Ajak Anak Cegah Penyakit Tidak Menular, CISDI Selenggarakan Training of Trainer untuk Guru dan Profesional Kesehatan

Content

CISDI, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), dan Yayasan Lentera Anak menyelenggarakan training of trainers (ToT) kepada 24 guru dan profesional kesehatan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara pada 21-23 Juli 2021 lalu. (Foto: Dok. CISDI)

Center of Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), dan Yayasan Lentera Anak menyelenggarakan training of trainers (ToT) kepada 24 guru dan profesional kesehatan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara pada Kamis hingga Jumat (21-23/07) lalu.

Pelatihan daring ini merupakan rangkaian dari program AstraZenecas’ Young Health Programme (YHP), sebuah program peningkatan pemahaman pencegahan penyakit tidak menular, hak atas kesehatan seksual dan reproduksi, serta kesejahteraan emosional kepada anak muda usia 10 hingga 24 tahun.

Training of trainers memfasilitasi guru dan tenaga kesehatan memperhatikan aspek-aspek kesehatan dan non-kesehatan yang mempengaruhi kemunculan penyakit tidak menular (PTM) sejak usia dini,” ujar Wiwid Handayani, Project Officer CISDI untuk YHP.

Profil Penyakit Tidak Menular WHO menyebut 73% kematian di Indonesia disebabkan PTM. Temuan WHO lainnya menguraikan 26% kematian dini di usia 30-70 tahun juga disebabkan PTM.

“Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, namun muncul dikarenakan pola hidup tidak sehat,” ujar Wiwid menerangkan paparan.

YHP didukung AstraZeneca’s Global Community Investment Initiatives dan diselenggarakan di Indonesia melalui bantuan Plan Indonesia. CISDI dan Yayasan Lentera Anak bertugas sebagai mitra penyelenggara teknis lapangan.

Pelatihan maupun aktivitas bersama guru, tenaga kesehatan, dan anak ke depan berfokus pada delapan isu utama, yaitu hidup tanpa rokok, hidup tanpa alkohol, pola makan sehat, aktif berolahraga, aktivitas menghirup udara bersih, hak kesehatan seksual dan reproduksi, gender dan kesetaraan gender, hingga kesejahteraan emosional.

“Menghindari rokok dan alkohol sedari usia dini adalah upaya penting untuk mencegah munculnya penyakit tidak menular di masa depan,” tambah Putri Regita, Program Lead CISDI untuk YHP.

Penyakit tidak menular yang ditimbulkan pola hidup tidak sehat adalah salah satu pembunuh paling ganas di Indonesia. Kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker, sebagai contoh, mencapai masing-masing 35% dan 12% dari total kematian di Indonesia.

Dari sisi sumber daya manusia, keberadaan PTM dianggap sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas, khususnya bagi anak-anak muda. Salah satu metode paling efektif menanamkan kesadaran hidup sehat ialah melalui metode pendidikan sebaya.

Melalui ToT yang tengah terselenggara, guru dan tenaga kesehatan profesional diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai hidup sehat dan mengarahkan anak didik menjadi pendidik sebaya di lingkungan hidupnya.

“Pendidikan sebaya yang dilakukan secara konsisten dan simpatik terbukti mampu mengubah perilaku remaja dengan berkelanjutan,” ujar Wiwid.

Diharapkan, melalui pendidikan sebaya didapati beberapa keluaran hidup sehat, seperti mulai aktifnya anak melaksanakan aktivitas fisik, menjauhi rokok dan alkohol, hingga tumbuhnya minat mengkonsumsi makanan sehat.

Kendati ToT hanyalah salah satu aktivitas awal yang baru terselenggara, banyak pihak khususnya peserta, yang mengapresiasi program ini. Nurhayati, salah seorang peserta yang berprofesi sebagai guru, sebagai contoh, mengaku mendapatkan pemahaman baru melalui pelatihan ini, khususnya terkait hubungan gender dengan kesehatan anak.

“Peran masyarakat penting sekali untuk mendukung kesetaraan gender antara anak laki-laki dan anak perempuan, khususnya dalam hal kesehatan,” ujarnya. Nurhayati dan 23 peserta lainnya diharapkan dapat memfasilitasi pelatihan pendidik sebaya yang akan dilaksanakan pertengahan Agustus nanti.

Kendati pelatihan ToT hanya merupakan langkah awal, mereka optimis rangkaian pelatihan YHP akan memberi dampak yang besar terhadap anak dan remaja yang terlibat di dalamnya.

Adapun, agenda Young Health Programme akan dilaksanakan di empat kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.

Program ini mencakup 40 sekolah dan 20 fasilitas kesehatan (puskesmas), melatih 320 pendidik sebaya, menjangkau lebih dari 91.000 anak muda secara langsung dan 400.000 anak muda secara tidak langsung.

Dalam pelaksanaannya, YHP akan mewadahi pelatihan 2.700 orang tua, 160 guru, dan 160 profesional kesehatan selama lima tahun perjalanan program ke depan.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. CISDI mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular melalui implementasi program, kampanye pengendalian tembakau, dan advokasi cukai minuman berpemanis untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, berkualitas, dan terbebas dari penyakit.

 

Tentang Young Health Programme

AstraZeneca’s Young Health Programme (YHP) adalah program penguatan kapasitas anak dan anak muda usia 10-24 tahun dalam isu pencegahan penyakit tidak menular (PTM), seperti kanker, diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan, dan penyakit terkait kesehatan mental lainnya. Bekerja sama dengan Plan Internasional dan UNICEF dan didasari riset John Hopkins Bloomberg School of Public School, YHP memadukan pendekatan akar rumput, riset, dan advokasi untuk mencegah kemunculan faktor risiko kesehatan yang berpotensi menyebabkan PTM bagi anak-anak muda di masa depan.

 

Penulis

 

Putri Aprilia Regita, Project Lead CISDI untuk YHP

Wiwid Handayani, Program Officer CISDI untuk YHP

108 Pengunjung
Share This!