Baru Diberangkatkan, Ini Strategi Tim PUSPA Perkuat 100 Puskesmas di Jawa Barat

Content

Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil melepas secara virtual 500 tenaga kesehatan PUSPA dari Jabar Comand Center, Bandung, Selasa (16/3/2021). (Sumber gambar: Humas Jabar)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) resmi memberangkatkan 500 tenaga kesehatan lintas profesi melalui Program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA) pada Selasa (16/3). Lantas, strategi penanganan wabah seperti apa yang akan mereka lakukan, simak catatan di bawah.

Meningkatkan Kapasitas 3T Puskesmas

Survei kebutuhan puskesmas CISDI, KawalCovid-19, dan Cek Diri November 2020 lalu mengungkap lebih dari setengah puskesmas responden memiliki kurang dari 10 kuota tes PCR per harinya. Selain itu, tracer puskesmas hanya berhasil melacak kurang dari 5 kontak erat per kasus positif. Padahal, pengetesan dan pelacakan kontak erat yang masif adalah strategi dasar penanganan wabah di suatu wilayah.

Sebagai strategi meningkatkan kapasitas 3T (testing, tracing, treatment) puskesmas, program PUSPA memberi pelatihan penyelidikan, tes, dan pengelolaan kasus Covid-19, serta bantuan alat pelindung diri (APD), dan testing kit. Selama enam bulan ke depan, Tim PUSPA bersama puskesmas menargetkan peningkatan target pengujian hingga 1/1.000 penduduk dan melacak 80 persen kontak positif dalam 72 jam. Sementara, Pemprov Jabar melalui Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar) memfasilitasi perangkat digital untuk membantu pelaporan kasus.

Mengoptimalkan Peran Kader Kesehatan

Perlu diakui, dengan tingginya tingkat kerumitan penanganan Covid-19, kehadiran tenaga kesehatan tidak akan pernah cukup. Karenanya, kader dan relawan kesehatan harus ikut aktif membantu upaya surveilans puskesmas. Dengan semangat ini, Tim PUSPA akan melatih kader kesehatan setempat mendata kelompok rentan, menemukan kasus, melacak kontak erat, dan memantau isolasi/karantina mandiri. Kader-kader terlatih akan diarahkan membentuk surveilans berbasis masyarakat (SBM).

Kader-kader SBM berfungsi membantu puskesmas menemukan kasus baru melalui pemetaan kelompok rentan dan berisiko dan surveilans kasus influenza like illness (ILI) di tengah masyarakat. Kader juga akan melacak dan mewawancara kontak erat setelah menerima data dari petugas surveilans. Bagi masyarakat yang menjalani isolasi dan karantina mandiri, kader akan memantau dan mengisi data lapor mandiri di Pikobar.

Tidak kalah penting, kader juga wajib mempromosikan kesehatan dan edukasi publik. Terkait hal ini, Tim PUSPA akan serta melatih komunikasi perubahan perilaku pencegahan penularan Covid-19 kepada kader setempat. Harapannya, kader dapat membentuk rencana promosi kesehatan di tingkat rumah tangga dan komunitas dengan memerhatikan konteks dan budaya lokal sehingga masyarakat lebih mudah menerimanya. Indikator keberhasilan upaya itu, ialah meningkatnya kepatuhan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) masyarakat hingga 80 persen.

Menguatkan Persiapan Vaksinasi

Pemerintah menargetkan satu juta suntikan vaksin per hari. Sementara per 12 Maret 2021, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kecepatan vaksinasi ialah 300.000-400.000 suntikan per hari. Di sisi lain, survei penerimaan vaksin Covid-19 di Indonesia Kementerian Kesehatan, ITAGI, UNICEF, dan WHO pada November 2020 menunjukkan terdapat sekitar 27 persen masyarakat yang merasa ragu-ragu melaksanakan vaksinasi dan sebagian kecil lainnya (8 persen) menolak vaksinasi. Sebagian yang menolak, menyebut mereka meragukan keamanan vaksin (30 persen) dan tidak yakin vaksinasi efektif (22 persen).

Kondisi ini terjadi lantaran masyarakat memiliki akses informasi dan pemahaman yang berbeda-beda terhadap vaksin. Komunikasi risiko dari tenaga kesehatan puskesmas setempat mengenai jenis vaksin, ketersediaan, dan profil keamanan vaksin bisa mengatasi kondisi ini lantaran puskesmas melaksanakan intervensi berdasarkan konteks dan karakter masyarakat setempat.

Program PUSPA merupakan replikasi Program Pencerah Nusantara Covid-19 (PN Covid-19) yang terselenggara pada Agustus 2020 – Maret 2021 lalu. Melalui 13 tenaga kesehatan muda di 8 puskesmas mitra di Kota Jakarta Utara dan Kota Bandung, PN Covid-19 berhasil menjangkau hampir 190 ribu penerima manfaat. Kini, dengan dukungan Pemprov Jabar, pemerintah kota/kabupaten serta dinas kesehatan setempat, diharapkan jutaan penduduk Jawa Barat menerima manfaat program PUSPA dan penanganan Covid-19 mencapai upaya yang paling maksimal.

 

Tentang Program PUSPA

Program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang didukung oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dalam memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas. Program ini merekrut 500 tenaga kesehatan sebagai field officer yang akan ditugaskan di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Program PUSPA bertujuan menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, menyiapkan vaksinasi Covid-19 hingga memastikan pemenuhan layanan kesehatan esensial di Jawa Barat.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Ardiani Hanifa Audwina

188 Pengunjung
Share This!