Tantangan Apa Saja yang Dihadapi Tim Pencerah Nusantara di Wilayah Penempatan? Ini Cerita Mereka

Content

Tim Pencerah Nusantara kerap hadapi tantangan di wilayah penempatan, meski tidak banyak yang mengetahuinya. (Sumber gambar: CISDI)

Tim Pencerah Nusantara sudah beraktivitas di berbagai wilayah penempatan, mulai dari di sekitar kota-kota besar hingga di pelosok daerah Indonesia. Tugas yang dihadapi tentu saja berat dan mampu membebani mental dan fisik tim di lapangan. Sayangnya, tidak banyak yang mendengar pengalaman dan tantangan-tantangan apa saja yang mereka alami. Padahal, kisah yang mereka alami terbilang unik, namun kadang bisa juga membuat hati terenyuh. Lantas, tantangan apa saja yang mereka alami di wilayah penempatan dan perlu kita dengar?

Tantangan Geografis Poto Tano

Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, memiliki kondisi geografis yang khas. Wilayah yang berada di daerah pesisir pantai ini memiliki potensi perkembangan vektor, medium pengantar penyakit, yang tinggi. Dari sesi penelusuran awal Tim Pencerah Nusantara V (PN V) pada awal 2018 lalu, diketahui diare, ISPA, TBC, dan berdarah menjadi penyakit yang kerap dialami penduduk sekitar dalam beberapa waktu terakhir.

Penduduk setempat ketika itu hidup dalam kondisi lingkungan yang kurang sehat. Banyak terdapat genangan air dipenuhi sampah di sekitar rumah-rumah panggung yang mereka tempati sehingga memicu jentik-jentik muncul dan menjadi sumber penyebaran penyakit. Kendati masyarakat mengetahui potensi penyebaran penyakit ini, mereka tidak lekas mengubah pola hidup.

Mereka menganggap kondisi geografis yang dipenuhi lagun (kolam-kolam genangan air laut) akan terus menjadi sumber masalah kesehatan. Tim di lapangan lantas mengubah pendekatan dari berbasis edukasi masyarakat menjadi advokasi pemerintah setempat. Mereka menghubungi kepala desa dan merencanakan program intervensi berbentuk gerakan masyarakat bernama Gerakan Desa Cinta Lingkungan (Gede Cilik).

Kegiatan ini bertujuan, memperbaiki pola (1) buang air besar di jamban yang sehat, (2) buang sampah pada tempatnya, (3) pungut sampah, (4) kerja bakti rutin, (5) pengelolaan sampah rumah tangga, (6) pengelolaan air minum, dan (7) pemberantasan sarang nyamuk. Dengan semangat memperbaiki lingkungan dan pola hidup, ada harapan masyarakat setempat terbebas dari penyakit berbasis lingkungan.

Kerentanan Anak Mamuju Utara

Kabupaten Mamuju Utara, yang kini berubah nama menjadi Kabupaten Pasangkayu, memiliki beberapa permasalahan terkait hak anak, seperti dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi, pencatatan nama resmi, hingga pemenuhan akses pendidikan pada 2018 lalu. Beberapa anak dalam wilayah intervensi Tim PN V tersebut memang tidak banyak mengalami kondisi malnutrisi, namun tidak banyak juga masyarakat sekitar yang memiliki literasi nutrisi yang baik.

Tim PN V bersama Puskesmas Randomayang lantas mengadakan program Mother Support Group atau kelas ibu batita sebagai wadah edukasi ibu terkait isu pemenuhan gizi anak. Persoalan nama resmi juga menjadi masalah lain. Beberapa anak di wilayah tersebut tidak memiliki nama resmi lantaran sulit mengajukan akses ke kantor desa ketika itu.

Ada satu orang anak yang diberi nama ‘Aldino Panglima ‘oleh Tim PN V. Aldino merupakan salah satu contoh anak yang sehat dan lahir di fasilitas layanan kesehatan. Ia juga lahir dari ibu yang rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas. Proses ini memudahkan sang ibu mengajukan akte kelahiran ke kantor desa. Dalam soal pendidikan, Tim PN V juga terlibat meningkatkan keterampilan dan literasi pelajar di sekolah dasar setempat.

Tim mengadakan program Rumah Baca di Desa Wulai dengan mengikutsertakan 60 anak tingkat SD hingga lulus SMA. Saat ini, Rumah Baca Wulai telah memiliki bangunan sendiri yang berada tepat di samping gereja. Kendati akses terhadap pengetahuan kesehatan, nama resmi, dan pendidikan masih menjadi persoalan di Mamuju Utara, intervensi Tim PN V bersama Puskesmas Randomayang telah membuka peluang-peluang perbaikan di masa depan.

Tantangan Penyalahgunaan Narkotika di Muara Enim

Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, pada 2017 lalu memiliki masalah penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan laporan BNN ketika itu, proyeksi penyalahgunaan narkoba di Muara Enim pada 2017 mencapai 7.990 jiwa atau 1,7% dari penduduk usia produktif. Anak-anak sebaya di wilayah tersebut tentu memiliki keresahan bersama mengenai temuan ini. Namun, minimnya pengetahuan dan belum adanya wahana edukasi bersama menyulitkan mereka menyampaikan pesan bahaya narkoba.

Berawal dari gerakan tingkat sekolah di SMAN 1 Sungai Rotan Kabupaten Muara Enim, pada 2016 lalu Tim PN menginisiasi gerakan Sriwijaya Muda. Gerakan ini menjadi wadah pengembangan diri pemuda setempat serta memfasilitasi diskusi dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan NAPZA.

Melalui Sriwijaya Muda, anak-anak dibekali keterampilan mengembangkan diri, seperti melalui pelatihan public speaking, pelatihan keterampilan penggunaan alat-alat multimedia, hingga keterampilan berorganisasi. Windri dan Kiki, dua orang pemuda yang aktif terlibat dalam Sriwijaya Muda ketika itu mengakui program ini memfasilitasi banyak pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan NAPZA.

Sebelum bergabung dengan Sriwijaya Muda, pesan mereka, mereka hanya mengetahui NAPZA berbahaya, namun tidak dengan cara menghindari peredarannya. Melalui Sriwijaya Muda Windri dan Kiki kini bahkan bisa mengedukasi rekan sebaya maupun masyarakat sekitar tentang bahaya NAPZA.

Tantangan yang dihadapi Tim Pencerah Nusantara di lapangan tentu sangat banyak. Namun, beberapa persoalan di atas menjadi gambaran umum tentang hal apa saja yang kerap mereka temui di lapangan. Persoalan yang mereka alami tidak hanya terjadi dalam ranah lingkungan sosial, namun juga dipengaruhi faktor geografis, budaya, hingga hukum yang unik dan khas di wilayah penempatan masing-masing.

 

Tentang Pencerah Nusantara

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi kesehatan, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

89 Pengunjung
Share This!