ARTIKEL

HASIL komoditas pertanian belum bisa menguntungkan para petani lokal di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Masalah ini terletak pada panjangnya mata rantai perdagangan dari petani hingga ke konsumen.

Ayi Cuplis, 36, petani asal Kampung Areng, Desa Cibodas, Lembang, mengatakan, petani sayuran sebenarnya bisa lebih sejahtera jika tata niaga perdagangan atau jalur distribusi barang bisa dipangkas.

"Masalahnya kan, sebelum sampai ke tangan konsumen, produk pertanian selalu melalui perantara atau pengepul. Dari pengepul masuk ke pasar induk lalu baru didistribusikan ke pengecer di pasar-pasar tradisional," ucap Ayi, di Lembang, Selasa (3/10).

Sebagai contoh, kata dia, cabai rawit jika sudah dijual di pasar tradisional dipatok dengan harga Rp15.000 per kilogram, padahal dari tingkat petani hanya dijual Rp6.000 per kg. Jika saja jalur distribusi bisa dipangkas, harga dari tingkat petani bisa lebih tinggi.

"Tantangan petani itu sebenarnya cukup berat, karena harus keluar biaya perawatan, belum ditambah biaya untuk beli pupuk dan obat tanaman. Dengan harga cabai yang hanya Rp6.000 per kg, sebenarnya enggak bisa menutupi ongkos dari masa tanam sampai panen," tuturnya.

Menurut dia, jika pemerintah mau menyejahterakan petani, salah satu upaya yang harus dilakukan ialah dengan memangkas jalur distribusi barang.

Selain itu, dia juga meminta subsidi pupuk juga harus tepat sasaran. Pasalnya, sampai saat ini, pupuk hanya dimonopoli kelompok tani tertentu sehingga terkadang petani kecil tidak kebagian pupuk.

Dia menyatakan, keuntungan petani dari hasil panen sayuran juga tak bisa dinikmati semua, sebab rata-rata tanahnya sudah bukan milik warga setempat.

Ayi sendiri harus meminjam tanah seluas 1 hektare milik sekolah internasional yang berada di Desa Cibodas.

"Hampir semua tanah garapan pertanian di desa ini dimiliki warga pendatang, setiap kali panen, saya harus bagi hasil, 70% buat petani, sisanya untuk pemilik lahan. Bukan hanya di Cibodas saja, di Desa Cikidang dan Wangunharja juga tanahnya sudah dimiliki orang luar, warga lokal terpaksa harus menyewa," ungkapnya.

Dia menambahkan, keuntungan besar dari hasil penjualan pertanian bisa didapat apabila salah satu jenis sayuran langka di pasaran. Misalnya saat harga cabai rawit tembus sampai Rp100 ribu per kg, beberapa waktu lalu. Namun, itu pun hanya terjadi dalam dua tahun sekali.

"Keuntungan dari penjualan cabai rawit bisa menutupi biaya pembibitan dan perawatan jenis sayuran lainnya," jelasnya. (OL-2)

Sumber: http://mediaindonesia.com/news/read/125422/jalur-distribusi-panjang-hasil-pertanian-belum-sejahterakan-petani/2017-10-03

Share this:

VIDEO TERKINI

Menggugah Pemuda Bereaksi Mengantisipasi Beban Sistem Pangan di Masa Depan

Forum for Young Indonesians (FYI) dengan tema 'Our Food, Our Future' digelar di Hall Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, (Minggu 22/10). Hadir pakar-pakar termuka seperti Wakil Presiden RI ke -11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, ekonomo Faisal Basri, ekonom Prof. Dr. Emil Salim serta inovator-inovator muda yang memberi warna baru dalam praktik sistem pangan berk