NEWS

Pencerah Nusantara Ajak Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Berikan Kontribusi untuk Indonesia

Jumat, 18 Desember 2015 - CISDI kembali mengadakan Campus Visit dengan berkunjung ke Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan. Kunjungan dilakukan dalam rangka sosialisasi program Pencerah Nusantara, yang saat ini sedang membuka aplikasi untuk angkatan keempat. Peserta yang terdiri sekitar 200 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ini ikut meramaikan acara ini. Diah Saminarsih, pendiri dan inisiator dari Pencerah Nusantara yang saat ini juga menjabat sebagai Staf Khusus, membuka acara dengan paparan mengenai bagaimana gerakan ini lahir dari upaya percepatan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) di Indonesia.

“Kebanyakan isu kesehatan yang kini kita hadapi bisa ditelusuri ke permasalahan di sistem pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Padahal, sebagai  sistem layanan publik yang paling dekat ke masyarakat, harusnya sistem ini menjadi garda terdepan yang menjaga status kesehatan masyarakat di Indonesia. Itulah kenapa ada Pencerah Nusantara atau PN. Masyarakat perlu merubah cara pandang dan pola pikir terkait bagaimana menggunakan layanan kesehatan  di Indonesia”, tutur Diah Saminarsih.

Beliau kemudian menggambarkan bagaimana PN dari awal didesain dengan semangat kolaborasi. Sejak diskusi awal penyusunan konsep model gerakan ini, kontribusi aktif dan masukan dari berbagai sektor, baik dari pihak pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil telah diakomodir. Model kemitraan inipun terus berlanjut hingga masa rekrutmen, pelatihan, penempatan di daerah, bahkan ke pengawasan dan evaluasi. Semua ini menjadi elemen penting bagaimana dalam periode waktu 3 tahun saja, PN bisa menghasilkan dampak yang begitu besar pada wajah layanan publik di Indonesia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan paparan dari Direktur Program CISDI, Anindita Sitepu, terkait penjabaran program Pencerah Nusantara itu sendiri. Beliau menjelaskan, “Proses yang harus dilalui seseorang untuk menjadi Pencerah Nusantara itu sangat panjang. Tidak semua orang bisa menjadi Pencerah Nusantara. Kami berharap proses seleksi yang ketat ini bisa menghasilkan orang-orang pilihan yang tahan banting dan siap menghadapi segala kesulitan yang akan ditemui nanti. Dengan begitu, kami harap mereka yang sudah melalui pengalaman ini betul-betul akan bisa menginspirasi, baik diri sendiri, rekan satu tim, masyarakat daerah penempatan nanti, maupun orang-orang dari daerah asal masing-masing.”

Setelah paparan dari dua narasumber ini, acara dilanjutkan ke sesi diskusi. Dipandu oleh Egi Abdul Wahid, alumni UIN Syarif Hidayatullah dan Pencerah Nusantara angkatan pertama, diskusi ini diisi oleh tiga alumni Pencerah Nusantara dengan latar belakang yang bervariasi, namun semua dengan segudang prestasi dan pengalaman menakjubkan. Alumni pertama yang berbagi di sesi ini adalah Fairuziana Humam, Pencerah Nusantara angkatan pertama penempatan Tosari. Fai yang kini sedang melanjutkan studi S2 di Penn State University, Amerika Serikat, menceritakan bagaimana dia sempat berbeda pendapat dengan orang tuanya terkait keputusannya mengikuti Pencerah Nusantara. “Namun, pada akhirnya, saya merasa perlu memperkaya diri dengan pengalaman lapangan, untuk melengkapi segala ilmu teori yang telah saya dapatkan di bangku kuliah” tuturnya.

Kemudian, cerita dilanjutkan oleh Nurmalasari, alumni Pencerah Nusantara angkatan ketiga penempatan Mentawai. Lulus dengan predikat wisudawan terbaik Universitas Airlangga, Mala menceritakan bagaimana dia terinpisirasi untuk turun langsung ke masyarakat setelah mendapat kunjungan dari Presiden SBY semasa di bangku kuliah. Berbicara di depan para mahasiswa penerima beasiswa DIKTI untuk pendidikan S1, SBY mengingkat Mala dan teman-temannya bahwa sebagai orang-orang pilihan yang diberi amanah negara melalui biaya pendidikan ini, mereka harus mau kembali lagi untuk melayani masyarakat dan membantu meningkatkan segala potensi yang mereka miliki. “PN menjadi wadah terbaik bagi saya untuk berbalas budi kepada Indonesia” ungkap Mala.

Sesi berbagi terakhir diisi oleh dr. Udin Shaputra Malik, alumni Pencerah Nusantara angkatn ketiga penempatan Tosari. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini bercerita bahwa dia pertama mendengar mengenai Pencerah Nusantara dari salah satu seniornya. Saat itu, Udin lulus dengan IPK 4.0, dan sudah mendapat beberapa tawaran untuk melanjutkan karirnya. Namun, ia akhirnya memutuskan bahwa satu tahun mungkin bukan waktu yang lama baginya untuk sedikit menunda karirnya, namun menjadi waktu yang sangat berarti untuk masyarakat yang bisa dibantunya. “ Saat sudah di daerah, IPK 4.0 menjadi tidak berarti, karena justru kita yang belajar banyak dari mereka” ujar Udin.

“Banyak pembelajaran yang saya dapatkan saat terjun langsung untuk melakukan aksi nyata ke masyarakat. Satu hal yang saya pelajari adalah jangan bertanya tentang apa yang telah kamu berikan kepada masyarakat, tetapi tanyakan apa saja yang masyarakat telah berikan kepadamu. Karena sebetulnya, apa yang masyarakat berikan jauh lebih besar daripada yang kau berikan kepada masyarakat, yaitu nilai tentang kehidupan.”, ungkap Udin menutup ceritanya.

Setelah sesi tanya jawab dengan peserta, kegiatan ditutup dengan acara kuis Pencerah Nusantara, yang dipandu oleh Gatot Suarman. Menguji perhatian para peserta, Gatot memberikan beberapa pertanyaan seputar lokasi Pencerah Nusantara, proses pendaftarannya, dan kriteria yang harus dimiliki sebelum mendaftar. Peserta yang mampu menjawab dengan baik, serta mereka yang aktif nge-tweet selama acara di sosial media, diberikan buku “Kisah 7 Penjuru” tentang kegiatan Pencerah Nusantara di lapangan. Akhirnya, setelah 2 jam yang terasa berlalu begitu cepat, acara pun ditutup. Namun, tidak sebelum CISDI memberikan pesan dan harapan terakhir.

“Harusnya sekitar 18% penduduk Indonesia yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi mau turun ke lapangan dan mendorong masyarakat lain untuk mau meninggalkan kemiskinan” tutur Diah Saminarsih.

Semakin banyak pemuda yang tergerak untuk turut membangun kesehatan di seluruh daerah, maka akan semakin terwujud lah kesetaraan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di Indonesia.

“Kalau kita kerja bersama-sama, kami percaya Indonesia akan semakin baik”, tutup Anindita Sitepu.


Penulis: Adi Bayuputra Sarosa

Share this: