Melihat Semangat Perlawanan Wabah Melalui Film Denting Produksi CISDI

Content

Film Denting merupakan fiksi ilmiah produksi CISDI yang merupakan metafora dari upaya penanganan wabah COVID-19 di Indonesia. (Sumber gambar: CISDI)

Film merupakan medium penyampai pesan paling baik. Itu sebabnya, pada peluncuran dokumen kebijakan kesehatan Health Outlook 2021 (HO 2021) tahun ini, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) meluncurkan film pendek berjudul Denting. Iman Mahaputra Zein, sutradara film ini, menyebut filmnya mampu menyampaikan pesan dokumen kebijakan HO 2021 dalam bentuk lebih populer dan mudah dicerna publik.

Namun di luar itu, apa yang hendak disampaikan film ini? Sina, sang karakter utama, mendapati desa tempat tinggalnya luluh lantah. Warga-warga meninggal perlahan dikarenakan serangan wabah misterius, meninggalkan Sina satu-satunya yang tersisa. Seorang warga yang tengah sekarat berpesan, “Pergilah ke barat dan temukan dia yang menghilang.” Perjalanan Sina lantas dimulai.

Desa pertama yang ia kunjungi adalah Desa Koro. Desa ini berisikan masyarakat umum dan diketuai seorang tetua setempat. Dibicarakan antara Sina dengan sang tetua perihal ketanggapan, kecepatan, dan kesigapan penanganan wabah. Mereka berdua bersepakat, bahwasanya wabah bisa dicegah, andaikata dulu dia yang menghilang mewujudkan komitmen pencegahan sesegera mungkin. “Di awal kemunculan, dia yang menghilang begitu yakin wabah tak akan sampai di sini,” ucap sang tetua mengingat.

Sang tetua lantas meminta Sina menuju Desa Tolok. Di akhir percakapan ia menyebut, “Ingatlah; kerja sama.” Desa Tolok adalah desa berisikan tenaga-tenaga kesehatan yang terdampak luas dikarenakan wabah ini. Sang tetua desa menyebut, ratusan ‘prajurit’ tenaga kesehatan telah meninggal dikarenakan wabah. Situasi pandemi menyulitkan ‘prajurit-prajurit’ bekerja maksimal lantaran siapa-siapa saja yang terinfeksi virus telah berada dalam kondisi kritis.

Namun, mereka pun tidak mengiba diri. Sebaliknya, tetua menyebut andaikan dia yang menghilang muncul lebih awal, kematian warga desanya tidak akan terjadi. Ia lantas menganjurkan Sina pergi ke Desa Pitih. Harapannya, dia yang menghilang segera ditemukan dan segala bencana wabah lekas teratasi. “Ingatlah; kemanusiaan,” ujarnya kepada Sina di akhir pertemuan.

Sina sudah letih dalam perjalanan dan jatuh pingsan di depan gerbang menuju Desa Pitih. Sebangunnya ia dari ketidaksadaran, muncul sang tetua desa di hadapannya. Desa Pitih berisikan warga biasa, mereka sudah terlanjur hilang harapan dengan dia yang menghilang. Alasannya, terlalu banyak uang yang dibutuhkan untuk membenahi situasi ini. “Semua lumpuh, selumpuh-lumpuhnya,” ujarnya.

Meski demikian sang tetua sadar, Sina bersungguh-sungguh menemui dia yang menghilang. Ia lantas mengirim Sina ke sebuah ruang dan waktu yang lain, bertemu dengan dia yang menghilang, yang ternyata tertidur nyenyak di pembaringannya. “Ingatlah; kepemimpinan,” ujar sang tetua di akhir pertemuan.

Metafor

Dalam hal simbol, bahasa, dan rujukan tanda-tanda lainnya, tidak sulit menemu makna metafor yang hendak disampaikan film ini. Sina, sebagai tokoh utama, adalah penjelmaan dari semangat publik yang mencari-cari cara terbaik penanganan wabah. Dalam upayanya ia terjatuh, terkapar, dan hilang kesadaran. Namun komitmen serta semangatnya terlampau besar untuk dihentikan beragam rintangan. Situasi ini menyiratkan, betapapun publik lelah menghadapi wabah, semangat mereka tidak akan terkubur hingga pandemi ini selesai.

Tetua-tetua desa adalah representasi publik luas dengan beragam kepentingan. Desa Koro adalah wujud fisik dari masyarakat sipil, seperti LSM hingga media, yang begitu kritis mengikuti alur kebijakan penanganan wabah. Desa Tolok adalah representasi komunitas tenaga kesehatan yang ‘berumahkan’ puskesmas dan rumah sakit selama pandemi. Sementara, Desa Pitih adalah metafor dari komunitas akademik, ahli, dan pakar yang menguasai beragam ilmu, namun jarang didengarkan.

Lantas, menjadi pertanyaan kemudian, siapakah dia yang menghilang? Pada bagian akhir cerita Sina memutar lagu dari kotak musik yang ia temukan di tengah perjalanan. Di hadapannya terkulai dia yang menghilang, terbaring dan tanpa tenaga. Kotak musik itu ajaib, menghubungkan batin Sina dengan seluruh warga desa. Sina meminta mereka membunyikan lonceng kecil untuk membangunkan dia yang menghilang. Segera setelah itu, film berakhir.

Denting adalah film fiksi ilmiah bertemakan pembangunan kesehatan. Kita mampu menilai simbol di sepanjang cerita sebagai harapan publik terhadap pemerintah dalam penanganan wabah. Itu sebabnya, masing-masing tetua desa menyebut pesan-pesan di akhir perbincangan; kerja sama, kepemimpinan, dan kemanusiaan.

Tiga poin itu menegaskan kesalinghubungan peran masyarakat dengan pemerintah menangani kondisi wabah. Kerja sama dibutuhkan dalam kadar memastikan virus tidak menyebar luas, terimplementasi melalui disiplin 3M masyarakat dan komitmen pencegahan 3T pemerintah. Kepemimpinan merujuk ketegasan peran pemerintah menekan infeksi dan mengendalikan wabah, serta menyampaikannya dengan baik kepada masyarakat hingga terjalin kepercayaan harmonis di antara keduanya.

Sementara itu, kemanusiaan adalah tujuan akhir upaya pengendalian wabah; memastikan kesehatan individu dan populasi terlindungi, mencegah sekuat tenaga tiada satu orang pun menjadi korban di tengah wabah.

Seluruh rakyat yang mendentingkan lonceng kecil di bagian akhir, merupakan simbol penegas publik menuntut keseriusan pemerintah menghadapi wabah. Tuntutan mereka tidak muncul dari dentuman amarah, melainkan bunyi-bunyi merdu, kecil, dan teduh dari dentingan lonceng yang bila digetarkan serentak mampu menjadi gemuruh besar.

Sebagai fiksi ilmiah, tentu banyak referensi peristiwa penanganan wabah, dengan beragam situasi aktual, masuk dalam komponen film ini. Namun situasi itupun tidak lantas menyulitkan masyarakat menikmati film ini. Terbukti, dari penayangan perdana pada 18 Desember lalu, film ini telah ditonton lebih dari seribu kali.

Bagi kalian yang ingin merasakan semangat perlawanan wabah dalam film ini, mari saksikan Denting melalui link berikut ini!

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

496 Pengunjung
Share This!