ARTIKEL

Isu mengenai pengendalian rokok di Indonesia, terlebih di ibukota, menjadi salah satu isu yang melibatkan banyak sektor. Keterlibatan lintas sektor seperti kesehatan, hak asasi manusia, perlindungan anak, dan pendidikan pun masih menjadi pemain utama dalam  menekan angka prevalensi perokok anak. Namun, kolaborasi lintas sektor tersebut terbilang kurang kuat bila tidak ada keterlibatan aktif dari anak muda dalam pengendalian rokok.      

Salah satu inisiatif anak muda dalam pengendalian rokok adalah PROGRESIF. Program Generasi Sehat dan Kreatif yang dibentuk oleh Center for Indonesia’s Strategic      Development Initiatives (CISDI) dengan tujuan untuk mengedukasi pelajar sekolah tingkat menengah pertama (SMP) terkait rokok melalui kurikulum pengendalian rokok. 

Program Generasi Sehat dan Kreatif (Progresif) telah memulai langkah advokasi terhadap pengendalian rokok sejak tahun 2018 di dua sekolah menengah tingkat pertama (SMP) di Jakarta. Kurikulum yang ditawarkan pun merupakan edukasi seputar rokok melalui pendekatan mata pelajaran sekolah tingkat pertama, misalnya perbandingan harga rokok dengan makanan sehat dalam mata pelajaran matematika, kandungan zat kimia yang ada dalam asap rokok dalam mata pelajaran kimia, dan lain lain. 

Program ini tidak hanya sebagai edukasi terhadap pengendalian rokok, tetapi juga memberikan ruang gerak bagi anak muda untuk ikut terlibat aktif dalam advokasi pengendalian rokok terhadap anak, terlebih perokok anak usia 10-18 tahun. Menurut data Riskesdas 2018, angka prevalensi perokok pada anak usia 10-18 tahun meningkat dari 8,8% di tahun 2016 menjadi 9, 1% di tahun 2018. Upaya advokasi PROGRESIF tentang pengendalian rokok tidak hanya mengacu pada dampak negatif dari merokok, tetapi juga faktor sosial yang mempengaruhi anak untuk merokok seperti iklan rokok, label “keren” untuk si perokok, dan harga rokok yang sangat murah dibandingkan jajanan pada anak seusianya.

Peluang dan Tantangan?

Bonus demografi dapat menjadi jawaban untuk keduanya. Bonus demografi tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian khusus bagi pemerintah dalam menjamin usia produktivitas dalam rencana jangka menengah dan panjang negara. Dengan bonus demografi, anak mudaIndonesia dapat mempersiapkan k  Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul  Namun, harapan tersebut terancam hilang dengan seiringnya peningkatan angka perokok di kalangan pelajar. Selain itu menurut data Global Youth Tobacco Survey tahun 2014 sebesar 69,3% pelajar mengetahui bahaya rokok dari lingkungan sekolah, namun masih ada lebih dari 40% pelajar mengetahui bahaya rokok dari luar lingkungan sekolah. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan rokok masih dianggap sebagai hal yang wajar di lingkungan sosial mereka. Faktanya, peraturan mengenai pengendalian zat adiktif berupa produk tembakau telah diatur oleh PP. No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Peraturan lainnya yang terlibat di dalamnya adalah Undang Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komperhensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan.

Kaum muda sangat diharapkan untuk terlibat secara aktif dan massive dalam mengadvokasikan dan mengedukasikan  bahaya rokok pada kalangan pelajar secara komperhensif, tepat dan mudah diterima sehingga konsumsi rokok pada remaja berkurang. Hal tersebut merupakan suatu peluang besar untuk mensukseskan dan mencapai Bonus Demografi tahun 2045 dalam menciptakan Generasi Emas kedepannya. Selain itu, pemanfaatan media sosial, internet, dan kampanye kreatif seputar pengendalian rokok menjadi cara yang dapat dimanfaatkan oleh anak muda dalam advokasi dan edukasi pada pelajar. Apakah ada peluang lain yang dapat anak muda lakukan untuk pengendalian produk tembakau selain kurikulum pengendalian rokok?

Share this:

VIDEO TERKINI

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)

Nasional Youth Town Hall (Indonesia)