NEWS

Peran Millennials dalam Pembangunan Kesehatan Melalui Aksi Yang Berdampak










Generasi millennials terbagi antara early millennials, mereka yang lahir pada tahun 1981 dan setelahnya, dan younger millennials yang lahir tahun 1996 dan setelahnya. Generasi Millennials  ini adalah generasi penerus bangsa yang akan menjadi aktor dari pembangunan negara melalui kontribusi ide-ide kreatif yang diterjemahkan ke dalam gerakan atau tindakan yang berdampak bagi masyarakat. Sehubungan dengan hal ini, Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) XIII ISMKI 2018 dengan tujuan untuk memperluas wawasan serta mempersiapkan mahasiswa kedokteran dalam menyiapkan tercapainya tujuan negara “Indonesia Sehat 2025” dan membangun pergerakan mahasiswa kedokteran yang selaras dan padu antar institusi dan ISMKI. 

Pada RAKORNAS-ISMKI XIII ini, ISMKI mengadakan Millenials Talk dengan tema “The Role of Millenials to Improve Nation Health through Impactful Action” yang mengundang beberapa narasumber untuk menyajikan materi tentang topik terkait dengan dr. Mochammad Fadjar Wibowo, MSc dari CISDI sebagai salah satu pembicara. 

Fadjar berpendapat bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait pembangunan kesehatan. Salah satu masalah kronis pembangunan kesehatan bangsa ini adalah tingginya Angka Kematian Ibu. "Angka kematian ibu di Indonesia sebesar 359/100.000. Capaian ini sangat jauh dibanding negara tetangga Malaysia yang berhasil menekan angka kematian ibu kini hingga 27/100.000 dan Singapura yang telah mencapai 3/100.000”, ujar Fadjar. Indonesia pun menduduki peringkat pertama negara dengan angka kematian ibu tertinggi nomor 3 di ASEAN, setelah Laos dan Kamboja. Angka kematian ibu selain merepresentasikan kondisi sosial masyarakat juga merupakan indikator ketersediaan dan aksesibilitas sumber daya kesehatan yang meliputi fasilitas, tenaga, dan program kesehatan.

“Di Indonesia, setengah dari 9500 Puskesmas di beroperasi di bawah standar yang ditentukan. Padahal Puskesmas memiliki peran krusial sebagai garda terdepan kesehatan”, kata Fadjar. Oleh karena itu, akses ke Puskesmas dan kualitasnya sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama perlu ditingkatkan.

Seiring dengan disepakatinya Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang memiliki 17 tujuan dan 169 target yang harus dicapai dan bersifat lintas-sektoral, termasuk di dalamnya mengenai kesehatan, Fadjar mengungkapkan bahwa upaya pembangunan kesehatan berpeluang untuk melibatkan peranan berbagai pemangku kepentingan karena SDGs adalah sebuah kesatuan sistem pembangunan. Salah satu yang dilibatkan dalam pembangunan ini adalah para pemuda yang merupakan 26% dari populasi atau setara dengan sekitar 65 juta jiwa.

Pada tahun 2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi dengan jumlah pemuda mencapai 75 juta dan Indonesia akan mencapai titik terendah ketergantungan populasi terhadap usia produktif, ketika jumlah individu produktif relatif banyak dalam mengimbangi kebutuhan populasi yang tidak produktif.  

“Geografis negeri ini yang tersebar dari Sabang sampai Merauke perlu diimbangi dengan persebaran pemuda-pemudi berkualitas untuk mendukung akses pembangunan yang setara, termasuk akses kesehatan. Sehingga tidak berlebihan jika saat ini Indonesia harus sudah mulai memberdayakan secara maksimal peran pemuda untuk menjawab tantangan-tantangan pembangunan yang ada, salah satunya adalah tantangan di dunia kesehatan”, kata Fadjar.

Salah satu jawaban yang diberikan CISDI, sebagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan, untuk tantangan yang sedang dialami Indonesia saat ini adalah hadirnya program Pencerah Nusantara. Pencerah Nusantara adalah suatu wadah bagi para pemuda untuk berkontribusi dalam pembangunan kesehatan Indonesia melalui penguatan layanan kesehatan primer. Pencerah Nusantara sebagai sebuah platform bagi profesional muda, baik yang memiliki latarbelakang di bidang kesehatan maupun bidang  selain kesehatan bahkan ilmu sosial, untuk dapat melakukan intervensi integratif yang inovatif, termasuk menggiatkan kemitraan lintas sektor di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) telah terbukti membawa perubahan positif. “Hal ini bisa dibuktikan melalui peningkatan capaian performa Puskesmas penempatan Pencerah Nusantara di tujuh lokasi semasa cohort I (2012-2015) dan sembilan lokasi penempatan pada cohort 2 (2015-2018)”, ujar Fadjar. Capaian pada cohort I inilah yang menjadi dasar diadopsinya konsep Pencerah Nusantara oleh Kementerian Kesehatan menjadi program Nusantara Sehat.

Fadjar percaya bahwa Millennials memegang peran yang sangat penting untuk masa depan Indonesia, khususnya di bidang kesehatan. Menurutnya, millennials memiliki modalitas yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Modalitas tersebut meliputi konektivitas, akses data dan informasi yang begitu luas, metode riset yang advanced dan mudah didapat, serta strategi digital marketing dan artificial intelligence yang dapat diterapkan untuk melakukan inovasi dalam kegiatan riset, pengembangan program, hingga advokasi.

Ketika ditanya oleh salah seorang peserta mengenai cara untuk mengoptimasi segala sumber daya yang ada, Fadjar menjawab “Find the right organizations to work with and to learn from, and don't get settled before 30.” Sebagai koordinator divisi Outreach and Partnership CISDI, Fadjar juga menyampaikan bahwa berjejaring dan membangun relasi publik yang tepat adalah sumber daya yang dapat dioptimalkan untuk mendapatkan lebih banyak dukungan baik dukungan teknis, expertise, maupun pendanaan bagi inisiatif para Millenials. “Stakeholder dan actor mapping dapat membantu kita untuk menentukan siapa atau institusi apa yang perlu didekati, diajak berdiskusi, eksplorasi hingga implementasi kerja sama”, kata Fadjar.

Menurut pengamatannya, Fadjar mulai menyaksikan saat ini identitas “jas putih”, nama besar institusi dan insentif finansial kini tidak menjadi prioritas utama para Millennials lulusan Kedokteran. Saat ini semakin banyak alumni kedokteran yang berfokus meningkatkan kapasitas dan mengembangkan diri di luar bidang medis klinis dan spesialistik semata seperti di bidang kesehatan digital, ekonomi kesehatan, hingga kebijakan kesehatan, terutama dengan semakin banyaknya peluang beasiswa dari pemerintah Indonesia maupun negara luar.

Sebagai figur yang juga berlatar belakang kedokteran, Fadjar berkata bahwa menciptakan dampak sosial di masyarakat umumnya merupakan tujuan yang millenials kedokteran ingin capai. “Kesehatan masyarakat suatu negara yang ditentukan oleh faktor medis klinis hanya sekitar 25 – 30%, selebihnya ditentukan oleh faktor sosial, ekonomi dan lingkungan. Jika berkontribusi dalam skala negara atau lebih dari itu adalah meaning dan purpose yang ingin diraih, pendidikan kedokteran bukan akhir pencapaian Millennials, tapi awal proses pengembangan diri berkelanjutan yang berorientasi pada kontribusi sosial.”, tutup Fadjar.

dr. Mochammad Fadjar Wibowo, MD, MSc. yang meraih gelar profesi dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 2014 dan menyandang gelar Master in Global Health setelah menyelesaikan studi  di Karolinska Institutet, Swedia pada tahun 2015 saat ini bekerja sebagai koordinator divisi Outreach and Partnership di CISDI. Sebelum bergabung di CISDI, Fadjar pernah bekerja di KlikDokter.com sebagai Chief Editor & Medical Operation dan Abdul Jamil Poverty Action Lab (J-PAL) sebagai Research Associate. Fadjar memiliki ketertarikan di bidang pencegahan penyakit tidak menular, penguatan sistem kesehatan dan diplomasi kesehatan. Fadjar juga sangat tertarik dalam menggabungkan keahlian kesehatan dan pembangunan global serta kecakapan bisnis untuk memajukan layanan kesehatan masyarakat di daerah bermasalah kesehatan dan tertinggal.

Share this: