Berupaya Tingkatkan Status Kesehatan, Ini Bentuk Kolaborasi Tim Pencerah Nusantara dengan Komunitas Setempat

Content

Kolaborasi menjadi salah satu metode Tim Pencerah Nusantara untuk melaksanakan intervensi kesehatan di wilayah penempatan masing-masing. (Sumber gambar: Dok. PN Covid-19)

Mencapai kondisi sehat atau sejahtera fisik, mental, dan sosial bukanlah perkara mudah. Banyak tahapan yang perlu dilalui, mulai dari meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan, hingga, pada akhirnya, membangun perilaku hidup sehat masyarakat. Karenanya, kolaborasi lintas lapisan masyarakat penting untuk memastikan kondisi sehat tercapai bagi semua.

Situasi ini disadari betul oleh Tim Pencerah Nusantara (Tim PN) terpilih sebelum melaksanakan intervensi kesehatan di wilayah penempatan masing-masing. Dalam proses perumusan rencana kegiatan atau plan of action, tim akan memetakan aktor-aktor masyarakat setempat sebelum melaksanakan kolaborasi kesehatan

Aktor, tokoh, ataupun komunitas masyarakat adalah instrumen penting pengubah perilaku lantaran mereka memahami betul karakter masyarakat setempat. WHO sendiri menyebut kondisi kesehatan yang baik berawal dari perilaku sehat yang baik pula. Lantas, kolaborasi seperti apa saja yang dilakukan tim dengan komunitas masyarakat setempat di wilayah penempatan? Berikut catatannya.

Atasi BABS bersama Puskesmas Kluet Timur

Kluet Timur merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Sebagian masyarakat di wilayah ini masih memiliki kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS). Salah satu desa di wilayah ini, Lawe Cimanok, bahkan memiliki angka BABS yang cukup tinggi.

Berdasarkan temuan tim ketika itu, hanya 258 rumah dari 338 rumah di Lawe Cimanok yang memiliki jamban, sementara 80 rumah lainnya tidak. Situasi ini cukup berbahaya bagi kesehatan lantaran sungai yang menjadi tempat buang air juga berfungsi untuk aktivitas lain, seperti mandi, minum, hingga mencuci pakaian.

Karenanya, Puskesmas Kluet Timur didampingi Tim Pencerah Nusantara VI (PN VI) yang beranggotakan dokter, bidan, perawat, dan ahli kesehatan masyarakat melaksanakan program intervensi untuk mengedukasi warga pada 2018 lalu. Tim memulai intervensi dengan mengajak wargasenam pagi dan menggambarkan peta partisipatif untuk memahami kondisi aktual perilaku BABS di Lawe Cimanok.

Pada hari kegiatan, parawarga melaksanakan senam sehat, mereka diminta menaburkan tepung di atas tanah untuk menggambarkan peta wilayah desa. Kemudian, mereka menuliskan nama kepala keluarga dalam sebuah kertas dan lantas meletakkannya pada peta sebagai keterangan rumah. Dari sana tim lantas bertanya, rumah mana saja yang belum menyediakan jamban?

Arif Sujagad, SKM, seorang anggota PN VI, lantas menjelaskan perjalanan feses ketika dibuang sembarangan di sungai. Sisa feses, tuturnya, bisa terbawa oleh air dan mengontaminasi pakaian, air minum, ataupun tubuh warga setempat. Di akhir kegiatan, tim menandatangani komitmen setop BABS bersama Geuchik (kepala desa), perangkat desa, dan warga untuk secara bertahap membangun jamban di wilayah tersebut.

Edukasi Kespro bersama Sekolah dan Puskesmas

Lembaga pendidikan adalah aktor penting dalam membangun paradigma sehat. Itu karena mereka menghabiskan sebagian besar waktu bersama dengan anak dan remaja, dua kelompok usia yang tengah alami periode pubertas.

Periode pubertas memberikan konsekuensi kesehatan terhadap anak dan remaja, salah satunya terkait kesehatan reproduksi. Itu sebabnya, Tim Pencerah Nusantara VI (PN VI) bekerja sama dengan Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara melaksanakan kunjungan dan edukasi rutin ke sekolah-sekolah di wilayah Onembute sepanjang 2018 lalu.

Kegiatan edukasi ini meliputi banyak hal, mulai dari pembinaan melalui beragam materi, seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah, kesehatan gigi dan mulut, hingga kesehatan reproduksi bagi anak dan remaja.

Untuk tingkat SD materi edukasi biasanya berkisar pada persediaan air dan jamban di sekolah, kantin sehat, sekolah bebas asap rokok, dan juga pemantauan fisik anak. Sementara, untuk tingkat SMP dan SMA materi edukasi kerap meliputi masa pubertas, infeksi menular seksual (IMS), gizi remaja, dan tablet tambah darah bagi remaja putri.

Selain itu, puskesmas juga menyediakan ahli gizi untuk memantau delapan indikator sekolah sehat serta melaksanakan sweeping gizi bagi anak yang terdeteksi alami gizi kurang. Aktivitas-aktivitas ini tentu tidak akan terbentuk tanpa komitmen bersama puskesmas, pihak sekolah, dan Tim PN VI untuk menciptakan sekolah yang peduli kesehatan.

Laksanakan Laseria Bersama Kader Kesehatan

Penyakit kronis kerap tejadi di usia-usia lanjut. Itu sebabnya upaya pencegahan perlu dilakukan semaksimal mungkin pada usia-usia tersebut. Salah satu upaya pencegahan efektif ialah melalui aksi senam sehat atau, dalam konteks populer, kerap disebut sebagai senam lansia sehat ceria (laseria).

Tim Pencerah Nusantara VI bersama kader kesehatan di wilayah Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara terlibat melaksanakan laseria rutin untuk warga setempat. Tidak berhenti di sana, usai senam tim juga membuka layanan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.

Layanan tersebut juga dilengkapi tenaga kesehatan yang memberikan edukasi. Semisal, dalam soal asam urat tinggi, warga tidak dianjurkan mengonsumsi kacang-kacangan, sementara ketika gula darah tinggi, warga dianjurkan mengonsumsi obat dan mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.

Program laseria sendiri dilaksanakan sekreatif mungkin, Tim PN VI dan kader kesehatan setempat memilihkan judul lagu yang menarik hingga menyesuaikan gerakan yang bisa diikuti ibu-ibu setempat. Pada periode penempatan PN, program ini menjadi kegiatan rutin sepanjang 2018 untuk menekan kenaikan angka penyakit tidak menular yang belakangan konsisten meningkat pada saat itu.

Kehadiran Tim Pencerah Nusantara di wilayah penempatan memang tidak serta merta segera mengubah keadaan. Ada proses panjang yang perlu dilalui untuk memastikan masyarakat mengubah perilaku dan, pada akhirnya, meningkatkan indikator-indikator kesehatan lainnya. Tim PN, karenanya, kerap berjejaring, bekerja sama, dan berkolaborasi dengan perangkat masyarakat setempat untuk mewujudkan kolaborasi kesehatan yang bermakna.

 

Tentang Pencerah Nusantara

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi kesehatan, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

230 Pengunjung
Share This!