NEWS

Laseria, Salah Satu Pencegah Penyakit Tidak Menular












Tentu sudah tak asing lagi bagi kita mendengar tentang Penyakit Tidak Menular (PTM), di antaranya Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJPD), Hipertensi, Diabetes, Asam Urat, kolesterol tinggi, dan masih banyak lagi. Menurut Kementerian Kesehatan dan beberapa hasil riset, golongan penyakit ini disinyalir muncul akibat gaya hidup sehari-hari yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan yang tidak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang berkurang merupakan dampak dari semakin banyaknya hal yang dapat dilakukan dengan instan. 

PTM semakin perlu diperbincangkan, mengingat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan. Menurut laporan World Health Organization (WHO), tercatat sebanyak 36 juta dari total kasus kematian yang terjadi di dunia disebabkan oleh PTM. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini merupakan kondisi nyata transisi epidemiologi yang menjadi tantangan baru, besar dan serius bagi dunia saat ini. Pergeseran tren dari penyakit menular ke penyakit tidak menular secara global akan sangat mencuri perhatian. Bahkan, WHO memproyeksikan penyakit tidak menular akan menjadi penyebab kematian secara global selama 20 tahun ke depan. Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular memberi dampak yang sangat besar, baik pada morbiditas yang dialami si penderita yang menyebabkan hilangnya produktivitas dan menyebabkan kerugian ekonomi, maupun peningkatan beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung oleh negara. 

Tentu saja biaya yang dibutuhkan untuk menanggulangi penyakit tidak menular ini sangat mahal, terlebih jika kondisi penderita sudah memasuki tahap komplikasi dan terus berkembang sampai bertahun-tahun. Data yang diambil dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI membuktikan bahwa penyakit tidak menular berpotensi menghabiskan biaya pengobatan yang cukup besar bila dibandingkan dengan biaya pengobatan penyakit menular. Seperti pembiayaan pada tahun 2012, tercatat pembiayaan Hemodialisis pada kasus Gagal Ginjal Kronik (GGK) misalnya, adalah sebesar Rp. 227.493.526.119,- dan pada penyakit Kanker sebesar Rp. 144.689.231.240,- sementara pembiayaan untuk TBC hanya sebesar Rp. 106.502.636.171,-. Sementara di tahun 2016 menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan pembiayaannya menghabiskan hampir 14,6 triliun Rupiah dan tahun sebelumnya adalah menghabiskan hampir 14,3 triliun Rupiah. Paling besar biayanya adalah untuk penyakit jantung, di mana terjadi peningkatan pembiayaan dibanding tahun 2015, yakni dari 6,9 triliun Rupiah (48,25%) menjadi 7,4 triliun Rupiah (50,7%) pada 2016. Biaya-biaya yang tidak sedikit, terlebih dengan banyaknya jenis PTM, tentu menjadi beban ekonomi yang luar biasa.

Puskesmas, sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, perlu turut menghadirkan solusi untuk memerangi PTM bersama-sama secara lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Salah satu kreativitas Puskesmas Onembute untuk menekan PTM adalah dengan melaksanakan Program Laseria, sebuah inovasi berupa kegiatan untuk membantu mencegah dan mengendalikan prevalensi PTM melalui deteksi dini dan memperbanyak aktivitas fisik seperti senam. 

Berkat kerjasama yang baik antara Puskesmas, Pemerintah Desa, Kader Kesehatan, dan masyarakat, kegiatan ini sudah konsisten berjalan di semua desa dan kelurahan yang ada di Kecamatan Onembute dan sudah masuk tahun ke-tiga. Dalam prosesnya, Puskesmas bertanggung jawab atas pemberian pelayanan, yaitu dengan menugaskan petugas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan penyuluhan guna  menanamkan paradigma sehat sebagai modal untuk mengubah perilaku. Pelayanan tersebut diperkuat dengan gigihnya kader kesehatan desa untuk menggerakkan masyarakat agar mau ambil bagian dalam Laseria. Sebagai bentuk dukungan, Kepala Desa turut berkontribusi melalui alokasi dana desa guna membantu keberlangsungan program Laseria, seperti pembelian alat-alat kesehatan yang dibutuhkan di Posbindu, dan pembelian strip pengecekan kesehatan rutin. 

Di program Laseria ini kita seneng, bisa kumpul-kumpul sambil senam jogetan, terus diajarin juga apa-apa yang baik untuk dimakan, sesuai sama kondisi badan masing-masing..sekarang udah pada tau, kalau Asam Urat tinggi gak boleh sering makan kacang-kacangan, kalau hasil gulanya tinggi harus minum obat dan ngurangin yang manis-manis, terus kalau kolesterol gak boleh sering makan daging, apalagi jeroannya, ibu-ibu mulai pada sadar milih makanan, saya juga” ungkap seorang kader di desa. “Saya suka dicek tekanan darahnya, kalau-kalau lagi tinggi sampe 140 saya jadi tau dan bisa ngurangin yang asin-asin” tambah ibu-ibu peserta Laseria.

Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat 7 dari 20 orang di Indonesia di atas usia 18 tahun mengidap Hipertensi dan 1 dari 50 orang usia 25-34 tahun mengidap kanker di tahun 2018. Kegiatan Laseria dapat menjadi program alternatif untuk diadopsi dan direplikasi oleh daerah lain sebagai bentuk komitmen dalam mencegah laju PTM. 


Penulis: Bintang Kasih, Pencerah Nusantara VI Konawe

Share this: