Perkuat Kapasitas UMKM, CISDI Adakan Pelatihan Pembuatan Alat Pelindung Diri dan Hand Sanitizer

Content

Dua orang peserta pelatihan menunjukkan hand sanitizer cair buatannya. (Sumber gambar: Dok. CISDI)

 

Pandemi Covid-19 menyebabkan roda perekonomian nasional tersendat. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak karena sepinya permintaan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat lebih dari 70 persen UMKM mengalami penurunan penjualan dan keuntungan lebih dari 50%.

Padahal, UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) tahun 2018, jumlah pelaku UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99% dari jumlah pelaku usaha di Indonesia. Daya serap tenaga kerja UMKM adalah sebanyak 117 juta pekerja atau 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha .

Untuk bisa bertahan di masa pandemi, UMKM perlu mengubah strategi bisnisnya, salah satunya dengan memproduksi barang yang jumlah permintaannya tinggi, seperti Alat Pelindung Diri (APD) dan hand sanitizer. Namun, pengusaha mikro memiliki kesempatan lebih kecil untuk melakukan manuver bisnis seperti ini karena terbatasnya modal dan keahlian yang mereka miliki. Memproduksi alat/produk kesehatan tidak mudah karena ada spesifikasi tertentu yang harus dipenuhi sehingga produk kesehatan yang dihasilkan aman, bermutu, dan bermanfaat.

Dalam rangka membantu mengatasi permasalahan tersebut sekaligus memastikan ketersediaan dan keterjangkauan alat/produk kesehatan esensial yang diproduksi mandiri oleh masyarakat, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) sebagai bagian Konsorsium Program ACTION (Active Citizens Building Solidarity and Resilience in Response to COVID-19) menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan APD dan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer di Kota Administratif Jakarta Timur, Kabupaten Bogor, Kota Yogyakarta, Kabupaten Lombok Timur dan Kota Makassar yang merupakan wilayah implementasi Program.

Program ACTION yang diinisiasi oleh Hivos ini  mendapatkan dukungan pendanaan dari Uni Eropa dengan CISDI, Institut Kapal Perempuan, PAMFLET Generasi, PUPUK, SAPDA dan Hivos/HSI  sebagai pelaksana Program. Salah satu tujuan Program ini adalah memastikan kelompok rentan dan pra sejahtera (miskin)  memiliki akses yang sama dalam program pemulihan sosial dan ekonomi akibat pandemi. SAPDA secara khusus mendukung pelatihan ini dengan menyediakan rekomendasi peserta difabel serta Juru Bahasa Isyarat (JBI).

 

Pelaksanaan Pelatihan

Di Kota Administratif Jakarta Timur, total 40 orang perwakilan UMKM  mengikuti rangkaian pelatihan di Gedung Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur. Sebanyak 20 orang perwakilan UMKM bidang konveksi dan penjahit rumahan menghadiri pelatihan pembuatan APD pada 16-22 Maret 2021 dan sebanyak 20 orang lainnya mengikuti pelatihan pembuatan hand sanitizer pada 23-25 Maret 2021. Di Kota Yogyakarta, pelatihan pembuatan APD dilaksanakan pada 29 Maret – 3 April 2021 sementara pelatihan pembuatan hand sanitizer dilakukan pada 16-18 Februari 2021. Sementara itu, pelatihan pembuatan APD di Kabupaten Bogor dilaksanakan pada 7-11 April 2021 dan pelatihan pembuatan hand sanitizer pada 30 Maret-1 April 2021. UMKM Kabupaten Lombok Timur dan Kota Makassar juga turut mengikuti pelatihan pembuatan APD dan hand sanitizer yang dilaksanakan pada 6-10 April 2021 dan 29-31 Maret 2021 (Kabupaten Lombok Timur) serta 5-9 April 2021 dan 28-30 Maret 2021 (Kota Makassar).

Kedua pelatihan diawali dengan pelatihan daring di hari pertama yang dilanjutkan dengan pelatihan tatap muka untuk praktik. Meski dilakukan secara tatap muka, semua peserta pelatihan melakukan tes antigen sebelum mengikuti pelatihan dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat yakni menggunakan masker dan menjaga jarak.

Materi yang diberikan meliputi teori dasar produksi dan cara pengajuan sertifikasi alat/produk kesehatan serta teori pemasaran, pelabelan dan penghitungan harga pokok penjualan. Perbedaaan kedua pelatihan ini adalah pelaksanaan praktek pembuatan APD dan hand sanitizer.

Peserta pelatihan pembuatan APD melakukan  praktek pembuatan masker kain dan gaun medis. Masing-masing peserta menerima seperangkat kain untuk dijahit. Pelatih menunjukkan pembuatan pola serta cara menjahitnya. Pada akhir pelatihan, setiap peserta pelatihan berhasil membuat setidaknya satu masker kain dan satu gaun medis.

Sementara itu, peserta pelatihan pembuatan hand sanitizer cair juga diberikan seperangkat alat dan bahan berupa gelas ukur, pipet, alkohol meter, etanol 96%, glycerol (pelembut tangan), perhidrol, botol 100 ml untuk wadah hand sanitizer, batang pengaduk gelas, sarung tangan latex, face shield dan masker medis. Peralatan, sisa bahan, dan hasil produk hand sanitizer cair menjadi hak milik masing-masing peserta.

Meski awalnya peserta hanya akan mempelajari cara membuat hand sanitizer cair, namun karena masih ada sisa waktu setelah praktik, instruktur pelatihan menunjukkan pula cara pembuatan disinfektan dan hand sanitizer gel.

 

Inklusivitas

Ibu Aulia, instruktur pelatihan pembuatan APD, sedang menjelaskan teknik menjahit kepada peserta disabilitas tuna rungu, Bapak Miftah. (Sumber gambar: Dok. CISDI)

Yang paling menarik, dari 40 peserta, 10 di antaranya adalah penyandang disabilitas. Pada pelatihan pembuatan APD, terdapat 2 peserta tuna rungu dan 4 peserta tuna daksa. Sementara pada pelatihan pembuatan hand sanitizer, terdapat 4 peserta tuna daksa. Mengingat adanya peserta dengan disabilitas, maka pemilihan tempat pelatihan yang accessible menjadi penting.

Ditya Ayu Dwiputri, Field Officer CISDI untuk Kota Administratif Jakarta Timur mengatakan, “Agak sulit mencari lokasi yang besar dan memiliki fasilitas pelatihan lengkap. Akhirnya, saya memilih menggunakan Gedung PPKD karena gedung tersebut memenuhi semua kebutuhan pelatihan. Baik dari sisi logistik berupa alat jahit dan laboratorium kimia untuk praktik peserta, maupun dari sisi aksesibilitas seperti ramp untuk kursi roda.”

Irlan, salah satu peserta tuna daksa mengaku pelatihan pembuatan APD yang diberikan sangat bermanfaat. “Saya senang mengikuti pelatihan ini karena menarik, bisa mengenal banyak saudara, serta membuka jaringan kerja. Alhamdulillah pelatihan juga berjalan dengan sukses,” ujarnya.

Senada dengan pernyataan Irlan, Ditya juga mengungkapkan apresiasinya kepada peserta disabilitas. “Saya sangat kagum dengan kemampuan rekan-rekan difabel yang sangat terampil. Suasana pelatihan juga kondusif dan semua peserta dapat berbaur. Peserta disabilitas juga merasa terangkul karena jarang-jarang ada pelatihan untuk difabel yang pesertanya beragam.”

Peserta tidak dilepaskan begitu saja setelah pelatihan berakhir. CISDI akan tetap membantu mereka mengurus izin edar masker kain, gaun medis dan hand sanitizer ke Kementerian Kesehatan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku, yakni melalui website http://www.regalkes.kemkes.go.id/ dengan melampirkan sertifikat produksi, surat pernyataan kesesuaian produk dengan standar yang digunakan, surat pernyataan paten merek dan surat pernyataan bahwa dokumen/data yang diunggah adalah asli dan benar.

CISDI juga berencana memberikan bantuan APD dan hand sanitizer ke Puskesmas setempat untuk menggunakan produk buatan peserta pelatihan. Dengan cara ini, CISDI dan anggota Konsorsium lainnya mengharapkan kedua pelatihan ini mampu memperkuat ketangguhan dan solidaritas masyarakat, terutama kelompok rentan dan pra sejahtera / miskin akibat COVID-19.

 

Penulis: Ardiani Hanifa Audwina (CISDI)

Materi publikasi ini diproduksi dengan bantuan hibah dari Uni Eropa. Pendapat/pandangan yang dinyatakan dalam materi publikasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab CISDI dan bukan mencerminkan pendapat/ pandangan Uni Eropa.

420 Pengunjung
Share This!