Dikarenakan Kasus Penularan Semakin Tinggi, Penggunaan Masker Menjadi Semakin Penting

Content

Penggunaan masker untuk mencegah penyebaran Covid-19 harus dibarengi penerapan protokol kesehatan lain, yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan. (Sumber gambar: WHO)

Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia mencapai satu juta pada Selasa (26/1) lalu. Melihat tren penambahan kasus harian di atas sepuluh ribu serta positive rate yang hampir selalu di atas 20 persen selama Januari 2021, dapat disimpulkan penyebaran Covid-19 belum terkendali. Karenanya, penerapan protokol kesehatan di lingkungan pribadi semakin penting.

Virus SARS-CoV-2 memang sangat mudah menular dari melalui droplets atau percikan liur yang keluar saat bicara, batuk, atau bersin. Penggunaan masker yang rutin adalah bagian dari tindak pencegahan individu untuk hindari paparan droplets. Namun, sekadar memakai masker saja tidak cukup.

 

Kondisi Wajib

Berdasarkan panduan penggunaan masker yang diperbarui pada Desember 2020 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan masyarakat mengenakan masker ketika berada di luar ruangan serta saat tidak bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dengan orang lain.

Selain itu, WHO juga menyatakan masker sebaiknya digunakan di dalam ruang publik, meski sudah menjaga jarak, kecuali jika ventilasi udara sudah memadai. Termasuk ketika menerima tamu, masker juga harus digunakan.

Untuk kegiatan sehari-hari bagi orang yang merasa sehat, disarankan menggunakan masker kain tiga lapis. Lalu untuk tenaga kesehatan, orang terinfeksi atau terduga infeksi, lansia, serta orang dengan komorbid disarankan menggunakan masker medis. Penggunaan jenis masker yang tepat akan efektif mencegah penularan sekaligus memastikan tenaga kesehatan, pasien, dan kelompok rentan memiliki akses pada masker medis.

 

Tidak Perlu?

Ternyata, anak-anak usia hingga lima tahun tidak perlu menggunakan masker karena tidak efektif. Kemudian, untuk anak-anak usia enam sampai sebelas tahun diperbolehkan menggunakan masker, tetapi harus diawasi agar memakai dengan benar. Sementara anak usia dua belas tahun ke atas harus memakai masker seperti orang dewasa.

Pedoman WHO terbaru ini menyebut masker sebaiknya tidak digunakan saat melakukan aktivitas fisik berat, semisal berolahraga. Bila anjuran ini diterapkan, olahraga hanya bisa dilakukan di tempat yang jauh dari orang lain, seperti di rumah atau gym pribadi.

 

Tidak Cukup

Kebanyakan orang menganggap penggunaan masker cukup mencegah penularan, tanpa mengetahui bagaimana cara menggunakan, menyimpan, membersihkan, atau membuangnya dengan benar. Perlu diingat, masker yang digunakan sangat mungkin terpapar partikel virus sehingga memungkinkan adanya transmisi ketika tidak dibuang atau dicuci dengan hati-hati.

Karenanya, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Pertama, cuci tangan sebelum dan sesudah melepas masker. Kedua, hindari menyentuh bagian depan masker selama memakai dan ketika melepas. Apabila tidak sengaja tersentuh, segera cuci tangan.

Ketiga, pastikan masker menutupi mulut dan hidung, serta minimalisir celah antara wajah dan masker. Keempat, jangan melepas masker ketika berbicara. Terakhir, untuk masker sekali pakai, potong bagian karetnya sebelum dibuang. Sementara untuk mensterilkan masker kain, lebih baik dengan dicuci menggunakan air panas dan sabun atau direbus selama satu menit setelah mencuci.

WHO menekankan masker hanya satu bagian dari tindak pencegahan dan pengendalian infeksi. Masyarakat tetap harus menjaga kebersihan tangan, menjaga jarak minimal satu meter, dan mendapatkan ventilasi yang memadai bila sedang di dalam ruangan. Di sisi lain, pemerintah juga perlu terus mencari kasus, melaksanakan pengetasan, dan mengupayakan isolasi.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

Ardiani Hanifa Audwina

243 Pengunjung
Share This!