NEWS

Ini Bukti Kalau Vaping Sama Berbahaya dengan Rokok













REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- E-rokok alias rokok elektrik memang tidak mengandung nikotin untuk membahayakan kesehatan Anda. Namun, vaping rasa favorit rokok elektrik Anda bisa memberikan berbagai masalah kesehatan yang tidak pernah Anda kira sebelumnya.

E-rokok merupakan sebuah perangkat bertenaga baterai yang dapat mengubah cairan nikotin menjadi uap. Tetapi perangkat ini tidak mengandung tembakau atau sesuatu yang menghasilkan asap. Penelitian menunjukkan, rokok elektronik mengandung lebih sedikit bahan kimia daripada rokok biasa.

Meski dipasarkan sebagai produk "aman", rasa e-cig menimbulkan beberapa risiko kesehatan. Ada sekitar 8 ribu e-liquid flavor yang tersedia di pasaran saat ini.

Sebuah penelitian baru menunjukkan tentang apa yang ada di e-liquid jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. “Telah diketahui bahwa rasa dari e-rokok, terutama aldehida di dalamnya cukup reaktif. Itu dapat membentuk adisi, produk reaksi, dengan pelarut, ”kata Jordt Healthline, peneliti dari American Lung Association, dilansir HealthLine.

Cairan di dalam e-rokok disebut tidak stabil. Pengguna bahkan tidak perlu memanaskannya atau mengoksidasi atau melakukan sesuatu untuk menciptakan reaksi kimia pada e-rokok.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Toxics menemukan bahwa e-liquid yang menguap akan menjadi aldehida yang berbahaya. Dalam studi percontohan kecil, dari 12 peserta, peneliti melakukan analisis kimia dari nafas peserta sebelum dan sesudah menggunakan rokok elektronik.

Mereka menemukan bahwa konsentrasi rata-rata aldehida dalam nafas sepuluh setengah kali lebih tinggi daripada sebelum vaping.

Selain itu, konsentrasi bahan kimia berbahaya seperti formaldehid dalam nafas adalah "ratusan kali lebih rendah" daripada di dalam uap itu sendiri.

Para peneliti pun menyimpulkan bahwa jumlah yang signifikan sedang ditahan di saluran pernapasan pengguna. Dalam beberapa kasus, paparan formaldehida sebanding dengan rokok tradisional.

"Tidak dapat diterima bahwa pengguna e-rokok diberi tahu oleh industri rokok bahwa produknya aman dan pada saat yang sama mereka menghirup bahan kimia beracun ini," tulis laporan peneliti.

Menurut peneliti, fakta ini menunjukkan bahwa industri tembakau tidak berubah sama sekali. Diacetyl, komponen untuk rasa mentega dan krim dalam jus e-cig, telah menyebabkan pekerja pabrik pembuatan popcorn microwave di AS menjadi sakit dan tewas.

Peneliti mengetahui bahwa bahan kimia di dalamnya berbahaya. Mungkin yang paling membingungkan adalah tentang respons lambat FDA terhadap banyaknya penelitian tentang efek merusak dari perasa e-cair ini.

“Beberapa perasa ini memiliki rekam jejak yang sangat buruk,” kata Dr. Jacqueline Moline, wakil presiden, kedokteran kerja, epidemiologi, dan pencegahan, Kesehatan Northwell, Manhasset, New York.

Penelitian telah menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir efek beracun dari cinnamaldehyde, vanillin, dan diacetyl pada paru-paru ketika diuapkan dalam e-rokok. Tetapi bahan kimia ini akan diteliti lebih jauh oleh badan pengatur Keselamatan dan Kesehatan Administrasi (OSHA) dan Lembaga Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH).

OSHA sebenarnya sudah menemukan jika vanillin dan cinnamaldehyde teridentifikasi bisa merusak mata, kulit, dan membuat iritasi pada pernafasan.

Share this: