Cegah Kemunculan PTM, Tim Universitas Indonesia bersama Puskesmas Tanara Upayakan Pos Binaan Terpadu selama Pandemi

Content

Pelaksanaan pos binaan terpadu (posbindu) di Kecamatan Tanara. (Sumber gambar: Dok Tim Universitas Indonesia)

“Hampir separuh jumlah kasus penyebab kematian ibu di Kecamatan Tanara terjadi karena hipertensi ibu hamil sehingga penting melaksanakan pemantauan dan pencegahan yang optimal melalui kegiatan posbindu,” ujar dr. Siti Kuriah, Kepala Puskesmas Tanara, pada sambutan pelatihan kader posbindu (pos binaan terpadu) yang dilaksanakan pada awal September 2021 lalu.

Kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dan membangun komitmen bersama melawan penyakit tidak menular (PTM) yang sempat turun prioritasnya selama pandemi Covid-19. Didukung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui Program Pengabdian Pengendalian Penyakit Tidak Menular FK UI, implementasi kegiatan luar gedung selama pandemi di Puskesmas Tanara, Kabupaten Serang, Banten mulai bergeliat.

 

Preeklamsia

Preeklamsia atau hipertensi pada ibu hamil adalah salah satu penyakit tidak menular yang memicu banyak kematian ibu di Indonesia. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis dan tidak menular yang membutuhkan diagnosis ataupun terapi yang lama.

Selain menyumbang angka kematian ibu, PTM juga penyebab kematian tertinggi global sebelum pandemi. World Health Organization (WHO) pada 2019 menyebut 7 dari 10 penyakit yang menyumbang kematian utama adalah PTM.

Sejak pandemi Covid-19, jumlah angka kematian akibat Covid-19 meningkat karena risiko komorbid, seperti PTM. Data beberapa dinas kesehatan di Indonesia menunjukkan lebih dari 90% angka kematian Covid-19 juga diakibatkan penyakit komorbid.

Kementerian Kesehatan (2021) menyebut 50,1% pasien positif Covid-19 memiliki hipertensi, 37,2% memiliki penyerta diabetes melitus, dan 16,6% memiliki penyakit jantung. Sebuah studi kelompok di Jakarta (Lancet,2021) dengan 21.397 sampel memperlihatkan komorbid yang umum dijumpai pada kasus Covid-19 meliputi hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus. Ini menunjukan risiko kematian akibat Covid-19 ditemukan lebih tinggi pada pasien dengan komorbid.

Akan tetapi, lonjakan kasus Covid-19 mengakibatkan berhentinya pelayanan kesehatan primer,  termasuk kegiatan luar gedung pengendalian PTM, seperti posbindu PTM. Dilema ini membuat lonjakan angka PTM meningkat, dikarenakan keterlambatan diagnosis, keterlambatan terapi, perburukan kondisi, dan efek psikologis. Di Puskesmas Tanara, Serang, kegiatan Posbindu PTM tersebut sempat terhenti karena penerapan PPKM sejak Juli 2021.

Aktivitas Puskesmas Tanara saat itu berfokus pada vaksinasi, terutama untuk golongan rentan, seperti kelompok lansia, disabilitas, ibu hamil, dan anak sekolah. Namun, Puskesmas Tanara berupaya mengaktifkan kembali program esensial lainnya, terutama terkait PTM.

 

Peran program PTM

Kader-kader kesehatan terlibat membantu pelaksanaan posbindu di wilayah kerja Puskesmas Tanara. (Sumber gambar: Dok. Tim Universitas Indonesia)

Peran program pengendalian penyakit tidak menular, seperti posbindu PTM sangatlah penting. Sebab, keberadaan PTM akan terpantau melalui pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan. Merujuk target Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Puskesmas Tanara berhasil menapis 13,1% PTM dari Januari hingga Juni 2021 dari target tahun 2021 sebesar 47,3%.

Puskesmas Tanara berupaya mendeteksi penyakit hipertensi, diabetes melitus, dan kanker serviks masyarakat usia produktif di Kecamatan Tanara. Mereka mengoptimalkan kembali pelaksanaan posbindu PTM, poli PTM, dan penapisan tekanan darah saat vaksinasi. Program posbindu PTM berorientasi pada upaya promotif dan preventif dengan melibatkan masyarakat untuk perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan serta penilaian.

Puskesmas membuka posbindu untuk usia di atas 15 tahun melalui pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat, tinggi, dan lingkar perut, hingga pemeriksaan gula darah dan kolesterol. Melalui Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, tim dari Universitas Indonesia melaksanakan adaptasi program Penyakit Tidak Menular melalui optimalisasi pelayanan posbindu.

 

Peran kader

Tim melatih kader posbindu dan tenaga kesehatan beragam hal terkait PTM serta penggunaan media sosial untuk menyebarkan informasi perihal pelaksanaan posbindu. Pendampingan ini mendukung adaptasi Puskesmas Tanara menjalankan program posbindu yang aman selama pandemi. Pelatihan kader posbindu selama pandemi telah dilaksanakan sembilan kali dengan total kader mencapai 30 orang dari 9 desa di wilayah kerja Puskesmas Tanara.

Selain pelatihan dan pendampingan pelaksanaan posbindu, pendampingan daring juga dilakukan untuk pasien PTM. Puskesmas mengumpulkan pasien atau keluarga pasien PTM di satu grup media komunikasi sebagai wadah saling kontrol.

Intervensi kepada kader posbindu sangat penting untuk membantu puskesmas mencegah kemunculan PTM. Kunjungan rumah termasuk tugas utama kader selama pandemi. Kendati berisiko, implementasi protokol kesehatan yang baik mendukung kader aktif menjalankan tugas tersebut.

Keterbatasan tempat dan alat membuat pelaksanaan posbindu masih jauh dari ideal. Karenanya, tetap diperlukan formula ideal yang berisiko rendah dan melibatkan banyak sektor untuk menanggulangi persoalan PTM di Indonesia.

 

 

Penulis

Rima Sumayyah Ahmad

Program Officer untuk Proyek Pengabdian

Puskesmas Tanara

88 Pengunjung
Share This!