ARTIKEL

Sejarah pembangunan bangsa selalu dikaitkan dengan kehadiran pemikir dan organisator yang kelak dikenal sebagai pendiri bangsa. “Dari sekian banyak pendiri bangsa, sebagian di antaranya adalah dokter dan tenaga kesehatan,” ungkap Cendekiawan Pancasila, Yudi Latif, dalam pembukaan acara tahunan CISDI Lokapala: Meneropong Arah Kebijakan Pembangunan Kesehatan Indonesia 2020-2024 di Graha Niaga Thamrin (17/12).

Sebagai pembuka kegiatan, Yudi menerangkan peran dokter dan tenaga kesehatan pada periode perjuangan. Perjuangan mereka, bagi Yudi, adalah upaya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan beradab. “Usaha kesehatan bukan cuma soal medis, tetapi juga komitmen kepeloporan bangsa.”

Di samping itu, tenaga-tenaga kesehatan, ungkit Yudi, bukan saja pencetus organisasi perjuangan besar seperti Budi Utomo, tetapi juga telah mencetak gemilang prestasi dalam pemerintahan pasca periode kolonial. “Salah satu menteri terlama dalam sejarah adalah Johannes Leimena. Dia dokter dan telah berjuang sejak lama,” tambah Yudi.

Johannes Leimena adalah seorang dokter dan satu-satunya menteri yang pernah menjabat selama 21 tahun berturut-turut tanpa putus. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan maupun Wakil Perdana Menteri dalam 18 kabinet yang berbeda. 

Karena pencapaiannya, Leimena dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada 2009. Dalam banyak buku sejarah, ia juga disebut sebagai orang paling jujur di mata Soekarno. 

Di sisi lain, menurut Yudi, dikarenakan tuntutan profesi, tenaga kesehatan adalah orang-orang yang dekat dengan masyarakat. Keberadaan mereka dibutuhkan untuk mewujudkan misi kebangsaan.“Kita punya empat misi kebangsaan. Dua di antaranya terkait dengan kesehatan. Sudah sepantasnya kesehatan menjadi pokok bahasan pembangunan.” 

Yudi menyatakan bahwa upaya pembangunan bangsa jugalah upaya pembangunan kesehatan. Karena itu, baginya penting untuk mensinergikan negara, pasar, dan komunitas dalam upaya pembangunan kesehatan. Inisiatif komunitas, menurut Yudi, “Harus dimulai dari aktivitas yang melibatkan orang luas.” 

“[Health] Outlook dari CISDI, karena itu, adalah upaya untuk menggerakkan masyarakat mengadakan upaya-upaya kesehatan,” rangkumnya menutup pidato pembuka. Dokumen Health Outlook yang dikeluarkan oleh CISDI berisikan catatan tentang tantangan pembangunan kesehatan yang belum optimal diselesaikan oleh pemerintah. 

Di samping itu dalam dokumen yang sama, disampaikan pula rekomendasi kebijakan yang bisa diimplementasikan untuk menghadapi tantangan tersebut. Direktur Eksekutif CISDI, Gatot Suarman menyatakan bahwa dokumen Health Outlook penting untuk meletakkan fondasi pembangunan kesehatan di Indonesia selama 5 tahun ke depan.

“Lokapala berarti dewa penjaga arah mata angin. Sama seperti dewa itu, CISDI ingin menjaga arah pembangunan kesehatan di Indonesia.” Gatot juga menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat sipil untuk terlibat dalam upaya pembangunan,  terutama anak-anak muda. 

Baginya, anak-anak muda harus memancang visi untuk membangun pelayanan kesehatan yang berkualitas dan adil. Ia juga tidak segan mengajak anak-anak muda untuk berjuang dalam upaya pembangunan kesehatan dengan terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan.“Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak bisa dimenangkan,” tutup Gatot mengutip pernyataan Sutan Sjahrir.

Diah Saminarsih, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina CISDI, ikut hadir dan menyampaikan relfeksi penutup Lokapala. Sejalan yang dikatakan Gatot, bagi Diah, anak muda adalah critical mass untuk membawa kebaikan untuk masyarakat. “Semua orang muda perlu berkontribusi agar pembangunan kesehatan on target.” 

Di sisi lain, ia juga menyoroti peran pemerintah yang senantiasa perlu diawasi dalam mengimplementasikan kebijakan pembangunan kesehatan. Jika tata kelola kebijakan pemerintah bermasalah, menurut Diah, “Indonesia tidak akan pernah bisa membuat lompatan kebijakan kesehatan.”

CISDI sebagai think tank yang telah lebih dari 5 tahun bekerja dalam isu pembangunan kesehatan menyoroti betul permasalahan ini. Itu sebabnya, tambah Diah, “Bekerja sama dalam isu pembangunan penting untuk menciptakan perubahan.” 

Terakhir sebagai penutup, Diah merangkum tiga rekomendasi arah kebijakan kesehatan kepada pemerintah, yaitu: 

1. Penguatan sistem kesehatan harus dimulai dari penguatan pelayanan kesehatan primer.
2. Pelayanan kesehatan primer yang kuat memerlukan sumber daya manusia yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
3. Berdasarkan portofolio yang telah dikerjakan CISDI, penting untuk menjalin kolaborasi multipihak dalam kebijakan pembangunan kesehatan. 

“Kami ingin sampaikan. Jangan kita bekerja sendiri. Bekerja sama penting untuk semua elemen, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil.”

Lokapola adalah acara tahunan CISDI untuk memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah dalam bentuk dokumen Health Outlook 2020. Turut hadir dalam acara ini lebih dari 200 mitra kerja CISDI, terdiri dari pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. 


Penulis:
Amru Sebayang

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)