NEWS

Ikut Serta dalam Youth Town Hall, Kaum Muda Seluruh Dunia Berkomitmen Menghentikan Tuberkulosis
Global Youth Town Hall, menjadi langkah baru dunia global yang membahas kondisi serta komitmen masa depan mengenai tuberkulosis bersama lebih dari 240 orang muda Indonesia dan mancanegara.  Menjadi wadah bagi pegiat kesehatan dari berbagai latar belakang, Global Youth Town Hall to End TB melibatkan kaum muda untuk berdiskusi, berkomitmen, dan berkolaborasi bersama pemerintah serta komunitas global sebagai langkah menghentikan penyebaran tuberkulosis. 

Tuberkulosis menjadi salah satu prioritas utama dalam sektor kesehatan. Menurut riset Global TB Report (2018) dan IHME (2017), Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan kasus Tuberkulosis tertinggi di dunia, dengan jumlah 842.000 kasus. Selain itu, berdasarkan laporan tersebut, salah satu hal yang turut perlu diperhatikan oleh Indonesia, adalah kondisi dimana 75% pengidap Tuberkulosis berada pada usia produktif. Cita-cita Indonesia untuk mendapatkan generasi emas di tahun 2045 dengan populasi kaum muda usia produktif paling tinggi, dapat terancam apabila kasus penyakit-penyakit yang mempengaruhi produktivitas masyarakat seperti tuberkulosis, tidak ditanggulangi sejak dini.

Angka pengidap TB pada usia produktif menjadi salah satu urgensi bagi Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait isu Tuberkulosis melalui keterlibatan kaum muda sebagai calon aktor utama pembangunan. “Keterlibatan aktif kaum muda sangat dibutuhkan untuk menurunkan angka pengidap tuberkulosis, karena kaum muda memiliki kekuatan yang tidak terbatas untuk mengubah dunia menjadi lebih baik dan tentunya menurunkan angka TB di dunia.” ujar Dr. Tereza Kasaeva, Direktur WHO Global untuk Program TB.

Selanjutnya, kaum muda perlu difasilitasi untuk berkontribusi nyata dan berkelanjutan dalam isu pembangunan dunia. “Indonesia memiliki lebih dari 63 juta kaum muda yang merupakan 26% populasi di Indonesia. Selain itu, partisipasi dari kaum muda penting dilakukan dalam isu pembangunan dunia melalui pembentukan lingkungan yang memungkinkan anak muda ikut terlibat” tutur Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M (K), Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

“Anak muda harus terlibat tidak hanya dalam deklarasi dan penelitian, namun juga memberikan masukan dalam penyusunan kebijakan, bersuara di media, dan menemukan inovasi baru dalam aksi untuk mengakhiri TB. Kaum muda menjadi jembatan untuk mengisi kesenjangan dalam hal penelitian, argumentasi dalam keuangan, maupun multi-sektor” tutur Diah Saminarsih, Pendiri CISDI sekaligus Penasihat Senior Bidang Gender dan Kepemudaan untuk Direktur Jenderal WHO Global.

Suara kaum muda, merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki dunia ini.  Sebagai salah satu aktor utama di masa depan, keterlibatan kaum muda dalam mengentaskan permasalahan pembangunan, perlu didengar oleh masyarakat. “Suara kaum muda sangat penting dan perlu didengar oleh dunia melalui acara berskala global seperti Youth Town Hall TB, karena kita sebagai kaum muda dapat menciptakan kesehatan primer untuk dunia.” tutup Madhusudan, Youth Advocate TB Free World Nepal.

Penulis:
Angga Prabowo

Share this: