Apa Saja Tantangan Kesehatan Global yang Perlu Kita Ketahui? Berikut Uraian dari WHO

Content

WHO mencatat berbagai persoalan kesehatan global yang akan menjadi tantangan masyarakat dunia dalam satu dekade ke depan. (Sumber gambar: Dok. WHO/Fabeha Monir)

Pecahnya wabah kolera pada 1984 membuka percakapan mengenai perlunya suatu disiplin keilmuan yang memelajari persoalan kesehatan lintas dunia. Disiplin tersebut semakin dibutuhkan ketika dunia kembali alami wabah malaria hingga TBC yang terjadi beberapa dekade seterusnya dan bertahan hingga hari ini.

Peristiwa-peristiwa kesehatan lintas batas, termasuk terkait penyebaran penyakit, adalah latar kemunculan disiplin ilmu bernama kesehatan global. Kesehatan global diterjemahkan sebagai dua hal yang saling bersinggungan satu sama lain. Pertama, kesehatan global ialah segala persoalan kesehatan yang menyangkut populasi masyarakat dunia. Kedua, kesehatan global adalah area studi, riset, dan praktik yang berfokus pada upaya peningkatan derajat dan pemenuhan akses kesehatan bagi seluruh penduduk dunia.

Kesehatan global memiliki rentangan tema yang luas, namun umumnya mencakup persoalan politik dan ekonomi yang memengaruhi kesehatan. Beberapa isu yang menjadi perhatian disiplin ini satu dekade ke belakang terkait dengan derajat kesehatan masyarakat dunia, disparitas kesehatan, dan mekanisme perlindungan masyarakat dunia dari persoalan kesehatan global.

Kemunculan Covid-19 merupakan tantangan berat terhadap kesehatan global. Lebih terang, WHO menjelaskan pandemi Covid-19 menghapus capaian kesehatan publik lain yang telah diperjuangkan selama dua dekade terakhir, khususnya terkait penghentian sebaran penyakit menular dan peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak.

Masalahnya, dengan atau tanpa pandemi sekalipun, dunia telah mengalami berbagai persoalan kesehatan global. Lantas, tantangan kesehatan global apa saja yang perlu masyarakat dunia hadapi dalam satu dekade ke depan?

Krisis Iklim hingga Penyakit Menular

Dalam laporan bertajuk Urgent health challenges for the next decade WHO mendaftar beberapa tantangan kesehatan global yang perlu dihadapi dalam sepuluh tahun ke depan. Laporan Ini merupakan intisari dari tanggapan berbagai ahli serta menempatkan kesehatan sebagai sebuah investasi masa depan yang sangat bernilai.

Pertama, memahami keterkaitan antara krisis iklim dengan persoalan kesehatan. Krisis iklim adalah istilah yang menggambarkan situasi pemanasan global, perubahan iklim, dan konsekuensinya di bumi. Istilah ini umumnya digunakan untuk menjelaskan bahaya pemanasan global terhadap bumi. Krisis iklim disebabkan beragam faktor, mulai dari polusi udara hingga menipisnya lapisan ozon akibat aktivitas industri.

Krisis ini membawa dampak tidak main-main terhadap kesehatan. WHO mencatat persoalan polusi udara saja setidaknya membunuh tujuh juta orang setiap tahunnya. Di samping itu, lantaran juga mengakibatkan anomali cuaca, krisis iklim berperan besar menyebabkan malnutrisi dan meningkatkan penyebaran penyakit endemik, seperti malaria. Itu belum ditambah dengan dampak kehadiran emisi karbon yang berasosiasi sangat kuat dengan kemunculan serangan jantung, stroke, kanker paru-paru, dan penyakit kronis pernapasan lainnya.

Kedua, menyediakan akses ke kesehatan di wilayah krisis dan konflik. Wilayah krisis dan konflik dipahami sebagai ruang terjadinya pelanggaran HAM dan hukum yang disebabkan oleh perang bersenjata, bencana alam, ataupun ketidakstabilan politik dan sosial.

WHO mencatat beragam wabah penyakit yang muncul pada 2019 terjadi di wilayah konflik berkepanjangan. Dalam beberapa kasus bahkan muncul tren tenaga dan fasilitas kesehatan mengalami serangan fisik maupun mental di wilayah krisis. Serangan terhadap fasilitas kesehatan memutus akses terhadap pelayanan kesehatan yang justru sangat dibutuhkan di wilayah konflik.

Singkatnya, ia meningkatkan beban kesehatan terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan. WHO mencatat setidaknya 978 serangan terhadap fasilitas kesehatan di sebelas negara tahun lalu dengan korban meninggal mencapasi 193 orang pada 2019. Konflik juga mengakibatkan ratusan ribu orang meninggalkan wilayah tempat tinggal asal sehingga tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan yang layak.

Ketiga, merapatkan jurang kualitas kesehatan antara satu negara dengan negara lain. The World Social Report 2020 yang terbitkan UN mencatat ketimpangan pendapatan terjadi di sebagian besar negara maju. Dari segi kesehatan, WHO mencatat setidaknya 18 tahun perbedaan ekspektasi hidup antara negara kaya dengan negara miskin.

Temuan lain menyebut, penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit kronis pernapasan, dan diabetes menjadi permasalahan akut di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Situasi ini juga belum memerhitungkan tidak meratanya akses ke kesehatan di dalam suatu wilayah negara dengan wilayah lain.

Keempat, mengoptimalkan akses terhadap obat-obatan. Satu per tiga penduduk dunia mengalami kesulitan akses terhadap obat-obatan, vaksin, alat-alat diagnostik, dan produk kesehatan esensial lainnya. Padahal, obat-obatan adalah salah satu elemen paling efektif dari segi biaya untuk menjamin dampak kesehatan yang segera dan bertahan lama dalam sebuah populasi. Sementara itu, diketahui obat-obatan esensial berada dalam kelompok pengeluaran privat tertinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kelima, masih munculnya beragam penyakit menular. Penyakit menular seperti HIV, TBC, hepatitis, dan penyakit menular seksual merupakan ancaman serius kesehatan global. WHO mengestimasi ragam penyakit menular sebabkan kematian sekitar empat juta orang selama 2020. Kebanyakan dari kematian itu bahkan berasal dari kelompok masyarakat miskin.

Di sisi lain, penyakit seperti campak juga masih menyebabkan kematian 140.000 anak pada 2019 lalu. Sementara penyakit polio, yang meskipun hampir punah, tetap merenggut nyawa sekitar 156 anak sejak 2014 lalu.

Dari Pandemi hingga Kesehatan Seksual

Keenam, mewaspadai anomali kemunculan epidemi baru. Epidemi merupakan kehadiran penyakit menular dalam periode waktu tertentu di suatu daerah dalam waktu yang cepat. Secara sederhana, pandemi merupakan epidemi yang terjadi dan menyebar melampaui puluhan negara ataupun kontinen.

Faktanya, Covid-19 bukan peristiwa pandemi tunggal yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Sebelumnya, dunia juga menghadapi epidemi lain seperti kolera hingga Flu Spanyol yang lantas menjadi pandemi. Publik dunia masih menghadapi epidemi penyakit lain yang menular melalui perantara, seperti DBD, malaria, Zika, chikungunya, dan demam kuning.

Ketujuh, melindungi masyarakat dari barang-barang yang berbahaya terhadap kesehatan. Satu per tiga kematian global disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan sehat dan buruknya pola diet. Sementara, sebagian besar masyarakat mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi, bersantan, atau mengandung muatan garam yang banyak. Konsumsi tidak sehat merupakan bentuk lain dari gaya hidup masyarakat dan kerap dianggap wajar. Namun demikian, konsumsi ini menjadi faktor utama obesitas ataupun kelebihan berat badan yang sebabkan beragam penyakit kronis di masa depan.

Kedelapan, berinvestasi pada tenaga kesehatan. Beberapa faktor seperti kurangnya tunjangan serta maraknya tindak kekerasan menyebabkan minimnya supply tenaga kesehatan di dunia. WHO mencatat pada 2020 nanti dibutuhkan setidaknya 18 juta tenaga kesehatan untuk negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Sembilan juta dari angka tersebut merupakan perawat dan juga bidan.

Kesembilan, menjaga kesehatan remaja. Satu juta remaja meninggal setiap tahunnya. Penyebab kematian mereka beragam, mulai dari kecelakaan lalu lintas, HIV, bunuh diri, hingga akibat dari kekerasan. Penggunaan alkohol, tembakau, dan obat-obatan terlarang ditambah tidak dipraktikkannya gaya hidup sehat menjadi pendorong meningkatnya risiko kematian. Padahal, remaja merupakan mitra pembangunan potensial lantaran karakter khasnya yang mau membuat perubahan dan memberi dampak terhadap lingkungan sekitar.

Kesepuluh, memastikan tenaga dan sistem kesehatan mendapatkan kepercayaan publik. Kepercayaan terhadap tenaga kesehatan merupakan satu hal esensial lantaran untuk mendorong terwujudnya perilaku sehat. Di samping itu, institusi kesehatan kerap berperan menghalau misinformasi dan kabar hoaks perihal kesehatan yang kerap tersebar di media sosial.

Dalam periode waktu yang genting, tenaga dan sistem kesehatan mampu memengaruhi keputusan publik yang terkesan remeh namun memiliki dampak kesehatan yang luas, seperti dalam pelaksanaan vaksin, penggunaan obat-obatan, ataupun penggunaan alat-alat kontrasepsi.

Upaya Bersama

WHO masih memiliki beberapa tambahan persoalan kesehatan global yang perlu dihadapi pada masa pendatang. Kendati demikian, sebagai pengantar daftar yang telah ditampilkan bisa dianggap mencukupi untuk menjelaskan dasar persoalan.

Sejauh yang bisa diamati, tantangan kesehatan global akan terus berlangsung ketika pemimpin negara-negara dunia tidak menganggap kesehatan sebagai sebuah investasi yang serius. Situasi bisa memburuk ketika paradigma sehat masyarakat masih memandang sehat sebagai sekadar kondisi terbebas dari penyakit belaka, alih-alih situasi sejahtera fisik, sosial, dan mental.

WHO menunjukkan beberapa tindakan yang perlu diperhatikan untuk menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan. Menurut mereka, pemerintah dunia perlu meningkatkan solidaritas global terhadap isu kesehatan, mempercepat  akses terhadap tes, obat-obatan, dan vaksin Covid-19, menerapkan paradigma kesehatan untuk semua, merapatkan jurang ketimpangan pelayanan kesehatan, serta melaksanakan kepemimpinan global yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan data.

Bersamaan dengan itu, beberapa upaya pencegahan penyakit juga perlu dilakukan dengan merevitalisasi upaya penanganan penyakit menular, memprakarsai obat-obatan yang efektif melawan penyakit, mencegah serta merawat orang dengan penyakit tidak menular dan alami persoalan mental, mengupayakan pembangunan sektor di luar kesehatan (lingkungan, pertanian, dll.), serta menampilkan solidaritas antar institusi, lembaga, dan kelompok masyarakat.

Dengan memetakan tantangan kesehatan global di masa mendatang serta mempersiapkan upaya-upaya untuk menguatkan kesehatan, menjamin masa depan ketika kesehatan dapat dinikmati oleh semua bukanlah satu hal yang sulit untuk dicapai.

Dalam hal ini, CISDI ikut berperan dalam upaya kesehatan global. Beberapa tindakan yang CISDI telah lakukan, di antaranya melalui program penguatan kesehatan primer, seperti Pencerah Nusantara.

Di samping itu, CISDI turut serta membantu upaya penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat bersama pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Program PUSPA. Kegiatan ini belum termasuk dengan berbagai proyek distribusi pengetahuan publik yang CISDI laksanakan bersama berbagai instansi dan organisasi lainnya.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

35 Pengunjung
Share This!