NEWS

Persiapkan Pemuda untuk (Berantas) Rokok di Kalangan Remaja: Generasi Kreatif Penggerak Nusantara

Jakarta, 17 Desember 2015 – Dewasa ini, perilaku merokok pada usia 15 – 19 tahun naik 144% dalam renyang waktu 1995 – 2004, berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak hal, di mana salah satunya adalah perilaku merokok oleh orang dewasa yang tinggal bersama dengan kalangan remaja tersebut. Jika hal ini terus dibiarkan, maka perilaku merokok pada usia remaja akan semakin banyak dan tidak terkendali.

Mengantisipasi hal tersebut, hari Kamis, 17 Desember 2015 di Bakoel Koffie, CISDI mengadakan diskusi yang focus pada upaya pemberdayaan remaja terhadap perilaku merokok. Selain berbagi informasi dan pengalaman, diskusi ini juga tertujuan mendukung kelanjutan program ‘Generasi Kreatif Penggerak Nusantara’ yang telah diinisiasi CISDI untuk pemberdayaan pemuda terhadap perilaku merokok di masa mendatang.

Diskusi dihadiri oleh berbagai pihak antara lain dr. Lily S Sulistyowati, MM – Direktur Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI; dr. Soewarta Kosen – Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI;  dan Diah Saminarsih – Pendiri CISDI dan Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs. Hadir pula dalam diskusi ini Drs. H. Tadjudin Nur, MM - Kepala Dinas SMP, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dr. Nyoman - perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Smoke Free Agents, pegiat pengendalian tembakau dari kalangan pemuda.

“CISDI itu isinya anak muda yang peduli akan kesehatan, salah satunya adalah perilaku merokok yang saat ini semakin banyak terjadi di kalangan remaja, khususnya. Permasalahan mengenai pengendalian tembakau pun belum diangkat, karena dirasa itu hanya urusan orang yang bergerak di kesehatan saja, padahal ini permasalahan kita. Kami berharap dengan adanya inisiasi dari CISDI, para pemuda juga bisa tergerak untuk turut dalam pengendalian tembakau di Indonesia.”, sambut Diah Saminarsih.

Acara kembali dilanjutkan dengan hasil pemaparan dr. Lily Sulistiyowati mengenai perilaku merokok yang terjadi di Indonesia.

“Memang masyarakat Indonesia sudah mulai sadar akan pola hidup sehat, salah satunya dengan kegiatan Car Free Day yang diikutinya, tetapi itu saja tidak cukup, mengatur pola makan, memeriksa kesehatan pun juga harus rutin dilakukan.”, ungkap dr. Lily.

Hasil pemaparan dr. Lily juga mengatakan bahwa perilaku merokok pada kalangan remaja pun juga disebabkan oleh industri rokok. Para pelaku industri rokok sadar bahwa kalangan remaja adalah tahap awal di mana perilaku merokok mulai terbentuk. Setelah itu, remaja tersebut akan ketagihan untuk mencoba untuk merokok lagi, dikarenakan rokok memiliki zat adiktif. Perilaku merokok tersebut juga terjadi karena adanya pihak yang merokok di sekolah dan terlihat oleh para pelajar, sehingga dijadikannya contoh bagi para pelajar tersebut.

“Apresiasi terhadap CISDI yang mau membuat gerakan pengendalian tembakau untuk mengurangi perilaku merokok di kalangan remaja.”, sambut dr. Lily kepada para peserta diskusi.

Apresiasi juga diberikan oleh dr. Lily untuk Gubernur DKI Jakarta yang sudah ‘menggalakkan’ kembali peraturan megenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di beberapa daerah yang seharusnya tidak ada asap rokok.

Permasalahan rokok sudah terjadi sejak lama, sehingga akan butuh waktu yang lama untuk membuat masyarakah Indonesia sadar akan bahayanya sebelum mulai untuk mencoba merokok. Hal yang harus segera ditindaklanjuti adalah menghentikan perilaku merokok di kalangan remaja agar kita memiliki generasi penerus untuk terus memajukan Indonesia ke depan.

“Remaja mudah sekali beralih pada kebiasaan merokok akibat pengaruh tekanan pertemanan dan lingkungan yang memaparkan bahwa merokok itu dianggap keren, tanpa mengerti dampaknya bagi kesehatan dalam jangka panjang. Industri akan terus mencari strategi penjualan produk mereka agar bisa dengan mudah didapatkan bagi siapa saja yang ingin membelinya, seperti penjualan rokok yang dijual hanya menggunakan plastik. Tak heran jika remaja yang belum memiliki penghasilan sendiri tetatpi tertarik untuk mencoba rokok, mudah untuk membelinya.”, papar dr. Kosen, sambil menunjukkan hasil temuannya mengenai penyebab perilaku merokok pada remaja.

Apresiasi kembali diberikan oleh dr. Soewarta Kosen kepada CISDI yang telah menanggapi permasalahan ini dengan membuat modul tutor sebaya, agar remaja tersebut tidak hanya memahami bahaya rokok untuk jangka panjang, tetapi juga menjadi agen bagi teman-temannya sendiri untuk memutus rantai perilaku merokok pada remaja dan teman-teman sebayanya.

Sitti Arlinda, selaku Project Leader dari program ‘Generasi Kreatif Penggerak Nusantara’ untuk Tobacco Control, turut memaparkan modul hasil intervensi yang dilakukan di kalangan pelajar Siswa Menengah Pertama (SMP). Sekolah yang diintervensi adalah SMP Al-Izhar, sebagai perwakilan sekolah swasta, dan SMP 113, sebagai perwakilan sekolah negeri. Pemilihan kedua sekolah tersebut berdasarkan sosiografis dari kedua sekolah tersebut.

“Remaja merupakan tahap di mana mereka mulai berpikir kritis untuk penentuan jati dirinya, maka program ini mengintervensi remaja untuk pengetahuan akan sebatang rokok.”, ujar Arlene dalam presentasinya mengenai program yang dilakukan.

Sebanyak 44 tutor sebaya yang diberikan materi antara lain kandungan bahaya dalam rokok, harga yang harus dibayar, pelajar sebagai perokok pengganti, kepemimpinan dan komunikasi, dan kampanye kreatif. Selanjutnya, para tutor akan melatih teman sebayanya yang berjumlah sekitar 100 responden, yang sudah mendapatkan pre dan post test, untuk diketahui pengetahuan serta sikap sebelum dan sesudah menerima materi dari rekan sebayanya. Intervensi ini menunjukkan hasil positif yaitu peningkatan signifikan terhadap pengetahuan dan persepsi pada responden saat sebelum dan sesudah intervensi.

Acara kembali dilanjutkan dengan berdiskusi bersama dr. Soewarta Kosen, Drs. H. Tadjudin Nur, MM, dr. Nyoman, Nanda dari Smoke Free Agents, dan Sitti Arlinda. Diskusi ini dimoderatori oleh Anindita Sitepu, selaku Direktur Program CISDI.

“Komitmen dari Gubernur DKI Jakarta kuat terhadap Jakarta yang bebas asap rokok. Perkembangan PerDa yang sebelumnya hanya ada di dalam satu pasal, yaitu tentang pecemaran udara, saat ini sudah memiliki pasal sendiri dalam PerGub 52 tahun 2012, mengenai daerah-daerah yang merupakan kawasan dilarang merokok.”, sahut dr.Nyoman yang menjelaskan mengenai peraturan pengendalian tembakau di DKI Jakarta.

Selain membuat peraturan, PemDa DKI Jakarta juga membuat layanan pengaduan terhadap pihak-pihak yang melanggar peraturan karena merokok di kawasan dilarang merokok.

“Terkait dengan perilaku merokok di pelajar SMP, khususnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga sudah memberi sanksi kepada pihak-pihak yang bekerja di sekolah, seperti guru, tetapi merokok di kawasan sekolah tersebut. Modul yang telah diberikan oleh CISDI kepada sekolah-sekolah yang sudah diintervensi merupakan terobosan baru yang sangat bermanfaat sebagai pedoman bagi pemberdayaan pemuda di sekolah dalam menanamkan modul tutor sebaya ini untuk sekolah-sekolah SMP di DKI Jakarta”, tanggap Tadjudin.

Adanya ‘Generasi Kreatif Penggerak Nusantara’ terkait pengendalian tembakau di DKI Jakarta, diharapkan dapat membantu mengurangi perilaku merokok di kalangan remaja khususnya, serta turut memberdayakan pemuda untuk turut ikut serta di dalamnya. CISDI akan mulai mengimplementasikan modul ini di 10 daerah penempatan Pencerah Nusantara di tahun 2016, sebagai salah satu upaya intervensi pemberdayaan pemuda terhadap perilaku merokok mereka.


Penulis: Hadassah Alexandria T.

Share this:

VIDEO TERKINI

Menggugah Pemuda Bereaksi Mengantisipasi Beban Sistem Pangan di Masa Depan

Forum for Young Indonesians (FYI) dengan tema 'Our Food, Our Future' digelar di Hall Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, (Minggu 22/10). Hadir pakar-pakar termuka seperti Wakil Presiden RI ke -11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, ekonomo Faisal Basri, ekonom Prof. Dr. Emil Salim serta inovator-inovator muda yang memberi warna baru dalam praktik sistem pangan berk