CISDI dan Pemprov Jabar Berangkatkan 500 Tenaga Kesehatan untuk Perkuat Puskesmas di Jawa Barat

Content

Diah Saminarsih, Penasihat Senior Bidang Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO sekaligus pendiri CISDI, berbicara dalam acara pelepasan 500 tenaga kesehatan PUSPA pada Selasa lalu (3/16). (Sumber gambar: Youtube CISDI TV)

Bandung, 16 Maret 2021 – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) bersama dengan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) memberangkatkan 500 tenaga kesehatan terpilih dalam peluncuran Program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA) dalam West Java Mini Town Hall: Pelepasan 500 Tenaga Kesehatan Program PUSPA di Jabar Command Center (JCC), Kota Bandung pada Selasa lalu (16/3).

Gubernur Jawa Barat, M. Ridwan Kamil, menyatakan komitmen penuh Jawa Barat meningkatkan status kesehatan masyarakat. “Penduduk kami banyak dan terletak pada wilayah geografis beragam, sehingga tantangan kami adalah dengan keterbatasan ini harus memaksimalkan pelayanan.” Kang Emil, sapaan akrabnya, tidak menyangkal upaya penguatan pelayanan kesehatan primer di Jawa Barat belum maksimal.

“Rasio puskesmas kami belum baik, puskesmas kami hanya seribuan lebih untuk 50 juta orang. Berbeda dengan Thailand dengan 70 juta penduduk, memiliki 10 ribu puskesmas.” Pandemi Covid-19, menurutnya, menjadi momentum memperbaiki kondisi tersebut. “Salah satu upaya kami (melawan wabah) melalui Program PUSPA yang menerjemahkan nilai-nilai keilmiahan, inovasi, dan juga kolaborasi.”

Program PUSPA adalah inisiatif bersama Pemprov Jawa Barat bersama CISDI untuk menguatkan peran puskesmas dalam penanganan wabah, terutama melalui upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, dan upaya vaksinasi di 100 puskesmas wilayah penempatan di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat.

Diah Saminarsih, Penasihat Senior Bidang Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO sekaligus pendiri CISDI, menyebut Program PUSPA memberi peluang tenaga kesehatan muda terlibat dalam penanganan wabah, khususnya pembangunan kesehatan. “Kenapa orang muda? Pertama, orang-orang muda secara natural memliki keinginan mengubah, berinovasi, membuat sesuatu yang baru, serta berdaya juang tinggi.”

Pada, bulan Desember lalu, Diah menegaskan, WHO telah membuat konsil pemuda sebagai platform pelibatan pemuda dalam pembangunan kesehatan. “Salah satu bentuk pelibatan pemuda terjadi sekarang di Provinsi Jawa Barat melalui orang-orang muda dalam Program PUSPA.”

Selain medium pelibatan tenaga kesehatan muda, PUSPA juga menjadi solusi belum optimalnya peran puskesmas menangani wabah. Survei kebutuhan puskesmas yang dikeluarkan CISDI, KawalCovid-19, dan Cek Diri pada November 2020 menyebut 47% puskesmas responden hanya mampu melacak kurang dari 5 kasus per 1 kontak positif. Sementara itu, 45,4% lain juga belum mendapatkan pelatihan pengendalian dan pencegahan infeksi.

Dalam soal perangkat aturan, ditemukan pula 62% responden yang belum menyediakan SOP penggunaan APD untuk pelayanan pada masa pandemi.

WHO mengatakan, pelayanan kesehatan primer, seperti puskesmas, berperan penting dalam penanganan wabah, terutama untuk melaksanakan diagnosis awal, menjauhkan komunitas setempat dari perasaan gelisah, hingga mengurangi beban rumah sakit.

Sebelum diberangkatkan, Tim PUSPA terpilih telah terlebih dulu mendapatkan materi pelatihan pra-penempatan pada 25 Februari hingga 5 Maret 2021. Selain itu, untuk melaksanakan assessment awal penerapan program di wilayah penempatan, ditempatkan pula Tim Perintis PUSPA sejak Februari 2021 di Puskesmas Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Tim Perintis PUSPA bertugas merencanakan konsep intervensi kesehatan, mendukung upaya penanganan wabah, terutama lacak kasus, serta memastikan kegiatan esensial pelayanan puskesmas juga terlaksana.

“Setelah sebulan penempatan Tim Perintis PUSPA di Puskesmas Cikarang, kami berhasil menurunkan 25% kasus aktif yang ada di wilayah kerja puskesmas,” ujar dr. Novrizal, Kepala Puskesmas Cikarang. Kehadiran Tim Perintis PUSPA, ujar dr. Novrizal juga mendorong munculnya inovasi penanganan wabah. “Kami memulai inovasi bernama SAKA SAKE (Satu Kader Satu Keahlian) untuk mendukung penanganan wabah,” ujarnya kembali.

Setelah diberangkatkan pada Selasa lalu, Tim PUSPA terpilih akan melaksanakan intervensi kesehatan selama 6 bulan ke depan di wilayah penempatan masing-masing di Jawa Barat.

 

Tentang Program PUSPA

Program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang didukung oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dalam memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas. Program ini merekrut 500 tenaga kesehatan sebagai Field Officer yang akan ditugaskan di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Program PUSPA bertujuan menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, menyiapkan vaksinasi Covid-19 hingga memastikan pemenuhan layanan kesehatan esensial di Jawa Barat.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

102 Pengunjung
Share This!