NEWS

Deviana W. Dewi Ajak Pemuda Berpartisipasi Aktif dalam Pembangunan pada Diskusi Parahyangan Model United Nations
Bandung, 2 Maret 2017 – Parahyangan Model United Nations (PMUN), unit kegiatan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung, baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan diskusi bertajuk, “Fostering Youth Empowerment to Achieve Sustainable Development Goals”. Sebagai platform diskusi yang mengangkat tema pembangunan, pembicara yang hadir pun adalah sosok inspiratif yang telah berkontribusi pada pembangunan Indonesia seperti Dr. Brian Sriprahastuti, Senior West Java Manager untuk Save the Children. Selain Dr. Brian, salah satu anggota tim CISDI juga turut diundang sebagai pembicara, yaitu Deviana Wijaya Dewi.

Deviana Wijaya Dewi, atau yang akrab dipanggil Devi, adalah alumni dari prodi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan. Semasa kuliah, Devi aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, khususnya pada Himpunan Mahasiswa HI. Bahkan Devi sering menjadi delegasi Universitas Katolik Parahyangan di ajang Model United Nations internasional, salah satunya adalah Harvard National Model UN di Boston dan World Model UN di Singapura. Setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya, Devi bekerja sebagai project coordinator untuk World Vision Indonesia di Palu. Ketertarikannya dalam bidang pembangunan memperkuat keinginan Devi melanjutkan studi di Institute of Development Studies (IDS), University of Sussex, Inggris. Selama menempuh pendidikan S2, Devi juga mempertajam sensitivitas terhadap isu-isu pembangunan dan gizi melalui keterlibatannya sebagai asisten riset di IDS selama 8 bulan.

Sebagai seseorang yang memiliki pendidikan akademis serta pengalaman profesional di bidang pembangunan, Devi meyakini pemuda sebagai sebuah bagian integral yang tidak terpisahkan dalam pembangunan. “Pemuda adalah bagian yang esensial dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemuda adalah pemikir yang kritis, inovator, pembuat perubahan dan pemimpin. Ada banyak ruang dan kesempatan bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam pembangunan, salah satunya adalah melalui program Pencerah Nusantara.”

Bertindak sebagai Lead for Pencerah Nusantara di CISDI, Devi memahami betul bagaimana pemuda mampu membawa perubahan dalam konteks manajemen maupun praktis sebagai bagian dari percepatan pencapaian SDGs. Pencerah Nusantara adalah sebuah gerakan sosial kepemudaan yang mengirim profesional muda di bidang kesehatan untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Daerah Bermasalah Kesehatan. Hingga saat ini, 146 tenaga kesehatan profesional telah memperkuat pembangunan di bidang kesehatan, khususnya di 16 daerah penempatan dengan cara participatory intervention di puskesmas setempat. Sebagai garda terdepan layanan kesehatan, Puskesmas memiliki peran penting tidak hanya dalam pelayanan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Dalam pelaksanaannya pun, tim Pencerah Nusantara mampu menyentuh berbagai spektrum di luar kesehatan, diantaranya adalah pemberdayaan pemuda, pemberdayaan masyarakat, hingga penggunaan Dana Desa.

“Salah satu praktik baik yang diinisiasi tim Pencerah Nusantara, dalam hal ini tim PN Tosari adalah Laskar Pencerah, sebuah kegiatan pemberdayaan pemuda yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan terkait kesehatan reproduksi bagi remaja. Keberlangsungan kegiatan Laskar Pencerah ini terus dilakukan oleh pemuda setempat setelah PN tidak bertugas lagi di daerah penempatan Tosari. Bahkan baru-baru ini, Laskar Pencerah memenangkan Satu Indonesia Award, sebuah penghargaan tingkat nasional bagi generasi muda yang membawa perubahan di masyarakat di berbagai bidang pembangunan seperti pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, kesehatan, dan teknologi. Inilah bukti nyata bahwa pemuda memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menciptakan perubahan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Devi.

Sebagai penutup acara PMUN, Devi juga menyampaikan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi di tahun 2030 sehingga apa yang dilakukan pemuda saat ini akan menentukan masa depan Indonesia. “Menurut BKKBN, Indonesia diproyeksikan akan mendapat bonus demografi di tahun 2030-2045 dimana penduduk usia produktif akan lebih banyak dibanding penduduk usia tidak produktif. Ledakan penduduk ini bisa menjadi bencana jika tidak dipersiapkan dengan baik. Apa yang bisa kita lakukan saat ini? Find your passion and get exposure!I Kalau kita memiliki ketertarikan dalam isu-isu tertentu, seperti kesetaraan gender, sanitasi dan kebersihan lingkungan, pemberdayaan pemuda ataupun isu-isu lainnya, kita bisa meningkatkan kapasitas kita dalam isu tertentu dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan minat kita. Dengan keterpaparan akan situasi di luar zona nyaman, kita bisa mulai melakukan perubahan dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan negeri ini.”


Penulis : Yeyen Yenuarizki and Deviana W. Dewi

Share this: