NEWS

DIskusi Publik CISDI : Pemuda, Saatnya Kita Bergerak untuk Pembangunan yang Berkelanjutan!
Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2016, CISDI kembali menggelar diskusi publik yang mengusung tema “Pemuda sebagai Penggerak Kolaborasi dan Pemimpin Perubahan di Era Pembangunan Berkelanjutan”. Sesuai dengan topik kegiatan, para narasumber diskusi publik adalah pemuda-pemudi Indonesia terpilih, inisiator gerakan-gerakan kepemudaan yang mampu merubah wajah pembangunan Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor CISDI, Graha Sofyan, Cikini ini dihadiri oleh beberapa perwakilan organisasi kepemudaan, ikatan mahasiswa hingga gerakan relawan turut menghadiri dan berpartisipasi secara aktif sepanjang diskusi berlangsung.


Mengawali kegiatan diskusi publik, Diah Saminarsih, Pendiri CISDI sekaligus Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs, mengingatkan pentingnya ruang berekspresi dan berinovasi bagi para pemuda untuk dapat berkontribusi kepada negeri ini. 
“Selama empat tahun berjalan, Pencerah Nusantara telah membuktikan bahwa dengan memberikan ruang berekspresi dan berinovasi yang sesuai dengan energi dan semangat para pemuda, dampak positif yang dihasilkan akan sangat menggugah. Hal ini menjadi tantangan bagi kita, terutama para orang dewasa. Sanggupkah kita untuk terus konsisten memberikan ruang pada pemuda untuk berkiprah?”
Pada kenyataannya, beberapa pemuda Indonesia telah berhasil mengisi ruang-ruang kosong yang belum dikembangkan oleh generasi sebelumnya. Diantara para pemuda itu adalah Gita Syahrani, seorang pengacara muda sekaligus inisiator gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.
“Why our voice matters? Karena berkolaborasi bersama teman-teman yang memiliki satu visi akan memicu sebuah perubahan. Itu yang terjadi pada gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Selain itu, momentum juga penting untuk memunculkan gerakan kita ke masyarakat. Ketika kami mengkampanyekan gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, di saat yang bersamaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga tengah memprioritaskan program Indonesia Bebas Sampah 2020. Pada akhirnya, KLHK mengeluarkan surat edaran terkait ujicoba diet kantong plastik di 23 kabupaten. Hal ini membuktikan bahwa kolaborasi dengan pemerintah mampu mendorong inisiatif masyarakat dan menciptakan dampak yang lebih luas lagi,” ujar Gita.
Sementara itu, Alles Saragi, Direktur Operasional Sahabat Anak, mengakui bahwa kolaborasi lintas sektor saja tidak cukup. Diperlukan kesadaran diri untuk dapat memfasilitasi semangat pemuda yang senantiasa bertumbuh secara dinamis dimana ide kreatif menjadi kunci keberlanjutan kegiatan. Hal tersebut dialami oleh Sahabat Anak dalam menjaring relawan untuk membantu kampanye Hari Anak Sedunia. 


Kolaborasi di kalangan pemuda bukanlah hal yang tanpa tantangan. Aris Sujoko, Ketua Pencerah Nusantara Angkatan 4, mencatat beberapa tantangan yang kerap kali muncul terutama sebagai bagian dari tim Pencerah Nusantara yang terjun langsung dalam memperkuat layanan kesehatan primer pada level akar rumput.
“Mengubah paradigma masyarakat yang telah memegang teguh budaya mereka merupakan salah satu tantangan terbesar yang kami dihadapi dalam memperkuat akses kesehatan bagi semua. Namun dengan kolaborasi antar elemen masyarakat dan pemerintahan, serta pemahaman yang disepakati terkait manajemen puskesmas, penguatan layanan kesehatan primer sangat mungkin untuk dicapai.”
Proses tumbuh kembang pemuda Indonesia sebagai pemimpin perubahan perlu dimulai sejak dini. Pemenuhan hak-hak anak secara optimal dapat membantu mencetak pionir-pionir perubahan dari kalangan pemuda, seperti yang disampaikan oleh Lenny Rosalin, Deputi Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Kita orang dewasa wajib menjamin pemenuhan hak anak sebagai bagian dari perlindungan terhadap generasi muda. Dengan diwujudkannya kota ramah anak, kami berharap bahwa seluruh elemen masyarakat dapat melahirkan generasi muda yang mampu membawa perubahan positif di era pembangunan berkelanjutan,” tutup Lenny.


Ketika semua pihak menyadari bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas profesi merupakan kunci pembangunan, sudah saatnya bagi pemuda-pemudi Indonesia lainnya untuk terjun langsung menggerakkan kolaborasi dan memimpin pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Mari kita lanjutkan semangat Sumpah Pemuda yang dikobarkan 88 tahun yang lalu sebagai pemantik dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju!


Penulis: Yeyen Yenuarizki

Share this: