungi mereka;

4. Teknik kampanye terkait masalah rokok yang kreatif, menyenangkan, dan relatif mudah sehingga meningkatkan minat pelajar untuk menyebarkan informasi terkait masalah rokok.

Untuk menurunkan perilaku merokok pada pelajar, intervensi edukasi di sekolah juga harus melibatkan guru dan didukung oleh intervensi lain yang untuk men-denormalisasi perilaku merokok dan membatasi akses pelajar untuk mendapatkan rokok. Edukasi kesehatan di sekolah akan menjadi investasi awal untuk men-denormalisasi perilaku merokok dan meyakinan pelajar bahwa tidak merokok adalah menguntungkan mereka dan bagaimana mereka dapat menjadi bagian dari agen perubahan.

 

 

 Penulis : Nurul Nadia, Liza Pratiwi, Sitti Arlinda, Andika Wiraan


Daftar Pustaka


 

1 World Health Organization. Framework Convention on Tobacco Control.

2 Mackay, Judith. The Hazards of Tobacco Use and Strategies for Reducing Them – Enhancing public health and well-being in Indonesia. World Lung Foundation. 2015.

3 Clarke J, MacPherson B, Holmes D, Jones R. Reducing adolescent smoking: a comparison of peer-led, teacher-led, and expert interventions. J School Health. 1986;56:102–106

 

Share this:

VIDEO TERKINI

Menggugah Pemuda Bereaksi Mengantisipasi Beban Sistem Pangan di Masa Depan

Forum for Young Indonesians (FYI) dengan tema 'Our Food, Our Future' digelar di Hall Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, (Minggu 22/10). Hadir pakar-pakar termuka seperti Wakil Presiden RI ke -11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, ekonomo Faisal Basri, ekonom Prof. Dr. Emil Salim serta inovator-inovator muda yang memberi warna baru dalam praktik sistem pangan berk