NEWS

Pembangunan Kesehatan dalam SDGs dan Peranan Akademisi dalam partisipasi pencapaian SDGs
Pada hari Jumat, 10 Agustus 2018, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) FKM UI 2017 mengadakan sebuah kegiatan yang bernama Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF) 2018 di Auditorium Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK), Universitas Indonesia Kampus Depok. Dalam acara ini, CISDI diundang untuk hadir dan membawakan materi pada seminar keilmuan sesi 3 yang bertajuk “Pembangunan Kesehatan dalam SDGs dan Peranan Akademisi dalam partisipasi pencapaian SDGs: Evidence Based untuk Pembangunan Indonesia”. Selain CISDI, kegiatan ini juga dihadiri oleh pembicara dari SDGs Center Universitas Padjajaran yang membawakan materi tentang peran akademisi dalam pencapaian SDGs.

CISDI diwakili oleh Egi Abdul Wahid, atau yang akrab disapa Egi, selaku program coordinator CISDI. Dalam paparannya, Egi menyampaikan mengenai sejarah upaya implementasi kerangka kerja pembangunan global di Indonesia. Menurut Egi,  MDGs merupakan kerangka kerja awal pembangunan global. MDG masih menyisakan beberapa target MDGs yang belum tercapai. “Dalam MDGs sendiri, sebenarnya sudah ada target yang tercapai seperti contohnya penurunan angka kematian pada anak. Namun, di saat yang bersamaan MDGs juga meninggalkan pekerjaan (target-target) yang belum selesai seperti masih tingginya angka kematian ibu”, ujar Egi. Sehingga, saat ditransformasikan menjadi SDGs, terdapat beberapa target tambahan yang lebih komprehensif dan lintas sektoral, terutama pada bidang kesehatan.

Sifat dari SDGs yang berpijak dari lima pilar, yaitu: People, Planet, Prosperity, Partnership dan Peace, membuat setiap indikator yang ada di dalamnya saling berkaitan satu sama lain. “Kesehatan bisa menjadi menjadi input sekaligus output dari pencapaian SDGs. Hal ini yang kemudian menjadikan isu kesehatan menjadi menarik untuk dijadikan bahan penelitian, pengabdian, serta pengembangan pada era pembangunan hingga tahun 2030 mendatang. Inovasi diperlukan dari para ahli kesehatan masyarakat melalui pendekatan akademik maupun intervensi kesehatan langsung”, ujar Egi. Dalam SDGs sendiri, isu kesehatan termasuk dalam pilar tujuan ketiga yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”.  Terdapat sembilan target dan empat means of implementation yang harus dicapai dalam pilar tujuan ini, di antaranya menyangkut mengenai penyakit epidemik HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, kecelakaan lalu lintas, kesehatan reproduksi hingga kesehatan ibu dan anak.

Untuk Indonesia sendiri, yang populasinya mencapai 254 juta orang dan tersebar ke 17.000 pulau, isu-isu kesehatan mempunyai tantangan tersendiri. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012, ditemukan data bahwa dari 100.000 kelahiran anak, sebanyak 359 ibu meninggal dan Indonesia menduduki menduduki posisi pertama sebagai negara dengan angka kematian ibu tertinggi di ASEAN. Selain itu, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 membuktikan bahwa sebanyak 37.2% balita menderita stunting bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Mengenai fasilitas kesehatan sendiri, telah ditemukan data dari Laporan Akhir Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011 bahwa dari 9.500 fasilitas kesehatan primer, sebanyak lebih dari 50% tidak dapat memenuhi standar pelayanan minimu atau bahkan ditinggalkan.

Demi mencapai target-target tersebut dan menciptakan solusi untuk permasalahan kesehatan yang ada di Indonesia, CISDI sebagai organisasi yang menjadikan kesehatan sebagai jangkar pembangunan memiliki beberapa program yang berkaitan dengan SDGs, seperti pengendalian tembakau yang dilakukan dengan dua sisi: kebijakan melalui advokasi kenaikan cukai rokok dan aksi langsung menyasar kelompok paling rentan dalam pengendalian tembakau yaitu siswa sekolah. Dalam konteks yang lebih luas, CISDI memiliki program yang bernama ‘Pencerah Nusantara’. Pencerah Nusantara adalah sebuah gerakan yang berbasis kolaborasi dengan tujuan untuk menciptakan paradigma kesehatan yang baru dengan meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan primer. Gerakan ini memiliki fokus pada penguatan pelayanan dasar melalui pengiriman tim tenaga kesehatan ke daerah terpencil dan bermasalah kesehatan. Program ini termasuk paling banyak menggunakan tenaga kesehatan masyarakat sebagai salah satu penggerak. Kompetensi tenaga kesehatan masyarakat sebagai manager, konseptor serta evaluator sangat diperlukan dalam menjalankan program yang sesuai kebutuhan masyarakat serta inovatif.

Peran tenaga kesehatan masyarakat di era pencapaian SDGs sangat berpengaruh dimana mereka bekerja. Menurut Egi, terdapat empat sektor yang bisa menjadi wahana implementasi aksi untuk SDGs. Pertama sebagai pemerintah. Pemerintah layaknya bisa menyiapkan indicator dan regulasi yang mendorong ketercapaian SDGs. “Berdasarkan pengalaman kami di 16 lokasi Pencerah Nusantara, keterlibatan pememerintah daerah sangat penting dalam pencapaian better health outcome.” Kedua sebagai akademisi, melakukan penelitian dan kajian yang spesifik berfokus pada intervensi yang efektif menyelesaikan permasalahan kesehatan. “Kalau melihat dari pengalaman PN selama enam tahun di lapangan, kajian-kajian ilmiah tentang intervensi yang efektif sangat kurang ini menjadi gap dalam pembangunan kesehatan kita.” Yang ketiga sebagai pengusaha. “Keterlibatan dunia usaha dalam pencapaian SDGs sangat penting karena dari semua target yang ada jikapun harus dibiayai APBN hanya bisa menyelesaikan 25% target. Sedangkan masih ada 2/3 target yang membutuhkan kontribusi dunia usaha.” Dan yang ke empat sebagai masyarakat sipil (CSO) dan media dimana peran ini sangat penting untuk mengakuntabilitasi pembangunan. “CISDI selama ini mengambil peran pada sisi ini, melakukan inovasi yang tidak terbatasi dengan stuktur koordinasi yang lebih rigid seperti di pemerintahan dan dunia usaha, peran ahli kesehatan masyarakat dalam sektor ini akan menjadi pemancing inovasi pada tiga sektor lain.”

Sebelum bekerja di CISDI sebagai program coordinator, Egi menyelesaikan program sarjananya di Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan program magisternya di Mahidol University Thailand dengan gelar Master of Primary Health Care Management (MPHM). Egi juga merupakan seorang alumni Pencerah Nusantara yang dulunya bekerja sebagai perawat kesehatan masyarakat di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah pada tahun 2012-2013. Ketertarikan Egi dalam peningkatan kesehatan primer, pemberdayaan tenaga kesehatan dan isu pengendalian tembakau membawa dirinya untuk mengembangkan program edukasi mengenai pengendalian tembakau, menjalankan penelitian mengenai beban ekonomi yang disebabkan oleh tembakau, memberikan edukasi mengenai kesehatan kepada anak-anak muda dan memberikan bantuan untuk pengembangan i-Care, sebuah platform digital untuk layanan homecare di wilayah Jakarta. Keahliannya dalam bidang pengembangan program kesehatan, project management, dan pemberdayaan masyarakat diakui secara luas dan membuatnya sering diundang sebagai dosen tamu, pembicara dan pelatih.

Share this: