Menjadi Tenaga Kesehatan Buat Kami Sadar Pentingnya Kepemimpinan

Content

Doa bersama sebelum tes rapid dan swab massal di Kelurahan Papanggo bersama Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, masyarakat sekitar (08/07). (Sumber gambar: Dok. PN-COVID19)

 

“Saya tantang kalian mengedukasi pasien COVID-19 door to door, berani tidak?” tegur Pak Lurah kepada kami. Kami yang memperkenalkan diri dengan ramah di kantor lurah itu justru disambut tantangan. Peristiwa itu tentu saja buat kami bertiga, Tim Pencerah Nusantara COVID-19 penempatan Tanjung Priok was-was bukan kepalang.

Pak Lurah berharap kami melakukan edukasi warga dari pintu ke pintu. Tentu saja ide luar biasa ini ditolak langsung oleh Kepala Puskesmas yang mendampingi kami karena memiliki risiko yang tinggi tertular, jika tidak menggunakan APD yang lengkap, Jika hal itu jadi dilakukan tentunya akan membuat geger kelurahan setempat dan memperkeruh stigma yang ada.

Sejak kedatangan awal Juli lalu, sudah sebulan lebih dua hari kami berada di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kami banyak bertemu pemangku kebijakan sebagai advokasi mencegah penyebaran COVID-19.

Kami sudah bertemu Camat dan Lurah di tiga kelurahan di Kecamatan Tanjung Priok. Pedagang-pedang pasar juga rekan kerja kami melakukan active case finding yang bertujuan untuk menemukan kasus di pasar. Selain itu, kami juga melaksanakan pemeriksaan massal di tiga kelurahan dari tujug kelurahan yang ada di Kecamatan Tanjung Priok. Dari upaya-upaya kesehatan itu, kami mulai memahami karakteristik masing-masing pemimpin formal maupun non-formal.

Pertama kali bertemu Lurah yang menganggap enteng penanganan COVID-19, kami sadar ada sesuatu yang salah. Salah satunya ialah lemahnya kuasa lurah sehingga banyak pedagang yang tidak mengikuti tes swab massal karena tiadanya ‘tekanan’ dari pihak pasar dan pihak kelurahan.

Jika saja Lurah ini memiliki berani memberi sanksi pelarangan aktivitas dagang bagi siapapun pedagang yang tidak mau mengikuti tes swab massal, kegiatan active case finding akan berjalan dengan lancar.

Beruntungnya pada hari lain advokasi, kami bertemu dengan Lurah yang santai, namun tahun betul cara menggunakan kuasanya. Diselingi makan siang berlauk ikan asin ditambah sayur asem di saung Lurah itu, kami melaksanakan Community Rapid Assessment (CRA).

Data yang kami miliki menunjukkan Lurah ini berhasil melandaikan kurva persebaran di wilayahnya, meski mengalami tekanan dari banyak pihak. “Semuanya (pandemi ini) harus dijalani dengan senang hati, walaupun Tunjangan Kinerja Daerah dipotong, kita tetap harus kerja menyelamatkan warga,” jawabnya tenang.

 

Perang Akar Rumput

 

 

Tim PN COVID-19 berdiskusi terkait pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Kelurahan Sunter Agung bersama Lurah Sunter Agung (13/07). (Sumber gambar: Dok. PN COVID-19)

Mendengar jawaban lurah itu, kami jadi teringat materi pra-keberangkatan tentang Perang Akar Rumput COVID-19 (PARC-19). PARC-19 merupakan strategi perang total yang melibatkan semua elemen masyarakat untuk memastikan masyarakat dapat bertahan hidup dalam situasi pandemi COVID-19 agar tetap berdaya, sehat dan produktif. Dalam model socio-ecological PARC-19 di tataran organizational, lurah berperan dalam implementasi kesiapsiagaan wilayah mulai dari tingkat RW.

Berdasarkan hal itu, kami paham bahwa pihak kelurahan maupun masyarakat berperan untuk mengendalikan COVID-19.  Pihak kelurahan seharusnya masuk ke wilayah pihak-pihak yang memiliki interest dan kuasa yang tinggi dalam mengatur dan mengimbau warga untuk mengikuti perintah dalam menaati protokol kesehatan dan pemeriksaan massal.

Mulai dari Pak Lurah hingga sampai perangkat RT yang merupakan pemangku kebijakan yang terlibat harus benar-benar memahami bahwa posisinya memiliki kuasa yang besar untuk mengedukasi warga. Kerja sama lintas sektor ini penting, mengingat Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok tidak akan mampu menjangkau 400.000 lebih warga pada wilayah administratifnya.

Puskesmas sebaikya mempersiapkan sumber daya manusia dan pihak kelurahan setempat seharusnya mempersiapkan tempat bagi warga yang akan diperiksa.  Tanpa adanya kerja sama ini kegiatan active case finding tidak akan berjalan baik.

Jika delapan orang personil puskesmas dengan APD level tiga bertugas hanya untuk 40 orang dari target 200 kandidat uji usap, usaha kesehatan tidak akan berjalan maksimal dan APD sekali pakai akan terbuang percuma.

Seharusnya, kerja sama lintas sektor yang baik dimulai dari Lurah yang menggerakkan warganya terlibat dalam tes. Ketika terlihat political will yang baik dari Lurah, Pihak RW, dan RT dipastikan akan mengikuti dan membentuk tim yang solid.

Tim pemimpin wilayah administrasi ini harus berjalan beriringan dengan pihak puskesmas sebagai unit pelaksana teknis yang paling dekat dengan masyarakat dalam melakukan penanggulangan COVID-19. Terciptanya kerja sama yang baik, dipastikan akan melandaikan kurva penyebaran kasus sehingga kemenangan melawan COVID-19 menjadi semakin dekat.

 

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Anditha Nur Nina (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara COVID-19, Penempatan Wilayah Kecamatan Tanjung Priok

7 Agustus 2020

124 Pengunjung
Share This!