Ini Tiga Pengalaman Pencerah Nusantara di Wilayah Penempatan yang Buat Kamu Terharu

Content

Tim Pencerah Nusantara memiliki berbagai pengalaman mengharukan selama melaksanakan intervensi di wilayah penempatan. (Sumber gambar: CISDI)

Sebagai upaya penguatan pelayanan kesehatan primer atau puskesmas di wilayah bermasalah kesehatan, Program Pencerah Nusantara menuntut komitmen tinggi setiap kandidat terpilih. Tim Pencerah Nusantara tidak hanya bekerja untuk gaji ataupun pengalaman belaka. Memang, dengan mengikuti program ini kandidat terpilih akan merasakan berjuta manfaat dan berkesempatan melatih berbagai keterampilan. Kedua hal tersebut berpengaruh besar terhadap peluang pengembangan potensi diri di masa depan, seperti untuk kebutuhan mencari kerja ataupun mendapatkan beasiswa.

Walau demikian, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, tim terpilih kerap menghadapi beragam tantangan dan cobaan di wilayah penempatan. Tidak jarang, tantangan-tantangan itu sebabkan tekanan mental. Berbagai catatan penugasan menyebut tim alami konflik internal, perasaan gelisah, hingga sulit beraktivitas dengan tenang lantaran tingginya ekspektasi dan tantangan di lapangan.

Akan tetapi, beratnya pengalaman yang dialami kerap terhapus senyum kebahagiaan ketika program intervensi kesehatan yang dijalankan berjalan baik, memberi dampak, dan tentunya menimbulkan kebahagiaan bagi masyarakat sekitar. Pengalaman mengesankan itu tidak terjadi satu dua kali saja. Berikut kami rangkumkan beberapa kisah keberhasilan mengharukan Tim Pencerah Nusantara di wilayah penempatan.

ASI untuk Defan

Kelurahan Tumbang Miri terletak di Kecamatan Kahayan Hulu Utara, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Kelurahan ini memiliki tradisi unik, yakni memberi makan balita santan dan kopi. Masyarakat setempat terus mempertahankan tradisi ini dan mewariskannya dari generasi ke generasi, meski mereka memahami tradisi tersebut tidak memiliki manfaat kesehatan.

Tim Pencerah Nusantara Angkatan VI (PN VI) bertugas menangani persoalan ini sejak awal. Berbekal semangat pemerintah daerah Kabupaten Gunung Mas meningkatkan capaian bayi mendapat ASI hingga angka 47 persen, Tim PN VI giat laksanakan edukasi publik. Lantaran tradisi yang kian melekat, tidak banyak hasil positif di awal-awal intervensi.

Namun, ketika perwakilan Puskesmas Tumbang Miri melaksanakan kunjungan rumah, didapati seorang bayi yang lulus ASI eksklusif. Bayi itu bernama Defan dan ia merupakan satu-satunya bayi yang lulus ASI eksklusif di Kecamatan Kahayan Hulu.

“Defan berbeda dengan kakaknya. Dulu kakaknya langsung dikasih santan dan kopi oleh tambi (nenek) dan bue (kakek) begitu lahir,” ujar Arbayah, Ibu Defan. Memang, Defan tidak serta merta mendorong ibu-ibu lain menyediakan ASI bagi bayi-bayi mereka, namun kehadirannya menegaskan informasi yang tepat dapat mendorong ibu-ibu menyediakan asupan bergizi bagi anak-anaknya.

“Defan memberi angin segar bagi tenaga kesehatan dan masyarakat. Ini membuktikan, jika ibu diberikan informasi yang tepat, pemenuhan gizi sangat mungkin dilakukan,” tutur Rima Sumayyah Ahmad, ahli gizi Tim PN VI.

Gizi Buruk Keluarga Andong

Sekitar Juli 2018, seorang bayi berusia 9 bulan di Desa Ulu Onembute, Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Utara mengalami gizi buruk. Kondisi memprihatinkan bayi bernama Andong itu baru diketahui ketika sang ibu membawanya ke posyandu.

Tim PN VI yang bertugas di wilayah tersebut kaget ketika melihat berat badan Andong turun dari 5,7 Kg pada bulan sebelumnya menjadi 3 Kg. Andong ketika itu berbadan kurus, garis tulangnya terlihat, raut mukanya seperti orang tua, dan kepalanya sedikit membesar. Tim PN dan kader kesehatan setempat lantas bergegas membawa Andong ke puskesmas setempat.

Mereka sadar orangtua Andong menerapkan pola asuh kurang tepat terhadap Andong. Mereka tidak pernah menyediakan ASI eksklusif ataupun memberi makanan pengganti ASI. Alhasil, kondisi gizi Andong terganggu dan ia pun sulit beraktivitas. Beruntung, tim dan kader setempat cepat bergerak.

Pertama-tama, mereka sediakan informasi tentang kebutuhan gizi kepada ibu Andong. Selanjutnya, tim dan petugas rutin mengedukasi sang ibu perihal pemberian ASI hingga dua tahun. Tidak lupa, mereka juga menekankan pentingnya lingkungan rumah yang bersih dan sehat untuk pertumbuhan anak.

Seiring waktu, upaya ini berbuah hasil. Berat badan Andong berangsur membaik hingga mencapai 8,5 Kg, status gizinya pun menjadi gizi baik. Setelah terpapar banyak informasi, keluarga Andong semakin memperhatikan Andong, mereka tidak mau lagi Andong sengsara dan alami kesulitan seperti dulu.

“Ibu bidan sudah mengajari saya banyak hal tentang makanan sehat untuk anak saya. Sekarang berkat ibu dan yang lainnya saya jadi tahu. Anak saya sekarang tidak kurus lagi,” ujar Ibu Andong di suatu kesempatan.

Intervensi kesehatan ini pada akhirnya berbuah manis. Tim PN VI menyadari masih banyak kondisi serupa Andong yang perlu diperbaiki. Keberhasilan ini juga menyulut semangat tim untuk terus berjuang sekeras mungkin, mereka tidak ingin melihat lagi ada bayi-bayi yang alami gizi buruk seperti Andong.

Kebun Gizi Mentawai

Selain melaksanakan intervensi kesehatan melalui edukasi, Tim PN juga kerap memaksimalkan upaya pengembangan masyarakat. Contohnya, pada penugasan Pencerah Nusantara Cohort I (2012-2015) lalu, tim bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat menyelenggarakan Program Kebun Gizi Mentawai.

Keterbatasan pangan dan ketidaktahuan masyarakat setempat tentang nilai gizi kerap menimbulkan persoalan gizi buruk dan stunting di wilayah penempatan. Di samping itu perlu diakui, akses terhadap bahan pangan bergizi pun masih belum memadai di beberapa wilayah penempatan Program Pencerah Nusantara.

Situasi ini tentu saja menyebabkan warga setempat mengakses bahan pangan bergizi. Padahal, bahan pangan bergizi sangat penting bagi ibu hamil, balita, hingga masyarakat lain yang melaksanakan aktivitas kerja fisik. Di sinilah kehadiran pangan lokal yang terfasilitasi melalui Kebun Gizi Mentawai menjadi penting.

Kebun Gizi Mentawai adalah intervensi gizi melalui aktivitas penanaman sayur dan buah di tanah lapang yang terletak di belakang Puskesmas Sikakap, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Kebun lapang di belakang puskesmas tersebut ternyata memiliki tanah yang subur dan bisa ditanami berbagai jenis sayur dan buah berkualitas baik.

Kehadiran Kebun Gizi Mentawai berpengaruh positif membangun kesadaran kesehatan masyarakat Mentawai. Hal ini terlihat dari meningkatnya kunjungan Puskesmas Sikakap dalam waktu tiga tahun. Selain itu, kehadiran kebun ini menguatkan pengembangan pangan lokal di Kecamatan Sikakap, Mentawai sehingga meningkatkan sumber ketahanan pangan penduduk setempat.

Kehadiran kebun gizi ini turut berpengaruh terhadap sektor ekonomi. Sejak dilaksanakan pertama kali, kebun gizi ini berkontribusi terhadap peningkatan pasokan sayur dan buah organik di Kecamatan Sikakap Mentawai. Dengan demikian, masyarakat bisa secara mandiri menentukan sumber alternatif makanan harian.

Jika harus dibahas lebih lanjut, masih banyak keberhasilan Tim Pencerah Nusantara yang berdampak positif bagi masyarakat setempat. Beberapa poin di atas bisa menjadi pengantar yang baik untuk menggambarkan manfaat kehadiran Tim PN di wilayah penempatan masing-masing. Defan, Keluarga Andong, dan masyarakat mentawai adalah sekelompok orang yang telah menerima manfaat kehadiran Tim PN.

Tentu, untuk mewujudkan segala keberhasilan yang telah disampaikan tidaklah mudah. Tim perlu berjuang keras, berkompromi terhadap beragam situasi, hingga memutar otak sekeras mungkin untuk dapatkan hasil terbaik. Berkat kerja keras merekalah keberhasilan-keberhasilan kecil terwujud dan lantas menghasilkan kisah sukses yang mengharukan, tidak hanya bagi Tim PN, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

 

Tentang Pencerah Nusantara

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi kesehatan, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

 

Penulis

 

Amru Sebayang

439 Pengunjung
Share This!