ARTIKEL

Penugasan tenaga kesehatan tim Pencerah Nusantara (PN) di daerah yang jauh dari tempat asal, rentan menimbulkan permasalahan personal yang kemudian berdampak besar pada dinamika kelompok secara keseluruhan. Kejenuhan dan stres kerja karena berhadapan dengan masyarakat dan budaya yang berbeda dari budaya yang telah dikenalnya dengan baik membuat tim PN memerlukan adanya dukungan dari diri sendiri, rekan kerja maupun lingkungannya agar tetap fokus dalam menyelesaikan tugas di daerah penempatannya masing-masing. Bentuk dukungan dari dalam diri sendiri merupakan salah satu hal yang penting yang dapat dilatihkan kepada setiap Pencerah (individu yang terlibat sebagai tim Pencerah Nusantara), sehingga ketika mereka berada dalam kondisi tertekan karena faktor apapun mereka senantiasa dapat bertahan. Dukungan dalam diri tersebut merupakan sumber daya Psikologis yang sangat berperan ketika seseorang menghadapi situasi yang sulit dalam kehidupan kesehariannya. Terlebih pada saat mereka sudah ditempatkan di daerah tersebut selama lebih dari enam bulan, maka sangat perlu dilakukan penguatan terutama dalam sumber daya Psikologis agar mereka dapat tetap bertahan menyelesaikan tugasnya sampai dengan tuntas.

Beberapa sumber daya Psikologis yang diperkirakan dapat memperkuat kemampuan diri dalam menghadapi situasi tekanan di lapangan antara lain keterbukaan terhadap pengalaman, kejujuran-kerendahan hati, conscientiousness, resiliensi, keterikatan kerja, komitmen, kerjasama dan komunikasi. Keterbukaan terhadap pengalaman ditandai dengan senang mencoba hal-hal baru, imajinatif, memiliki rasa ingin tahu, dan berpikiran terbuka. Kejujuran-kerendahan hati ditandai antara lain dengan adanya kebersahajaan, dapat dipercaya dan loyal. Conscientiousness memiliki karakteristik seorang yang tergorganisasi dengan baik, disiplin, berhati-hati, sedangkan resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dan kembali dari situasi yang membuat down dan tidak terpuruk lebih jauh. Keterikatan kerja merujuk pada keterlibatan penuh seorang dengan tugas dan tempatnya bekerja. Dalam hal ini adalah Pencerah yang terikat (engage) dengan pekerjaannya sebagai tenaga pengabdi masyarakat di bidang kesehatan. Komitmen adalah bagaimana seseorang terikat dengan pekerjaannya dan memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan tuntutan. Kolaborasi dan komunikasi sangat diperlukan untuk terjalinnya kerjasama yang baik dengan kelompok / tim kerja.

Berdasarkan gambaran diatas, dipandang perlu untuk dilakukan penguatan terhadap aspek tersebut sehingga para Pencerah dapat memaksimalkan sumber daya Psikologis yang dimilikinya. Salah satu upaya untuk memperkuat sumber daya Psikologis tersebut adalah melalui mindfulness treatment yang diberikan kepada team leader PN di setiap daerah penempatan. Dengan mendapatkan pembekalan tentang mindfulness treatment, para team leader dapat meneruskan pada anggota timnya untuk dapat menerapkan pola yang sama untuk menghadapi permasalahan di tempat masing-masing. Mindfulness treatment merupakan salah satu bentuk intervensi yang memfokuskan pada kesadaran terhadap pikiran dan emosi yang terjadi saat ini dan membangun keterbukaan dan penerimaan terhadap pengalaman yang terjadi. Secara spesifik ditujukan untuk meningkatkan kemampuan individu agar dapat terlibat secara penuh dalam sebuah pekerjaan, menyadari keberadaan diri dan apa yang sedang dikerjakan serta dapat memberdayakan pikiran mereka agar dapat memandang masalah dari sudut pandang yang tepat. Diharapkan, dengan sudut pandang yang tepat tersebut akan membuat mereka dapat dengan kepala dingin melihat masalah sebagai suatu hal yang normal sehingga mereka pun akan dapat memikirkan antisipasi terhadap masalah tersebut dengan baik. Program intervensi ini diadaptasi dari program mindfulness-based therapeutic programs.

Pada awal sebelum penempatan, para Pencerah mengisi data yang mengukur seberapa besar sumber daya Psikologis yang dimiliki. Data kedua diambil pada saat 3 bulan setelah penempatan mereka di daerah masing-masing. Selanjutnya pengambilan data ketiga dilakukan setelah team leader kelompok kerja PN dari ke 9 daerah penempatan diberikan workshop tentang mindfulness di bulan ke enam setelah penempatan. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa dengan menjadi leader yang mindful dan kemudian menularkan kepada tim di daerah penempatan masing-masing maka diharapkan setiap anggota di daerah penempatan mampu mengelola dirinya dan bersikap mindful sehingga dapat menurunkan dampak negatif  dari kejenuhan dan stres kerja di lapangan. 

Setelah para team leader diberikan pembekalan tentang mindfulness hasil analisis dari tingkat mindfulness ketika awal para Pencerah ditempatkan sampai dengan bulan ke delapan menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa awareness setiap Pencerah terhadap sikap mindful semakin meningkat sejalan dengan waktu penempatan mereka yang semakin lama di daerah. Sedangkan dari keseluruhan sumber daya Psikologis yang diharapkan dimiliki para Pencerah menunjukkan bahwa Mindfulness secara konsisten dari awal pengambilan data berhubungan positif dengan Conscientiousness. Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin mindful seseorang maka ia mampu terlibat secara penuh dalam sebuah pekerjaan, bersungguh-sungguh dan serius dalam melaksanakan tugas, menyadari keberadaan diri dan apa yang sedang dikerjakan, memiliki disiplin, berhati-hati dan tidak terlalu reaktif atau bingung dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu Mindfulness juga menunjukkan hubungan positif dengan resiliensi dan work engagement. Dengan demikian diharapkan semakin mindful seseorang maka ia dapat lebih menyadari kondisi yang dihadapinya sehingga diharapkan mereka akan lebih tangguh dalam menghadapi tekanan, tidak mudah terpuruk dan dapat segera bangkit ketika menghadapi situasi yang sulit. Disamping itu, seorang yang mindful juga akan lebih menyadari situasi yang dihadapi sehingga diharapkan ia akan dapat menunjukkan keterlibatan penuh terhadap pekerjaannya, ditandai dengan energi yang besar dan dedikasi yang tinggi untuk mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan.

Merujuk pada data yang diperoleh, seseorang yang mindful mampu berkontribusi pada kapasitas seseorang dalam menghadapi tekanan tugas maupun penyelesaian tugasnya secara sungguh-sungguh, tangguh dan mampu bangkit ketika menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, tim pengelola melihat penanaman mindful sangatlah diperlukan, terutama bagi individu yang banyak berhadapan dengan tekanan dan tuntutan tinggi untuk dapat menyelesaikan permasalahan di lapangan yang bervariasi.

Terkait dengan dampak dari sikap mindful tersebut, selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar dapat meningkatkan sikap mindful seseorang? Menjawab pertanyaan tersebut, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah dengan cara meningkatkan pengelolaan emosi, kesadaran diri dan welas asih pada diri sendiri maupun kesadaran dan welas asih pada orang lain, mengakui dan menerima kesalahan dengan terbuka dan mengarahkan perhatian pada sini kini (here and now) dengan keterbukaan dan rasa ingin tahu – terlepas dari rasa sakit, rasa senang atau keduanya, izinkan perasaan ‘just the way they are, fokus dan hadir secara fisik dan mental di tempat yang sama.

Hindari galau dan risau dengan tidak terjerat pada masa lampau, menyesali atau menyalahkan diri sendiri, orang lain maupun lingkungannya, tidak terjerat pada masa depan, kekhawatiran yang berlebihan, putus harapan dan dibayangi kegagalan maupun penolakan. Jeratan lain yang juga perlu dihindari adalah jeratan pada diri sendiri, negatif self-judgment, merasa diri sendiri buruk, tidak berarti, tidak berguna, ataupun positif self-judgment, merasa diri sempurna, selalu benar, lebih baik dari orang lain. Jeratan lain adalah bahkan ia tidak tahu siapa dirinya!. Jangan juga terjerat pada ‘rules’, identifikasi dengan kata ‘harus’, ‘salah’, ‘benar’ atau terjerat misalnya dengan ketentuan bahwa ‘saya tidak boleh melakukan kesalahan’, ‘saya tidak diterima diperlakukan demikian oleh orang lain’ dan jerat lainnya. Jeratan lain yang perlu dihindari juga adalah penilaian (judgment) yang berlebihan baik secara positif maupun negatif, misalnya terkait dengan masa lalu maupun masa depan, diri sendiri atau orang lain, atau bahkan menilai penampilan, kehidupan atau bahkan dunia.

Penulis: Tim Psikolog, Universitas Indonesia

Mindfulness means being awake. It means knowing what you are doing!

Mindfulness means paying attention in a particular way, on purpose, 
in the present moment non-judgmentally

-Jon Kabat – Zinn-

Share this:

VIDEO TERKINI

CISDI - Tobacco dalam konteks SDGs

Penanggulangan dampak penggunaan tembakau di Indonesia, khususnya pada perokok pemula atau generasi muda dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs)