CISDI Tegaskan Pentingnya Integrasi Pengendalian Pandemi COVID-19 ke Mekanisme Pelayanan dan Pembiayaan Sistem Kesehatan

CISDI Tegaskan Pentingnya Integrasi Pengendalian Pandemi COVID-19 ke Mekanisme Pelayanan dan Pembiayaan Sistem Kesehatan
Content

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menegaskan pentingnya integrasi pengendalian pandemi COVID-19 ke mekanisme pelayanan dan pembiayaan sistem kesehatan. (Sumber gambar: Dok. Bonneval Sebastian via Unsplash)

 

Jakarta, 1 Maret 2022 – Melalui dokumen Health Outlook 2022 Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendorong pemerintah mengintegrasikan penanganan wabah dalam pelayanan dan pembiayaan yang tidak terpisah dari sistem kesehatan. 

“Hal yang ingin kami highlight di sini adalah bagaimana pelayanan kesehatan primer yang transformatif menjadi solusi efektif menangani krisis kesehatan,” ujar Gatot Suarman Ilyas, Direktur Eksekutif CISDI.

Berdasarkan catatan CISDI puskesmas memainkan peran penting untuk memastikan proses pelacakan, tes, dan isolasi berlangsung di tingkat paling kecil dengan efektif. Penanganan pandemi yang cenderung sentralistik, seragam, dan terkotak-kotak cenderung menyulitkan Indonesia keluar dari krisis kesehatan ini. “Di sisi lain, pelayanan kesehatan primer yang kuat ketika ataupun setelah krisis pandemi juga menjadi jaminan perbaikan pelayanan kesehatan selama pandemi,” ujar Gatot kembali. 

Langkah-langkah penting penguatan pelayanan primer

CISDI mendorong pemerintah menempatkan pelayanan kesehatan primer sebagai solusi jangka panjang. Adapun, langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertama, mobilisasikan dan siapkan prioritas sumber daya untuk puskesmas. Sumber daya yang dimaksud mencakup (1) sumber daya manusia (SDM), (2) infrastruktur, (3) kapasitas laboratorium, (4) jumlah pelacak kasus, hingga (5) mendukung usaha-usaha penanganan wabah berbasis masyarakat. 

Kedua, berdayakan kader kesehatan dalam upaya penanganan wabah. Komitmen ini akan mendorong berbagai inovasi penanganan wabah di tingkat akar rumput, seperti surveilans berbasis masyarakat (SBM) atau pendampingan kelompok rentan. Di samping itu, kader kesehatan juga berfungsi memberi literasi kesehatan masyarakat.

Ketiga, tingkatkan penggunaan teknologi telemedika. Penggunaan teknologi telemedika dan aplikasi berbasis daring membantu melacak dan menapis kasus. Inovasi telemedika juga berfungsi memastikan pelayanan kesehatan primer yang mungkin sangat terbatas berjalan efisien selama masa pandemi.

Keempat, sosialisasikan revisi pedoman pencegahan dan pengendalian COVID-19 untuk mengantisipasi penyebaran Omicron atau varian mengkhawatirkan baru lainnya. Pemerintah perlu melibatkan berbagai organisasi profesi dan jaringan masyarakat sipil untuk terlibat kolaborasi dalam inisiatif tersebut. 

Kolaborasi yang dimaksud dapat berbentuk perluasan jangkauan sosialisasi revisi hingga pelatihan dan dukungan akses telekomunikasi ataupun informasi bagi tenaga kesehatan.  

“Dengan integrasi pengendalian pandemi ke dalam mekanisme pelayanan dan pembiayaan sistem kesehatan, kami berharap krisis kesehatan ini bisa segera dilalui,” ujar Gatot kembali. 

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi non-profit yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

267 Pengunjung

Share This!