Ini Catatan Keberhasilan Tim Pencerah Nusantara Covid-19 Hadapi Pandemi di Wilayah Penempatan

Content

Tim Pencerah Nusantara Covid-19 melakukan kolaborasi lintas sektor sebagai salah satu strategi penanganan pandemi Covid-19. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Tahun lalu, ketika Covid-19 menyebar dan menyebabkan kepanikan di seluruh dunia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan strategi penanganan pandemi. Strategi ini meliputi penguatan trace (pelacakan), test (pengujian), treat (perawatan), dan isolate (isolasi). Selain itu, WHO juga mendorong negara-negara anggota memperkuat layanan kesehatan primer sebagai fondasi penanganan pandemi. Di Indonesia, kedua strategi ini bisa dijalankan melalui optimalisasi fungsi puskesmas yang merupakan fasilitas kesehatan terdekat dengan masyarakat.

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) melalui Program Pencerah Nusantara Covid-19 (PN Covid-19) berupaya menerapkan strategi serupa. Pada Juni 2020, CISDI mengirimkan 13 tenaga kesehatan muda mendampingi 8 puskesmas di Jakarta Utara dan Bandung. Selama 8 bulan, tim memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas melalui pelatihan tenaga kesehatan dan kader kesehatan, pelibatan lintas sektor, edukasi masyarakat, serta peningkatan deteksi kasus.

Tim PN Covid-19 kini telah mendekati akhir masa tugas. Pertanyaannya, seberapa besar dampak yang telah mereka berikan di wilayah penempatan? Berikut rangkumannya.

Sukses Melatih Nakes dan Kader

Berdasarkan Survei Kebutuhan Puskesmas yang dilaksanakan CISDI, KawalCovid-19, dan CekDiri pada September 2020 lalu, 45,4 persen puskesmas responden belum mendapatkan pelatihan pengendalian dan pencegahan infeksi layanan pada masa pandemi. Karenanya, pelatihan nakes puskesmas sangat diperlukan. Pada masa tugas, Tim PN Covid-19 berhasil menyelenggarakan 6 pelatihan perihal kompetensi deteksi, pencegahan, dan pengendalian pandemi yang dihadiri 256 tenaga kesehatan.

Selain tenaga kesehatan, tim ikut melatih 300 kader kesehatan masyarakat. Pelatihan bersama Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) ini memberikan pengetahuan bagi kader untuk membentuk Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM). Melalui intervensi kesehatan ini, kader berhasil mengedukasi upaya pencegahan Covid-19 kepada lebih 11.000 warga di wilayah penempatan.

Pelibatan Lintas Sektor

Dalam penanganan wabah, Tim PN Covid-19 melibatkan berbagai pihak, mulai dari puskesmas hingga pemerintah sipil setempat, seperti RT/RW, Kelurahan, dan Kecamatan hingga tokoh satuan gugus tugas daerah dan tokoh-tokoh masyarakat.

Setiap pihak memiliki peran masing-masing. Klinik swasta, contohnya, terlibat membantu puskesmas melaporkan kasus influenza like illness (ILI). Sementara, pemerintah sipil setempat membantu penerapan protokol kesehatan di wilayahnya dan melaksanakan pembatasan sosial berskala mikro, sedangkan tokoh agama dan kelompok pemuda membantu dalam edukasi publik dan promosi kesehatan.

Peningkatan Kapasitas Penanganan

Sesuai rekomendasi WHO, deteksi kasus yang diikuti penanganan dan isolasi adalah kunci memutus rantai penyebaran Covid-19. Puskesmas sendiri berwenang melaksanakan trace, test, treat, dan isolate. Sayangnya, berdasarkan survei kebutuhan puskesmas, mayoritas puskesmas responden belum memiliki akses atau memiliki akses sangat terbatas terhadap tes PCR.

Keberadaan PN Covid-19 berhasil meningkatkan kapasitas testing mingguan melalui advokasi peningkatan kuota tes, tes massal di daerah berisiko tinggi, dan pelatihan swab tenaga kesehatan di puskesmas. PN Covid-19 juga berhasil memantau isolasi dan karantina hampir 6.500 pasien, suspek, dan kontak erat melalui kerja sama dengan puskesmas, kader, dan Satgas Covid-19 di wilayah penempatan.

Pelacakan kasus ikut meningkat melalui SBM. Upaya SBM meliputi promosi kesehatan, identifikasi kelompok rentan (lansia, orang dengan komorbid, dan ibu hamil), pemetaan wilayah berisiko berdasarkan kelompok rentan dan persebaran kasus, serta pemantauan gejala ILI di tengah masyarakat. Melalui pemantauan ILI kasus menjadi lebih cepat terlacak dan terpetakan setidaknya 4.000 kelompok rentan.

Pencapaian Tim PN Covid-19 menunjukkan pentingnya investasi untuk layanan kesehatan primer. Dalam 8 bulan, hampir 190.000 masyarakat menerima manfaat program ini. Strategi 5T yaitu test (deteksi), trace (lacak), treat/isolate (pengobatan dan isolasi), train (pelatihan) dan teach (edukasi) telah direplikasikan di berbagai puskesmas untuk menguatkan respons penanganan pandemi. Tim PN Covid-19 seolah membuktikan, pandemi bisa diselesaikan dari puskesmas.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara Covid-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi Covid-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

 

Ardiani Hanifa Audwina

469 Pengunjung
Share This!