NEWS

Perkumpulan Komunitas-Komunitas Peduli Kesehatan dalam (Indonesia Enlightenment Exhibition) 2015

Bandung, 5 Desember 2015 – Kesehatan bukan hanya permasalahan pada tenaga kesehatan terkait saja, seperti dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya, melainkan permasalahan kita bersama. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran mengadakan acara “Indonesia Enlightenment Exhibition”, yang mengundang komunitas-komunitas serta organisasi yang memiliki ‘keterbebanan’ dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Keanekaragaman latar belakang dari para penggerak dalam komunitas-komunitas tersebut juga menjadi salah satu bukti bahwa semua elemen yang peduli akan pembangunan kesehatan turut berpartisipasi.

CISDI mendapat kesempatan untuk menjelaskan mengenai kegiatan aksi nyata yang dilakukan, serta menjadi pembicara dalam seminar yang mengundang beberapa komunitas kesehatan lainnya, seperti Doctor Share, Indonesia Medika, Volunteer Doctor, Blood for Life, dan komunitas-komunitas lainnya.

“Acara ini mengajak teman-teman yang hadir di sini untuk turut melakukan inovasi dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dengan cara yang tidak biasa!”, kata Andreas Kurniawan, selaku moderator seminar serta penulis “Buku Ajar Koas Racun”.

Peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan non mahasiswa FK UNPAD ini, sudah memadati tempat duduk yang disediakan di Ballroom Gedung Eyckman, Universitas Padjajaran, Bandung.

CISDI, yang diwakili oleh Adi Sarosa, Outreach and Partnership Coordinator, turut menjadi pembicara dalam seminar bersama Valencia, penggagas Blood for Life, dan dokter Lie Dharmawan, penggagas Doctor Share serta penggagas rumah sakit apung.

“Yang menjadi concern saya dalam membuat komunitas ini adalah permintaan yang semakin banyak dari lapangan akan ketersediaan kantong darah, tapi PMI tidak mumpuni menanggapi semua permintaan tersebut. Maka saya mengumpulkan relawan yang bersedia menyumbangkan darahnya, lalu kami kirim ke pihak yang membutuhkan.”, ungkap Valencia.

Masing-masing pembicara, melalui moderator, menjelaskan secara singkat motivasi membentuk komunitas yang saat ini mereka jalani. Kepedulian serta keinginan untuk membantu orang lain tanpa memikirkan apa yang akan didapat setelah membantu, menjadi modal awal yang mereka miliki untuk menggagas sebuah komunitas. Terbentuknya Pencerah Nusantara pun juga berawal dari kepeduliaan akan perbaikan serta peningkatan layanan kesehatan di tingkat primer, di mana peserta yang menjadi bagian dari Pencerah Nusantara tidak hanya berasal dari latar belakang kesehatan saja.

“Membantu orang tidak dilihat dari siapa yang membantu, tetapi bagaimana ketulusan mereka membantu, dan hal tersebut bisa datang dari siapa saja, termasuk mahasiswa.”, tanggap Adi.

Suasana booth CISDI

Usai seminar, para peserta melihat pameran komunitas-komunitas kesehatan yang terdiri dari beberapa booth. Setiap komunitas menampilkan foto-foto, video, dan bentuk kegiatan lainnya yang pernah dilakukan oleh komunitas-komunitas tersebut, termasuk CISDI.

Para pengunjung memiliki rasa penasaran serta ingin tahu lebih dalam mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang dimiliki oleh CISDI, termasuk program Pencerah Nusantara. Reaksi dari para peserta pun berbeda-beda saat mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan oleh CISDI.

“Saya ingin sekali ikut Pencerah Nusantara, tapi sayang saya masih koas. Tunggu saya 2 tahun lagi ya!”, ujar salah satu pengunjung yang sedang menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Kedokteran UNPAD.

Semakin banyaknya komunitas serta keikutsertaan mahasiswa akan turut membantu meningkatkan angka pembangunan kesehatan di Indonesia.

“Karena sesungguhnya, pembangunan kesehatan nasional bukan hanya tanggungjawab pemerintah, melainkan tanggungjawab bersama.”, ungkap Dokter Andreas Kurniawan.

Setelah acara selesai, CISDI dan komunitas yang turut berpartisipasi dalam acara IEE 2015 diberikan sertifikat sebagai ucapan terima kasih atas keikutsertaan dalam acara tersebut.

 

 

Penulis: Hadassah A. T.

Share this: