Obesitas Mengintai di Balik Pandemi Covid-19

Content

Obesitas meningkatkan risiko kematian terkait Covid-19, sementara penanganan Covid-19 menyebabkan prevalensi obesitas meningkat. (Sumber gambar: Freepik.com)

 

Jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2020, diam-diam sudah ada pandemi lain yang menyebar yaitu obesitas. Sebuah studi yang dipublikasikan New England Journal of Medicine menyebutkan dua miliar atau sekitar 30 persen penduduk dunia menderita gemuk atau obesitas. Peningkatan ini sejalan dengan temuan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang menyatakan jumlah penderita obesitas di dunia meningkat tiga kali lipat sejak 1975. Situasi ini perlu menjadi perhatian mengingat orang dengan obesitas memiliki resiko lebih tinggi untuk tertular Covid-19.

 

Obesitas dan Risiko Kematian di Masa Pandemi

WHO mendefinisikan kegemukan atau obesitas sebagai akumulasi lemak yang berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Kalkulasi kegemukan atau obesitas bisa diukur dari Indeks Massa Tubuh (body mass index/BMI) yang mengukur perbandingan berat dan tinggi badan seseorang. Orang dewasa dengan BMI 25 sampai 30 termasuk dalam kategori gemuk dan termasuk kategori obesitas bila melebihi 30.

Meskipun masyarakat kerap mempermasalahkan gaya hidup tidak sehat sebagai penyebab utama obesitas, permasalahan sebenarnya yang menyebabkan obesitas adalah tidak seimbangnya kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Konsumsi makanan yang tinggi lemak, garam, dan gula diiringi dengan menurunnya aktivitas fisik juga menjadi pemicu obesitas.

Di masa pandemi, orang dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi tertular Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for DIsease Control and Prevention / CDC) Amerika juga melaporkan ketika terinfeksi, orang dengan obesitas memiliki risiko dirawat di ruang ICU 74 persen lebih tinggi dan risiko meninggal 48 persen lebih tinggi daripada orang yang tidak obesitas.

Situasi ini semakin kompleks dengan implikasi kesehatan yang muncul bagi orang dengan obesitas.  Penyakit Tidak Menular (PTM) yang timbul karena obesitas, atau biasa disebut komorbid, juga meningkatkan risiko kematian pada infeksi Covid-19. Pasien dengan riwayat penyakit jantung, diabetes mellitus, dan hipertensi masing-masing memiliki risiko kematian 9 kali lipat, 8,3 kali lipat, dan 6 kali lipat lebih tinggi daripada pasien tanpa penyakit tersebut.

Para ahli juga khawatir vaksin Covid-19 berkurang keefektifannya ketika diberikan pada orang gemuk dan orang dengan obesitas. Hal ini didasari beberapa penelitian vaksin flu, hepatitis B, dan rabies yang menunjukkan respons imunitas lebih rendah pada orang dengan obesitas dibandingkan dengan yang tidak.

 

Angka Obesitas Meningkat

Sejumlah studi melaporkan pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah orang dengan obesitas meningkat karena tiga alasan utama. Pertama, Covid-19 menyebabkan krisis ekonomi. Dalam krisis ekonomi, kelompok yang paling dirugikan adalah masyarakat termiskin. Mereka akan memiliki jumlah pemasukan yang terbatas jika tidak lebih sedikit dari sebelumnya sehingga kelompok masyarakat ini hanya mampu membeli makanan yang murah, mudah didapat, dan tinggi kalori, tanpa memperhatikan keseimbangan gizi.

Kedua, pembatasan sosial menyebabkan kesehatan mental masyarakat menurun. Beberapa faktor pemicunya adalah tingginya stres akibat perubahan pola hidup, perasaan khawatir karena misinformasi dan hoaks yang beredar, serta perasaan kesepian akibat isolasi mandiri. Faktor-faktor psikologis tersebut dapat menyebabkan depresi, rasa cemas, dan gangguan pola makan seperti makan terlalu banyak tanpa memperhatikan jumlah kalori yang masuk dan yang keluar. Pada akhirnya kondisi ini berujung pada penambahan berat badan.

Ketiga, masyarakat kesulitan menerapkan gaya hidup aktif karena fasilitas olahraga publik dan gym ditutup. Pembatasan mobilitas juga mengurangi kesempatan masyarakat melakukan aktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya, orang yang biasa berjalan kaki setiap hari untuk mengakses transportasi umum menuju kantornya kini tidak lagi melakukannya karena bekerja dari rumah.

Pandemi Covid-19 menampilkan wajah kesehatan yang sebenar-benarnya termasuk di Indonesia.  Sebenarnya, Indonesia memiliki modal besar untuk mengatasi pandemi ini melalui layanan kesehatan primer yang kuat dan mampu memenuhi layanan kesehatan esensial. Karena itu, Jawa Barat berkomitmen untuk memperkuat layanan kesehatan esensial di 100 puskesmas yang tersebar di 12 kota/kabupaten melalui program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA). Tidak hanya membantu penanganan Covid-19 di wilayah penempatan, anggota PUSPA juga akan meningkatkan akses kesehatan esensial pada masa pandemi melalui pemanfaatan teknologi.

 

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong kebijakan kesehatan berbasis bukti untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, sehat dan sejahtera dengan menerapkan paradigma sehat. CISDI melaksanakan riset dan manajemen program serta advokasi kebijakan untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

Ardiani Hanifa Audwina

677 Pengunjung
Share This!