Survei Serologi Tanjung Priok Perkirakan Infeksi Covid-19 12 Kali Lebih Tinggi dari Data Resmi

Content

Olivia Herlinda, Direktur Kebijakan CISDI memaparkan Hasil Survei Prevalensi Serologi SARS-CoV-2 yang dilakukan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara (18/6). (Sumber gambar: Dok. CISDI)

Sejak awal pandemi, pemerintah Indonesia tidak mengoptimalkan upaya pengetesan dan pelacakan kasus. Lebih dari satu tahun berjalan, rasio lacak isolasi Indonesia hanya 1,09 (per 21 Mei 2021), artinya hanya satu kontak erat terlacak setiap kasus positif. Akibatnya, banyak pihak menduga banyak kasus yang tidak terdata lantaran penyebaran Covid-19 di Indonesia telah mencapai tingkat komunitas.

Survei serologi CISDI di Tanjung Priok membuktikan hal tersebut. Survei ini menggunakan tes serologi atau tes darah, serum, atau plasma pasien untuk melihat keberadaan antibodi SARS-CoV-2. Keberadaan antibodi menandakan seseorang pernah terinfeksi Covid-19 atau telah mendapat vaksin. Fungsi survei serologi adalah untuk mengetahui prevalensi serologi, yakni persentase populasi di suatu wilayah yang sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2.

Mengapa angka prevalensi serologi selalu lebih tinggi dari angka kasus yang terdata? Negara mana yang sudah melakukan survei serologi? Berikut penjelasannya.

 

Pentingnya Prevalensi Serologi

Tidak semua individu yang terinfeksi melakukan tes lantaran masyarakat hanya melakukan tes ketika bergejala. Di sisi lain, keterbatasan alat tes dan pelacakan kasus juga menjadi alasan mengapa prevalensi serologi lebih tinggi dari kasus yang terdata. Individu yang terinfeksi, namun tidak diketahui, berbahaya karena mampu menyebarkan Covid-19 ke masyarakat tanpa disadari.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat, survei serologi menjadi cara bagi peneliti dan pemerintah mengetahui total populasi yang sudah terinfeksi dan melacak bagaimana infeksi berkembang dari waktu ke waktu melalui survei berkala.

Selain itu, survei serologi akan mengungkap apakah ada karakteristik tertentu yang menyebabkan individu lebih rentan terkena Covid-19, seperti misalnya usia, lokasi, atau penyakit bawaan. Hasil survei serologi juga mengungkap seberapa jauh populasi suatu wilayah dari herd immunity sehingga bisa menjadi dasar dari pemerintah untuk menentukan prioritas vaksinasi.

Survei Serologi Negara Lain

India, negara dengan kasus Covid-19 kedua terbanyak, sudah tiga kali melakukan survei serologi dan kini tengah merencanakan survei keempatnya. Dewan Peneliti Medis India (The Indian Council of Medical Research/ICMR) melakukan survei serologi pertama pada Mei-Juni 2020 dengan hasil 0,75 persen. Survei kedua dilakukan pada Agustus-September 2020 dengan hasil 7,1 persen.

Survei ketiga kalinya dilakukan pada 17 Desember 2020-8 Januari 2021 menunjukkan seroprevalensi sebesar 21,4 persen. Sementara, per 8 Januari 2021 tercatat kasus kumulatif 10, 4 juta atau sekitar 0,76 persen dari populasi. Data Ini menunjukkan besarnya jumlah kasus yang tidak tercatat pada data pemerintah.

Sementara itu, pemerintah Inggris bekerja sama dengan sejumlah universitas dan organisasi masyarakat sipil untuk melakukan survei serologi berkala sejak Mei 2020. Pada awalnya, survei ini dilakukan untuk mengestimasi total populasi yang terinfeksi Covid-19. Per 18 Januari 2021, prevalensi serologi Inggris sekitar dua sampai tiga kali lipat dari jumlah kasus Covid-19.

Lalu, seiring dengan program vaksinasi, survei prevalensi serologi menjadi indikator pencapaian kekebalan kelompok atau herd immunity. Berdasarkan hasil survei terbaru (9/6), diestimasi 80 persen populasi Inggris akan mendapatkan hasil positif tes serologi. Hal ini sejalan dengan jumlah populasi dewasa yang sudah mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin yakni sebanyak 70-80 persen.

Survei Serologi di Indonesia

Dilansir Reuters (3/6), tim Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia bersama WHO melaksanakan survei serologi di Indonesia pada Desember 2020-Januari 2021. Survei ini menunjukkan 15 persen populasi Indonesia pernah terinfeksi Covid-19. Padahal, pada periode yang sama, jumlah kasus tercatat hanya 0,4 persen dari populasi. Ini berarti jumlah kasus di Indonesia sekitar 30 kali lipat lebih tinggi dari data yang tersedia.

Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) juga melakukan survei serologi dalam skala yang lebih kecil, yaitu di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kecamatan ini merupakan salah satu wilayah dengan kasus Covid-19 terbanyak di Jakarta.

Survei dilakukan pada 23 November 2020-19 Februari 2021 dan melibatkan 3.196 responden. Hasilnya, prevalensi serologi di wilayah ini adalah 29,9 persen (tingkat kepercayaan 95%). Padahal, jumlah kasus kumulatif yang terdata hingga 19 Februari 2021 adalah sebanyak 9.861 kasus atau 2,4 persen dari total penduduk. Artinya, diestimasi terdapat setidaknya 12 kali lipat penduduk yang telah terinfeksi namun tidak terdata.

Dalam diskusi panel bertema “Menjaga Indonesia, Mewaspadai Penyebaran” yang diselenggarakan Kamis (17/6) lalu, Olivia Herlinda, Direktur Kebijakan CISDI, memaparkan hasil survei serologi tersebut sekaligus memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Menurutnya, selain melakukan percepatan vaksinasi bagi kelompok rentan, perlu ada pendekatan baru untuk mendorong kepatuhan protokol kesehatan yang sudah mengendor.

“Akan sangat baik jika pemerintah daerah lain juga melaksanakan survei seroprevalensi untuk mengevaluasi upaya respons Covid-19 yang telah berjalan,” tambahnya untuk mengakhiri rekomendasi.

Menanggapi saran tersebut, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Juru Bicara Program Vaksinasi Nasional sekaligus Direktur Pencegahan dan Penyakit Menular Kemenkes RI, mengatakan bahwa Kemenkes  sedang mengadakan survei prevalensi serologi nasional bersama FKM UI. Menurutnya, data prevalensi serologi akan menjadi basis perencanaan kesehatan ke depannya.

Simak paparan lengkap diskusi panel Menjaga Indonesia, Mewaspadai Penyebaran di sini dan unduh laporan hasil survei seroprevalensi Kecamatan Tanjung Priok di sini.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Ardiani Hanifa Audwina

900 Pengunjung
Share This!