ARTIKEL

“Kalau suatu ketika orang meminta pendapatmu, apakah Ki Hadjar itu seorang nasionalis, radikalis, sosialis, demokrat, humanis ataukah tradisionalis, maka katakanlah bahwa aku hanyalah orang Indonesia biasa saja, yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia.” 

Ki Hadjar Dewantara, “Bapak” Pendidikan Bangsa memberikan berbagai kata kunci dari pesan di atas  yang sangat kontekstual. Hari Kebangkitan Nasional memberikan kesempatan untuk berefleksi. Carut marut Pilkada Jakarta harus diakui telah mendorong keresahan bahwa “keindonesiaan” kita terganggu. Kesepakatan pendiri bangsa untuk menyatukan diri, menguatkan Indonesia dan menghargai kebhinekaan, seakan-akan menjauh untuk beberapa saat. Tantangan yang kita hadapi bersama adalah beberapa kata kunci yang diberikan Ki Hadjar. Seberapa jauh kita mau bekerja dengan cara Indonesia untuk bangsa Indonesia?

Memaknai Dasar Kebangsaan
Stovia, gedung tua bekas sekolah kedokteran di zaman penjajahan Belanda, menjadi saksi peran pemuda dalam membangkitkan kesadaran nasional melawan kolonialisme. Bila dulu nasionalisme pemuda Indonesia bangkit untuk melawan penjajah ‘dari luar’, maka kini tantangannya adalah untuk merawat nasionalisme ‘dari dalam’. Jauh lebih berat untuk merawat nasionalisme yang inklusif, apalagi menghadapi bangsa sendiri. 

Pandangan kebangsaan yang hanya dilihat dalam satu sisi sama sekali tidak mencerminkan kesepakatan saat Kebangkitan Nasional dicanangkan. Dalam memaknai dasar kesepakatan, penerimaan nilai Pancasila merupakan salah satunya. Nilai Pancasila, bila kita dalami lagi, merupakan nilai universal yang digali dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Suatu nilai yang tak lekang dengan waktu tentunya mengandung unsur harmoni untuk hidup berbangsa. Hal penting yang perlu masuk dalam kesadaran kita adalah Pancasila hadir dalam ranah publik, dalam hubungan-hubungan sosial yang terjadi sebagai bangsa, dan dalam konsensus-konsensus yang dibangun bersama sebagai masyarakat yang majemuk. Setiap orang pun memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjadikannya pedoman dalam berperilaku sebagai warga negara Indonesia. 

Tantangan untuk menjaga semangat nasionalisme saat ini dan di masa depan akan sangat dirasakan oleh para pemuda. Semangat perlawanan dr. Soetomo dan kawan-kawan di Stovia yang menjadi tonggak sejarah perlu dimaknai oleh perlawanan yang kontekstual saat ini. Setelah semangat ‘melawan’, maka sekarang adalah saatnya untuk semangat ‘membangun’.

Peran Pemuda: Membangun Semangat Kebangkitan dari Dalam
Ruang aktualisasi diri bagi generasi masa depan sangat dibutuhkan, apabila kita percaya bahwa merawat kebangsaan ‘dari dalam’ dapat diwujudkan dengan partisipasi dalam pembangunan di berbagai aspek. Sejak dini, pemuda perlu diberi peluang untuk menentukan di mana dan bagaimana mereka bisa berperan. Laporan dari World Bank (2006) bahkan menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam memperbaiki permasalahan di komunitas lokal mendorong rasa kepemilikan pemuda dalam meneruskan upaya untuk mendorong perbaikan-perbaikan lain di tahap lanjut dalam hidupnya. Jika Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan nasionalisme sebagai: ‘paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri’, maka  manifestasi paling sederhana dari mencintai Indonesia adalah memperlakukan semua kawan sebangsa dengan rasa kasih. 

Berdasarkan definisi diatas, ada begitu banyak contoh menunjukkan para pemuda yang meninggalkan area nyaman mereka untuk bergandengan tangan dengan komunitas lain, memanfaatkan perbedaan justru sebagai kesempatan untuk saling belajar dan saling menguatkan. Kegiatan dan gerakan positif yang didasari oleh rasa cinta terhadap Indonesia ini perlu terus diceritakan dan diberikan dukungan. 

Semangat merawat dan memperbaiki lingkungan untuk Indonesia yang lebih baik merupakan kebangkitan pemuda saat ini. Semangat dr. Soetomo akan selalu hadir serta mengingatkan kita dalam semangat itu: “Marilah kita bertanding untuk mengabdi kepada tanah air, tanpa alasan-alasan yang tersembunyi dengan membuktikan kemampuan dan kejujuran kita sendiri.”


Referensi:
Children & Youth Unit, Human Development Network, The World Bank. (2006). Youth in Community-Driven Development.


Penulis : Anindita Sitepu

Share this:

VIDEO TERKINI

CISDI - Tobacco dalam konteks SDGs

Penanggulangan dampak penggunaan tembakau di Indonesia, khususnya pada perokok pemula atau generasi muda dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs)