Empat Bulan Mengabdi: Ini Tantangan yang Dihadapi Tim PN COVID-19

Content

Kendati telah berjalan selama empat bulan, Tim PN COVID-19 kerap mengalami berbagai tantangan selama menjalankan tugas. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Empat bulan berlalu sejak Tim Pencerah Nusantara COVID-19 (PN COVID-19) diterjunkan ke delapan wilayah di Jakarta dan Bandung untuk menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19. Setiap hari mereka bekerja dengan petugas puskesmas dan masyarakat setempat untuk mempromosikan kesehatan, mengadakan pelatihan, hingga melacak kasus. Pekerjaan itu jelaslah tidak mudah. Dalam keseharian, Tim PN COVID-19, rekan tenaga kesehatan, serta para relawan kerap menghadapi berbagai tantangan. Lantas, masalah apa saja yang kerap mereka hadapi?

  1. Dimarahi hingga Diancam

Petugas kesehatan puskesmas tidak asing dengan sikap protes, amarah, bahkan ancaman ketika melaksanakan tugas. Walau tidak sering terjadi, peristiwa itu kerap membekas dalam pikiran mereka.

Hal ini sempat dialami tim puskesmas di wilayah penempatan Tim PN COVID-19. Pada hari itu, seorang pasien perempuan mendobrak pintu layanan L24 dan menggertak petugas kesehatan lantaran telah menunggu lama.

Pada lain kesempatan, beredar kabar seorang pejabat daerah tidak ingin hadir ke puskesmas untuk melaksanakan tes swab. Sebaliknya, pejabat itu justru meminta petugas puskesmas datang ke rumahnya. Jika tidak dilakukan, sang pejabat mengancam melaporkan keburukan puskesmas tersebut kepada pihak-pihak tertentu.

  1. Diacuhkan Warga

Tim PN COVID-19 di Kecamatan Andir membentuk Gerakan Bersama Masyarakat Lawan COVID-19 (GEBRAK COVID-19). Tim bersama relawan GEBRAK bertugas melaksanakan promosi kesehatan terkait 3M, adaptasi kebiasaan baru, maupun klarifikasi hoaks.

Namun nahas, relawan yang bertugas kerap menemui warga yang tidak mau menerapkan protokol kesehatan. Bahkan sering terjadi beberapa warga menolak mendengarkan penjelasan mengenai pentingnya 3 M. Dalam kesempatan lain, beberapa warga bahkan mengajak relawan GEBRAK dan Tim PN COVID-19 berdebat.

  1. Ketidakjujuran Warga

Salah satu upaya menghentikan wabah, ialah melalui penelusuran kasus. Sayangnya, metode ini cenderung sulit dilakukan lantaran masyarakat kerap bersikap tidak jujur.

Tim PN COVID-19 penempatan Bandung Kulon, sebagai contoh, sering mendapat penolakan warga yang terkonfirmasi positif ketika melaksanakan penelusuran kasus. Beberapa dari mereka tidak mau memberikan nomor kontak erat ke petugas kesehatan. Di lain waktu, ada yang mengaku telah mengisolasi diri di rumah, padahal terdapat laporan lain dari masyarakat.

Ketika menghubungi orang yang terdata sebagai kontak erat, banyak yang tidak mau membalas pesan dan telepon dari petugas. Mereka bersikeras mengatakan tidak pernah keluar rumah sehingga merasa tidak mungkin terkena COVID-19. Tidak jarang, beberapa yang lain memblokir nomor kontak petugas kesehatan.

  1. Tersebarnya Hoaks

Hoaks seperti tuduhan rumah sakit meng-COVID-kan pasien, penemuan obat COVID-19, serta teori konspirasi kerap menyebar di tengah masyarakat. Melalui pesan berantai di grup WhatsApp dan ucapan mulut ke mulut, hoaks sangat mudah dipercayai masyarakat.

Tim PN COVID-19 penempatan Tanjung Priok menemui banyak masyarakat yang menganggap COVID-19 adalah hoaks sehingga abai menerapkan protokol kesehatan. Karena itu, mereka konsisten mendekati masyarakat dan menyelipkan pesan-pesan edukasi dalam obrolan santai dengan warga.

  1. Dianggap Aneh

Selama melakukan intervensi, Tim PN COVID-19 juga bekerja sama dengan relawan kader kesehatan. Namun, baik tenaga kesehatan maupun relawan kerap mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Di Kelurahan Cigondewah Kidul, sebagai contoh, ibu-ibu kader menyampaikan mereka sering dianggap aneh dan sok bersih karena selalu menggunakan masker dan mencuci tangan.

Situasi ini pelik karena memang ada kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak bisa berkompromi dengan COVID-19. Beruntung, menghadapi berbagai tantangan tersebut, Tim PN COVID-19, tenaga kesehatan puskesmas, serta kader relawan tetap bersemangat melakukan promosi kesehatan, surveilans dan lacak kasus serta memberikan pelayanan terbaik.

Pada akhirnya, terdapat banyak tantangan dalam menghadapi COVID-19 di lapangan. Namun, berkat kerja keras, semangat juang, dan dedikasi, kondisi-kondisi tersebut dapat terlampaui dengan baik. Di tengah tantangan yang kerap dihadapi, salah seorang anggota tim bahkan sempat bergurau, “Kader itu gajinya sajuta (sabar, jujur, tawakal), ditabungnya di BCA alias Buat Cadangan Akhirat.”

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.

 

Penulis

Ardiani Hanifa Audwina

8 Desember 2020

122 Pengunjung
Share This!