Sebagai Tenaga Kesehatan PUSPA, Kami Kerap Temui Fenomena Ini di Puskesmas

Content

Pemeriksaan tes swab melalui tenaga kesehatan lebih dianjurkan daripada pemeriksaan tes swab yang dilakukan awam. (Sumber gambar: Dok. Tim PUSPA Puskesmas Dago)

Lonjakan kasus Covid-19 meningkat drastis sepanjang Juli 2021. Berbagai media massa menegaskan rekor baru harian kasus dalam lini pemberitaan pada waktu berdekatan. Satgas Covid-19 Jawa Barat menyebut lonjakan terjadi sejak tiga minggu pasca libur lebaran. Tingginya kasus infeksi begitu terasa, khususnya di puskesmas kami.

Kapasitas testing harian untuk suspek dan kontak erat sepanjang periode lonjakan memang meningkat hingga 2-4 kali lipat dari biasanya. Hal ini sekaligus menyingkap jumlah kasus konfirmasi positif yang belum sempat terdata.

Dalam rentang waktu penanganan wabah yang panjang, masyarakat kerap mendengar beragam istilah protokol penanganan wabah, seperti 5M, swab antigen, hingga isolasi mandiri. Meski begitu, hal tersebut tidak menjamin adanya pemahaman mendalam terhadap metode penanganan wabah tersebut.

Suatu ketika datang keluarga bergejala seperti Covid-19 ke puskesmas kami. Dengan gejala serupa flu (influenza like illness/ILI), sesuai ketentuan, mereka perlu masuk ke poli ILI. Berdasarkan anamnesa dokter diputuskan keluarga tersebut perlu melaksanakan tes swab lantaran berstatus suspek.

Saat dokter hendak melaksanakan swab, tiba-tiba sang pasien mengeluarkan alat antigen bertanda positif. Salah satu anggota keluarga itu lantas mengklaim mereka telah laksanakan swab antigen mandiri, namun ketika dokter menanya surat resmi laboratorium, mereka tidak sanggup menjawab.

Tes swab mandiri, bagi keluarga itu, dan mungkin keluarga lain, bukanlah tes berbayar di laboratorium, melainkan sekadar pelaksanaan tes swab antigen dengan pemahaman dan kemampuan pribadi.

Kami telah beberapa kali mengalami hal serupa. Sebelum keluarga itu, datang seorang bapak ke puskesmas. Ia mengaku hilang indra penciuman, sulit merasakan makanan, sempat demam, dan merasa pegal-pegal selama tiga hari ke belakang.

Hasil antigennya di puskesmas ketika itu menunjukkan positif. Sang bapak tidak lantas percaya dengan hasil, “kok’ bisa, ya? Tadi pagi saya coba tes hasilnya negatif,” ujarnya dengan nada terkejut.

Lagi-lagi, sang bapak mengaku melaksanakan tes antigen sendiri dengan alat yang dibeli di online shop dan pengetahuan yang didapat dari menonton tutorial YouTube.

Kendati tren ini mulai lazim, tenaga kesehatan seperti kami kerap bingung mengamatinya. Pemeriksaan dengan metode swab antigen, betapapun terlihat sederhana, membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan yang kompeten untuk hasilkan simpulan yang valid.

Beragam Alasan

Di antara beragam metode tes, swab antigen memang menjadi primadona. Pelaksanaan yang ‘terlihat’ mudah dan hasil yang cepat keluar menjadi dasar popularitasnya.

Kendati demikian, metode ini tidak serta dianjurkan dilakukan awam, apalagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan.

Telah menjadi rahasia umum, pelaksanaan swab antigen oleh masyarakat awam memiliki tingkat akurasi rendah. Prosedur swab antigen dilaksanakan dengan mendorong tangkai pengambil spesimen ke nasofaring atau bagian atas tenggorokan.

Tangkai pengambil diputar selama 15 detik hingga sampel lendir menempel dengan baik. Jika metode ini dilakukan masyarakat awam, bisa saja tangkai pengambil hanya mencapai rongga hidung, bukan nasofaring.

Dampaknya, hasil uji kemungkinan menampilkan tanda negatif, walau pasien mungkin terinfeksi dan bergejala berat.

Di sisi lain, ada potensi ‘kecelakaan’ ketika awam melakukan swab antigen. Tenaga kesehatan terlatih memerhatikan betul detail pemeriksaan, seperti struktur hidung pasien.

Tidak jarang ditemui pasien dengan struktur hidung bengkok dan rongga yang sempit. Jika pengambil sampel tidak memahami hal ini, pasien bisa alami sakit luar biasa.

Perlu dipahami juga, hidung merupakan bagian tubuh yang sensitif terhadap benda asing. Selalu ada kemungkinan seorang pasien bersin ketika tangkai swab antigen masuk ke dalam rongga hidung.

Jika pasien bersin dan tangkai pengambil sampel patah, bisa terjadi pendarahan hebat. Dan jika pengambil sampel tidak cukup kompeten, hal tersebut mampu sebabkan pendarahan lebih serius. Pasalnya, pendarahan pada hidung mampu sebabkan rasa panik berlebihan hingga sesak napas.

Dengan demikian, pelaksanaan swab antigen tanpa pemahaman ilmu kesehatan sangat tidak dianjurkan.

Tes Gratis?

Jika tes ‘mandiri’ dengan pemahaman awam tidak dianjurkan, apakah pelayanan kesehatan memfasilitasi tes gratis kepada masyarakat? Sebenarnya, hal tersebut telah diatur, namun dengan beberapa ketentuan.

Alexander K. Ginting, Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, menyebut pelayanan swab PCR gratis dimungkinkan melalui mekanisme penelusuran kontak (CNN Indonesia, 1/7).

Singkatnya, warga atau masyarakat yang merasa memiliki kontak dengan kasus konfirmasi atau merasakan gejala bisa mendatangi puskesmas untuk melaksanakan swab PCR gratis.

Namun, ada beberapa syarat yang perlu mereka lengkapi sebelumnya, seperti mengisi formulir, melengkapi surat domisili, dan membawa kartu identitas atau KTP.

Tentu, tenaga kesehatan tidak bisa serta melarang masyarakat awam melaksanakan tes sendiri, seperti swab antigen. Hanya saja, hal tersebut memang tidak dianjurkan.

Pemeriksaan di fasilitas kesehatan jauh lebih dianjurkan untuk menghindari kesimpulan yang keliru ataupun potensi cedera yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

 

Tentang Program PUSPA

Program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang didukung oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dalam memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas. Program ini merekrut 500 tenaga kesehatan sebagai field officer yang akan ditugaskan di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Program PUSPA bertujuan menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, menyiapkan vaksinasi Covid-19, hingga memastikan pemenuhan layanan kesehatan esensial di Jawa Barat.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Priska Natasya

Tim Puskesmas Terpadu dan Juara

Puskesmas Dago

Kota Bandung

353 Pengunjung
Share This!