CISDI dan IAKMI Tandatangani MoU, Sepakat Kerja Sama Kuatkan Puskesmas Hadapi Pandemi Covid-19

Content

Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M., Ketua IAKMI, dan Diah Saminarsih, Penasihat Senior Bidang Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO sekaligus pendiri CISDI, menandatangani MoU kerja sama di Kantor CISDI pada Jumat (19/3). (Sumber gambar: Dok. CISDI)

Jakarta, 19 Maret 2021 – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Kantor CISDI, Gondangdia, Jakarta pada Jumat (19/3). Penandatanganan MoU ini menandakan kerja sama sah antara CISDI dengan IAKMI sebagai konsultan kesehatan masyarakat untuk beberapa program CISDI. Ke depan dalam kolaborasi ini, CISDI dan IAKMI akan berupaya menyinergikan penguatan pelayanan kesehatan primer pada 2021-2023.

“Kami berharap CISDI dan IAKMI dapat bertukar pikiran dan expertise dan saling melengkapi. Semoga kerja sama ini bisa mendorong kita maju ke depan dan lebih solid, baik ketika ataupun setelah pandemi,” ujar Diah Saminarsih, Penasihat Senior Bidang Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO sekaligus pendiri CISDI.

Diah menjelaskan publik baru memerhatikan aspek kesehatan masyarakat sebagai sesuatu yang penting pada periode pandemi. Padahal, peran aktif masyarakat berkontribusi sangat positif dalam penanganan pandemi ini. “Memang situasi pandemi ini adalah bukti nyata aspek kesehatan masyarakat dapat berkontribusi,” ujar Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M., Ketua IAKMI.

Ede mengharapkan kerja sama dengan CISDI melalui penandatanganan MoU mampu memberikan hasil positif bagi kedua belah pihak. “Dengan kerja sama ini, kami berharap IAKMI juga bisa fokus berkontribusi pada sektor kesehatan.”

Ke depan IAKMI akan membantu CISDI melalui rekomendasi-rekomendasi teknis, khususnya terkait program strategis, seperti PUSPA. Beberapa rekomendasi yang diharapkan ialah technical support monev bulanan PUSPA untuk mengetahui dan memberi solusi tantangan-tantangan yang dihadapi tim di wilayah penempatan masing-masing.

Setidaknya, hingga hari ini (22/3) Covid-19 menginfeksi 1,46 juta warga Indonesia. Kendati vaksin telah diberikan kepada 7,84 masyarakat Indonesia, angka tersebut masih jauh untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity). Pada titik ini penting menggarisbawahi kehadiran upaya kesehatan masyarakat untuk mencegah tingkat penularan meninggi.

IAKMI sendiri merupakan organisasi profesi yang telah didirikan sejak 1971. IAKMI beranggotakan ahli-ahli kesehatan masyarakat yang independen dan multidisipliner serta mengabdikan diri untuk persoalan kesehatan masyarakat. Setidaknya hingga Februari 2020, terdapat 36.000 anggota terdaftar IAKMI di seluruh Indonesia.

Kendati memiliki kantor pengurus pusat di Jakarta, kantor-kantor cabang dan pengurus daerah masing-masing tersebar di banyak provinsi di Indonesia. IAKMI sangat berperan penting dalam memberikan rekomendasi teknis terhadap Program PUSPA. Ini karena upaya kesehatan masyarakat dalam program tersebut mengambil porsi besar.

Beberapa sasaran kesehatan masyarakat yang hendak dicapai, di antaranya meningkatkan kapasitas tes mencapai 1:1000 per minggu, meningkatkan rasio lacak kasus menjadi 1:30 per kasus, hingga menurunkan jumlah kasus mencapai 50 persen dari awal kedatangan tim. Adapun, untuk mencapai sasaran tersebut, Tim PUSPA perlu berkoordinasi aktif dengan puskesmas setempat, pemerintah daerah lintas sektor (RT, RW, dll.), serta tokoh-tokoh masyarakat.

“Kurang optimalnya penanganan pandemi juga karena belum maksimalnya fungsi pelayanan kesehatan primer, seperti puskesmas. Setelah (penandatanganan MoU) ini kita bisa berkonsolidasi membahas hal yang dibutuhkan,” ujar Dr. Ede menambahkan kembali.

Program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA) secara resmi diluncurkan pada Selasa (16/3) lalu. Program ini melibatkan 500 tenaga kesehatan terpilih sebagai field officer di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Tim PUSPA akan bertugas menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi terkait 3M, serta mendukung proses vaksinasi selama 6 bulan periode penempatan.

 

Tentang IAKMI

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) adalah organisasi profesi independen dan multidispliner untuk kesehatan masyarakat. IAKMI berdiri sejak 1971 dan memiliki visi untuk menjadi organisasi bertaraf dunia dalam mencapai derajat kesehatan bangsa setinggi-tingginya. Pada 1981 IAKMI menjadi anggota World Federation of Public Health Associations (WFPHA), sebuah asosiasi kesehatan masyarakat internasional yang berpusat di Jenewa, Swiss.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

Share This!