Meningkatkan Kepatuhan Protokol Kesehatan Masyarakat Melalui Komunikasi Perubahan Perilaku

Content

CISDI mengadakan lokakarya daring Kampanye Perubahan Perilaku yang dihadiri 240 perwakilan tokoh masyarakat, tokoh agama, tenaga kesehatan dan kader serta relawan di seluruh wilayah intervensi Program ACTION. (Sumber gambar: Dok. CISDI)

 

Penerapan protokol kesehatan masyarakat adalah kunci menghadapi pandemi Covid-19. Sayangnya, tingkat kepatuhan masyarakat di berbagai daerah beragam. Hasil Monitoring Kepatuhan Protokol Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 4 April 2021 menyebut 57 kabupaten/kota yang memiliki tingkat kepatuhan memakai masker kurang dari 60 persen sementara 51 kabupaten/kota memiliki tingkat kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan kurang dari 60 persen.

Menyadari pentingnya teladan tokoh setempat, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama, tenaga kesehatan, kader, dan perwakilan Satgas Covid-19 Kota Administratif Jakarta Timur, Kabupaten Bogor, Kota Yogyakarta, Kabupaten Lombok Timur, dan Kota Makassar  untuk bersama-sama merumuskan  Kampanye Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan Covid-19.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 23 Maret hingga 15 April 2021 ini merupakan bagian dari Program ACTION (Active Citizens Building Solidarity and Resilience in Response to COVID-19) yang bertujuan menguatkan upaya penanganan Covid-19 di lima wilayah tersebut.  Dengan pendanaan penuh dari Uni Eropa, Program ACTION diinisiasi oleh Hivos dan dilaksanakan oleh CISDI, KAPAL Perempuan, PAMFLET, PUPUK, dan SAPDA.

 

Pesan Kunci Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku membutuhkan pemicu yang dipengaruhi oleh 3E: engineering (modifikasi lingkungan), enforcement (penerapan yang tegas) dan education (persebaran informasi untuk edukasi). Edukasi erat kaitannya dengan keterlibatan seluruh pihak seperti tokoh masyarakat, guru, tenaga kesehatan dan kader. Dalam pelaksanaan edukasi, dua unsur yang perlu diperhatikan yaitu pesan kunci dan metode penyampaian pesan.

Sebagai pemantik diskusi, fasilitator menampilkan pesan-pesan kunci yang sudah disusun untuk kelompok sasaran utama, seperti kepala keluarga, ibu/istri, remaja, dan lain sebagainya. Semisal untuk remaja, pesan kunci yang ingin disampaikan adalah, “Ingatkan seluruh anggota keluarga agar patuh protokol kesehatan di luar dan di dalam rumah agar pandemi tidak semakin mengganggu aktivitas keluarga.”

Pesan ini ditanggapi Budi, kader Karang Taruna di Wirobrajan, Yogyakarta. Ia berpendapat konsep kampanye promosi kesehatan untuk anak-anak dan remaja harus menyertakan kata-kata yang menarik perhatian, seperti, “Sebelum cium pacarmu, cium dulu maskermu,” karena menurutnya, anak usia remaja banyak yang sudah berpacaran.

Pada diskusi dengan tokoh masyarakat di wilayah Jakarta Timur, Karyawati, perwakilan masyarakat dari Kelurahan Bidara Cina, menyampaikan pendapat serupa. “Saya tidak setuju dengan pesan kunci di atas karena remaja sekarang sulit sekali (untuk diajak menaati protokol kesehatan). Mungkin kata kuncinya harus ada yang relevan dengan ketertarikan mereka,” ujarnya.

Terdapat banyak masukan yang diberikan peserta lokakarya selama sesi diskusi. Pada diskusi wilayah Lombok Timur contohnya, Chairul Anwar, Guru SDN 2 Pancor, Kelurahan Serong, mengajukan pesan kunci lain, yaitu “Sayangilah nyawamu dan nyawa orang lain, masker bisa dibeli tetapi nyawa tidak bisa dibeli.”

Ada pula yang memberikan masukan untuk menampilkan testimoni penyintas Covid-19 sebagai bagian dari promosi kesehatan sekaligus memasukkan pesan Covid-19 bukanlah aib. Sementara itu, peserta lain ikut menegaskan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam upaya komunikasi.

 

Beragam Teknik Penyampaian Pesan

Setelah selesai mendiskusikan pesan kunci untuk setiap kelompok sasaran, diskusi memasuki bagian kedua mengenai cara penyampaian pesan. Pada sesi ini, peserta menceritakan beragam cara yang sudah mereka lakukan untuk mempromosikan protokol kesehatan.

Untuk pesan satu arah, cara yang paling banyak dilakukan adalah menempelkan poster dan spanduk di tempat-tempat umum serta berkeliling menggunakan pengeras suara untuk menyebarkan pesan promosi kesehatan. Lalu untuk pesan dua arah, sebagian besar menyampaikan promosi kesehatan melalui grup WhatsApp wilayah dan menyelipkannya pada obrolan ringan bila bertemu tetangga.

Dukungan tokoh masyarakat dan kader membantu promosi kesehatan sangat dihargai pihak puskesmas. Pasalnya, saat ini tenaga kesehatan di puskesmas sedang disibukkan dengan program vaksinasi sehingga porsi aktivitas promosi kesehatan berkurang. Meski program vaksinasi penting untuk menekan angka kematian dan kesakitan akibat COVID-19, namun deteksi kasus (testing), lacak kasus (tracing) dan pengobatan (treatment) serta perilaku protektif tetap menjadi metode terefektif menekan penyebaran virus SARS-COV-2.

Egi Abdul Wahid, Direktur Program CISDI, menyebut pemerintah daerah dan tokoh masyarakat memiliki banyak inisiatif mengedukasi masyarakat terkait pencegahan COVID-19. Sebagai tindak lanjut dari lokakarya ini, CISDI bersama semua pemangku kepentingan yang mengikuti lokakarya akan melaksanakan kampanye perubahan perilaku dari April hingga Juni 2021. Diharapkan kehadiran kampanye-kampanye mikro mampu mendorong masyarakat di wilayah intervensi kembali meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap pandemi COVID-19.

 

Penulis: Ardiani Hanifa Audwina (CISDI)

 

Materi publikasi ini diproduksi dengan bantuan hibah dari Uni Eropa. Pendapat/pandangan yang dinyatakan dalam materi publikasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab CISDI dan bukan mencerminkan pendapat/ pandangan Uni Eropa.

371 Pengunjung
Share This!