NEWS

Gandeng Relawan dari Pendidikan dan Kesehatan Masyarakat, CISDI Lahirkan Program Edukasi Rokok Berbasis Kurikulum Sekolah
Jakarta, 7 Maret 2018 – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) kembali melahirkan program yang bertujuan untuk mengedukasi remaja mengenai bahaya rokok. Program yang didukung oleh Australia Indonesia Centre (AIC) Health Cluster ini dinamai Program Generasi Sehat dan Kreatif (PROGRESIF). PROGRESIF merupakan program promotif dan preventif dalam pencegahan timbulnya keinginan merokok pada usia muda, terutama pada remaja usia 10-13 tahun. Integrasi informasi mengenai dampak bahaya rokok ke dalam kurikulum sekolah menjadi inovasi yang dibawa oleh PROGRESIF. Selain itu, PROGRESIF juga berfokus pada peningkatkan soft skills para pelajar agar tidak terpengaruh tekanan sosial untuk merokok. ?

Sebagai program yang berorientasi pada peningkatan kualitas pemuda di Indonesia, PROGRESIF menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menciptakan generasi muda yang bebas rokok. Oleh karena itu, PROGRESIF mengajak lima anak muda terpilih sebagai relawan. Kelima relawan yang ikut serta adalah Rahmat Hidayat (Universitas Indrapasta PGRI), Afifurrahman Wahid (Universitas Indrapasta PGRI), Mega Atiqah Annatasya (Universitas Indrapasta PGRI), Azma Dwi Wardaty (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Nurul Athifah Amirullah (Universitas Hasanuddin). Dengan latar belakang akademis di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat, relawan akan terlibat langsung dalam implementasi pelatihan PROGRESIF di sekolah.

Dalam mempersiapkan implementasi PROGRESIF di sekolah, kelima relawan tersebut juga diberikan capacity building mengenai kurikulum, silabus, penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), serta substansi rokok. Pembahasan mengenai substansi rokok meliputi kandungan rokok, dampak kesehatan dan sosial ekonomi akibat konsumsi rokok, serta iklan rokok dan perokok pengganti. Beberapa dari materi ini seringkali luput dari pembahasan dampak bahaya rokok di beberapa instansi. Selain itu, para relawan juga diberikan informasi mengenai Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Dilarang Merokok yang saat ini sudah diperkuat oleh Peraturan Daerah di beberapa kota di Indonesia.?

Penerapan PROGRESIF di SMP dan MTs tidak hanya melibatkan tim CISDI dan relawan PROGRESIF terpilih, tetapi juga relawan sebagai pemateri tamu yang berprofesi sebagai praktisi di bidang edukasi dan promosi kesehatan masyarakat. Beberapa relawan praktisi yang memperkuat pelaksanaan PROGRESIF adalah Adinuansah yang merupakan praktisi pendidikan yang telah terlibat sebagai Fasilitator PSSN (Program Sekolah Sehat dan Nyaman); XL Future Leader; Young Leaders for Indonesia (YLI); dan proyek pendidikan Kemristekdikti di Riau. Materi  untuk memperkuat pemahaman edukasi bahaya rokok disampaikan oleh Egi Abdul Wahid, Program Management Coordinator CISDI yang juga merupakan alumni Pencerah Nusantara. Memperoleh gelar master dalam bidang Manajemen Kesehatan Masyarakat di Mahidol University, Thailand, Egi telah memiliki pengalaman dalam bidang pengendalian tembakau yang luas baik secara akademis maupun profesional sebagai praktisi kesehatan masyarakat.

Athifah, salah satu relawan PROGRESIF yang merupakan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, menyatakan, “Saya merasa sangat senang menjadi salah satu peserta Workshop Relawan Progresif, bisa bertemu dan belajar langsung dari fasilitator CISDI yang keren. Selain itu, dengan proses belajar yang santai tapi serius, saya mendapat banyak pemahaman dan pengetahuan baru tentang sistem kurikulum pendidikan di Indonesia dan informasi tentang rokok yang memiliki banyak dampak negatif terhadap kesehatan, sosial, dan ekonomi.”

Azma, Relawan PROGRESIF yang merupakan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan bahwa pendekatan edukasi rokok pada pelajar sekolah melalui kurikulum sekolah yang difasilitasi guru terbilang metode baru dan inovatif. Selama ini, edukasi rokok yang diketahuinya hanya menyasar dari sisi kebijakan atau dengan metode konvensional seperti promosi kesehatan.
“Kalau dari sisi pendidikan, kami jadi paham proses pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Saya juga belajar bahwa perencanaan pendidikan itu kompleks sekali. Tanpa disadari, ternyata pendidikan itu berhubungan dengan bidang kesehatan. Meningkatkan pemahaman kesehatan tidak bisa hanya dari sisi medis atau preventif saja, tapi juga pendidikan,” tambahnya.

Berinvestasi untuk masa depan dengan mencegah penggunaan tembakau oleh kaum muda adalah salah satu cara metode pengendalian tembakau yang komprehensif. CISDI percaya bahwa program pencegahan merokok berbasis sekolah merupakan salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi inisiasi perilaku merokok di masa remaja.

Share this: