ARTIKEL

Menjadi bagian dari tim Pencerah Nusantara (PN) dua tahun yang lalu adalah salah satu pengalaman terbaik yang mengajarkan banyak hal bagi Mustika Arini, dokter gigi PN angkatan 4 penempatan Sumbawa Barat, NTB. Mendapat kesempatan mengabdi di Puskesmas Poto Tano, di ujung barat Pulau Sumbawa tersebut, tidak hanya mengasah kemampuan medisnya sebagai seorang dokter gigi, namun di luar itu semua, Tika, begitu ia kerap disapa, banyak belajar mengenai ilmu kesehatan masyarakat, bagaimana pencegahan terhadap masalah kesehatan harus diprioritaskan sebagai solusi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Sebagai tim yang pertama kali datang ke penempatan, Timnya harus mampu memperkenalkan PN di Puskesmas dan tentunya di tengah masyarakat. Selain itu, mereka juga ditugaskan untuk melakukan assessment awal untuk menilai kondisi kesehatan masyarakat di Poto Tano sebelum dilakukan intervensi oleh tim PN. 


Satu tahun mengabdi di tanah Samawa tersebut benar-benar menjadi sekolah kehidupan baginya. Hingga tahun berikutnya ketika Tika dapat kembali melanjutkan pendidikannya, Tika lantas mantap memilih Public health sebagai jurusan yang ditujunya di University of Illinois at Chicago, Amerika Serikat. 

Melanjutkan studi lintas jurusan bukan hal yang mudah tentunya, namun pengalaman menjadi Pencerah Nusantara benar-benar membantunya untuk memahami apa yang sedang dipelajarinya sekarang. Bahkan jauh lebih menarik, karena dia sudah terlebih dahulu mempraktikkannya di penempatan sebelum mendalami teori dan riset terkait Public Health lebih lanjut. 

Hingga pada akhir semester Spring lalu, di kelas Global Health Solution yang diikutinya, Tika diminta untuk membuat proyek akhir berupa poster yang membahas mengenai intervensi kesehatan yang dinilai berhasil melakukan perubahan yang baik di suatu negara. Tanpa pikir panjang pengalamannya selama di penempatan menginspirasi Tika untuk mengangkat program Pencerah Nusantara untuk diperkenalkan lebih luas sebagai salah satu program inovasi kesehatan yang berhasil membantu meningkatkan pelayanan kesehatan primer di Indonesia. 

Dalam poster ini, Tika memulai pembahasan dengan memperkenalkan CISDI sebagai civil society yang mengelola PN, apa itu PN, serta membahas keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh program ini dengan melihatnya empat dari sepuluh faktor yang terdapat pada element of success sebuah program kesehatan yaitu government involvement, capacity building, resources utilization dan policy impact. 

Tika menyebutkan, dilihat dari poin government engagement, inovasi PN untuk meningkatkan pelayanan primer di Indonesia, tidak hanya berhasil melibatkan sektor kesehatan saja tetapi juga berhasil mengajak elemen pemerintah daerah yang lain, mulai dari tingkat desa hingga Kabupaten, untuk dapat turut serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer di daerah tersebut. Dukungan ini mencerminkan bahwa tantangan di bidang kesehatan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan, namun harus didukung oleh semua sektor di dalam pemerintahan. Dari segi peningkatan kapasitas Sumber daya Manusia, CISDI selaku civil society yang mengorganisir program PN, berhasil melakukan training kepada semua peserta PN dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten di bidangnya, yang kemudian menjadi bekal untuk para profesional kesehatan muda ini untuk mentransfer ilmunya tersebut kepada tenaga kesehatan lokal, kader di Posyandu, murid di sekolah, ibu hamil dan menyusui, lansia dan masyarakat pada umumnya mengenai informasi kesehatan yang dibutuhkan. Sehingga tercatat, dari awal PN cohort 2 dimulai di tahun 2016, tim PN sudah berhasil melatih 471 tenaga kesehatan lokal dan 951 kader posyandu di 9 penempatan PN di seluruh Indonesia. Poin lain yang ditonjolkan Tika dalam posternya adalah keberhasilan PN mengangkat pangan lokal untuk meningkat gizi balita dan anak di daerah penempatan hingga keberhasilan PN dieskalasi menjadi program nasional (Nusantara Sehat), yang hingga tahun 2018, telah mengirimkan 3380 tenaga kesehatan muda ke 590 DTPK di seluruh Indonesia. 

Menampilkan PN sebagai presentasi proyek akhirnya di kelas Global Health ini, sekaligus menjadi kesempatan Tika untuk memperkenalkan Indonesia kepada civitas akademika di universitasnya. Kelas ini diikuti oleh mahasiswa lokal dan international yang pada umumnya telah memiliki pengalaman melakukan proyek kesehatan pada skala global. Namun begitu, banyak dari mereka yang masih belum mengetahui mengenai Indonesia. Akses untuk kesehatan selalu menjadi ulasan ketika mendengar bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Poster ini juga mendapat perhatian dari Profesor yang mengampu kelas ini, sebagai feedback, beliau berkomentar bahwa program ini sangat menarik dan menjaga program ini agar dapat terus berkelanjutan adalah tantangan yang harus didukung oleh banyak pihak ke depannya.


Oleh: drg. Mustika Arini (Alumni Pencerah Nusantara Angkatan 4 Penempatan Sumbawa Barat, NTB)

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)