Mimpi Zakiah untuk Anak Perempuan Indonesia

Content

Zakiah (kiri) terpilih mengikuti program #GirlsTakeOver, menjadi Country President AstraZeneca Indonesia selama sehari. (Sumber gambar: Youtube Plan Indonesia Official Channel)

“Cita-citaku ingin jadi guru karena menurutku berbagi (pengetahuan) adalah kebutuhan,” ujar Zakiah (16) dalam sebuah percakapan. Sehari-hari siswi kelas 11 SMA di Jakarta Utara ini mengikuti kelas daring dan beberapa kegiatan luar sekolah.

Ia paham pendidikan adalah alat penting untuk membuat perubahan. Itu sebabnya di samping OSIS, ia mengikuti Young Health Programme (YHP), sebuah program pendidikan kesehatan anak muda melalui metode pendidikan sebaya. YHP terselenggara atas kerja sama Yayasan Plan International Indonesia (Plan), CISDI, dan Yayasan Lentera Anak.

Sebagai seorang pendidik sebaya, Zakiah memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap hak-hak anak perempuan. Ibunya selalu mengajarkan nilai-nilai kemandirian dan kejujuran. Gambaran ini selalu terekam jelas di benak Zakiah, mendorong Zakiah berpikir anak perempuan punya potensi yang sama dengan anak laki-laki untuk menjadi pemimpin. 

“Selagi kita (anak perempuan) mampu dan punya kemauan untuk berkembang, kita juga bisa menjadi pemimpin,” singgungnya. 

Beberapa bulan lalu, Zakiah mengikuti seleksi program #GirlsTakeOver yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia. Program ini berupaya mempromosikan inklusi bagi anak perempuan di dunia kerja. Melalui program ini, anak perempuan berkesempatan menjadi petinggi di salah satu instansi pemerintah maupun non-pemerintah selama sehari. 

Karena penasaran, Zakiah lantas mengikuti seleksi itu. Ia mengirim berkas, menulis esai, dan mengikuti wawancara. Dalam benaknya tidak pernah terlintas pikiran terpilih. Ribuan anak perempuan mengikuti seleksi ini dan peluang untuk lolos sangat kecil. 

“Waktu itu sebenarnya nyoba-nyoba aja. Belum ada pikiran bisa lolos sih,” katanya. Namun, Zakiah berhasil, ia terpilih mengikuti program ini. Dari tujuh orang yang lolos sesi wawancara, ia lantas menjadi finalis utama. Selama satu hari ia akan menjadi Country President AstraZeneca menggantikan Sewhan Chon pada 8 Oktober 2021. 

“Aku nggak nyangka bisa sampai ke tahap ini.”

 

Jadi presiden sehari

Satu hari Zakiah memimpin AstraZeneca Indonesia tidak mudah. Ia perlu memimpin town hall meeting yang diikuti beberapa jajaran direksi AstraZeneca. Beberapa hari sebelumnya ia telah belajar banyak bersama Plan Indonesia. Ia membawa catatan yang bisa dibaca dan dibuka sewaktu-waktu, mencegahnya dari kesalahan yang mungkin terjadi. 

Namun salah satu yang paling menguatkan Zakiah adalah pertemuannya dengan pemenang #GirlsTakeOver lainnya. Mereka menjadi pemimpin sehari di instansi lain seperti Zakiah. “Bertemu sama kakak-kakak #GirlsTakeOver yang hebat-hebat lainnya buat aku excited banget.”

 Dalam town hall meeting hari itu ia kembali menyebut sang ibu. Ia sampaikan anak perempuan bisa juga menjadi pemimpin seperti yang ia alami sekarang. “Saya selalu melihat ibu saya sebagai pemimpin perempuan terbaik dalam hidup saya. Perempuan hebat akan membesarkan pemimpin perempuan yang hebat juga,” tuturnya. 

Saat ini, representasi perempuan dalam posisi senior instansi atau organisasi memang masih jauh dari ideal. Global Gender Gap Report milik World Economic Forum menyebut hanya 22,10% perusahaan Indonesia yang memiliki perempuan di tingkat kepemimpinan manajerial. 

Indeks kesenjangan gender laporan yang sama menempatkan Indonesia pada posisi 101 negara dengan persoalan gender tertinggi dari 156 negara terdata. Ini membuktikan masih kurangnya kesempatan bagi perempuan untuk menempati posisi strategis di berbagai bidang pekerjaan. 

“Saya ingin sampaikan bahwa anak perempuan juga bisa menunjukkan kinerja sama baiknya dengan laki-laki tanpa adanya batasan gender,” tegas Zakiah bersemangat. 

 

Berawal dari pendidik sebaya

Jauh sebelum mengikuti #GirlsTakeOver, Zakiah sudah menjadi pendidik sebaya untuk YHP. Berbekal kemampuan public speaking dan berpikir kritis yang telah ia pelajari, kepercayaan diri Zakiah tumbuh. Pasca sehari menjadi presiden direktur, ia tidak segan tampil di depan umum.

“Aku sudah mulai diminta memimpin event atau jadi MC untuk kegiatan YHP atau sekolah. Beberapa kali juga diminta wawancara atau bikin podcast,” ujarnya tersenyum. 

Keikutsertaan Zakiah sebagai pendidik sebaya YHP berbuah manis. Pada Hari Kesehatan Nasional 12 November lalu ia menjadi MC untuk paparan publik hidup sehat untuk anak muda di sekolahnya bertajuk Healthy Days. Kegiatan yang didukung YHP itu dihadiri lebih dari 200 siswa. “Sebelumnya di sekolahku belum ada yang seperti ini,” ujarnya. 

Zakiah tentu pernah alami persoalan kepercayaan diri, namun ia berhasil mengatasinya dengan berbagai cara. “Dulu aku kurang percaya diri ngomong bahasa Inggris, tapi lalu dibantu oleh Plan sehingga lebih baik,” tuturnya. 

Pengalaman ini sesuai dengan motto hidup Zakiah: “Kita coba dulu, urusan berhasil atau tidak itu belakangan.” Di masa depan Zakiah berharap cita-citanya menjadi guru tercapai. Ia ingin tidak hanya menjadi guru, tetapi menjadi guru relawan yang mengabdi di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia.  

Zakiah punya mimpi besar untuk anak perempuan di Indonesia. Ia ingin mereka tidak takut mencoba sesuatu yang baru dan mengambil peran-peran penting. Ini yang mendorongnya terus terlibat dalam YHP dan beragam aktivitas lainnya. 

Kepada seluruh anak perempuan Indonesia, ia lantas berpesan, “Jangan pernah takut mencoba sesuatu yang baru, sejauh ada kemauan kita pasti bisa,” tutupnya.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

117 Pengunjung
Share This!