Tim PUSPA Puskesmas Cimandala Bekerja Sama dengan Kader Respons Covid-19 Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19

Content

Strategi surveilans berbasis masyarakat (SBM) adalah salah satu cara untuk mencegah penyebaran kasus Covid-19 yang belakangan semakin meninggi. (Sumber gambar: Dok. Tim PUSPA Puskesmas Cimandala)

Pandemi Covid-19 tengah berlangsung lama, namun belum ada tanda kasus harian akan menurun. Dalam satu bulan saja, peningkatan kasus konfirmasi di wilayah kerja kami, Tim PUSPA Puskesmas Cimandala, menyentuh tiga kali lipat dari beberapa waktu sebelumnya. Kegiatan 3T yang gencar kami lakukan menyingkap kasus-kasus baru yang mungkin sebelumnya tidak terdeteksi.

Testing dengan sasaran suspek dan kontak erat bergejala, pelacakan kontak erat dari pasien konfirmasi, serta pemantauan karantina dan isolasi mandiri kini telah menjadi hal lazim dalam keseharian penduduk setempat tempat kami bertugas.

Sayangnya, peningkatan kasus konfirmasi di beberapa daerah kerap tidak sebanding dengan jumlah tenaga kesehatan yang siap sedia melayani di puskesmas. Dikarenakan intensitas kontak dengan kasus konfirmasi, banyak tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19.

Karenanya, dukungan masyarakat begitu dibutuhkan, salah satunya untuk mendukung aktivitas surveilans. Sebelum lonjakan kasus terjadi, kami telah melaksanakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk mendorong masyarakat sekitar melaksanakan aktivitas surveilans.

Peran penting kader

Kader-kader kesehatan adalah salah satu contoh modal sosial yang berperan penting menekan angka penyebaran Covid-19. Kader respons Covid-19, sebagai contoh, adalah salah satu kelompok pelaku surveilans berbasis masyarakat (SBM).

Sebagai anggota masyarakat, mereka mumpuni melaksanakan surveilans lantaran telah dibekali beragam pelatihan terkait penyebab, gejala, cara penularan, dan upaya pencegahan Covid-19. Banyak dari mereka juga piawai mendata kelompok rentan, menelusur kontak, hingga menemukan kasus aktif baru.

Mengikutsertakan kader dalam penanganan wabah adalah strategi yang efektif menekan kemunculan kasus baru. Keberadaan puskesmas dan kader yang solid memungkinkan kehadiran upaya pelacakan kasus yang solid juga.

Sejauh ini, 92% puskesmas PUSPA telah membangun komitmen lintas sektor untuk melibatkan kader dalam pelacakan kontak. Sementara 85% puskesmas lain juga telah melibatkan kader dalam proses pemantauan isolasi mandiri. Jumlah kader aktif telah dilatih dari 100 puskesmas di wilayah penempatan pun mencapai 3644 kader.

Dalam praktiknya, Tim PUSPA juga menerapkan pemberdayaan kader SBM yang inklusif. Kader tidak hanya terlibat melacak kasus, namun juga mengedukasi masyarakat sekitar, memantau aktivitas isolasi mandiri, hingga berkoordinasi dengan lintas sektor setempat untuk berbagai kebutuhan penanganan wabah.

Cerita-cerita kader

Semangat juang kader membantu puskesmas melalui pelaksanaan 3T tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai ilustrasi, Ibu Yeni, kader dari Desa Cijujung membantu pelaksanaan screening influenza like illness (ILI) pada kelompok-kelompok rentan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Ia terlibat mengukur nilai saturasi oksigen pasien konfirmasi yang melaksanakan isolasi mandiri. Tidak jarang, ia juga mendampingi pasien konfirmasi ke rumah sakit meski di tengah malam. Ia juga tidak sungkan mendorong ketua RW menyediakan alat saturasi oksigen yang cukup.

Cerita menarik lain datang dari Ibu Nur, kader Desa Cimandala. Ia mendorong Karang Taruna, ketua RT, dan ketua RW setempat memantau proses karantina dan isolasi mandiri. Ia juga meminta tokoh-tokoh dan organisasi masyarakat setempat terlibat dalam pelacakan kontak erat dan pelaporan orang-orang dengan gejala.

Desa Pasir Jambu juga memiliki kisah perjuangan kader serupa. Ibu Endeh, kader respons desa tersebut, aktif memantau kasus bersama kader-kader setempat. Dalam keseharian selama lonjakan kasus, ia juga berupaya melacak kontak dan menapis gejala ILI untuk diperiksa di puskesmas.

Ia mengedukasi kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan warga sekitar yang biasanya mengikuti pengajian. Perlahan-lahan, kesedaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan pun mulai terbentuk.

Di Desa Pasirlaja, ada cerita lain dari Ibu Sri Meini. Ibu Sri mendorong petugas lintas sektor memantau dan menyediakan logistik bagi masyarakat setempat. Namun, ia juga tidak segan mendistribusikan logistik berbentuk obat-obatan untuk pasien Covid-19 yang sedang melaksanakan isolasi mandiri.

Kader respons dan kader kesehatan merupakan modal sosial yang dimiliki puskesmas dan pemangku kepentingan kewilayahan setempat. Dukungan keilmuan dan fasilitas sangat penting untuk mengupayakan konsistensi kader terlibat dalam penanganan wabah.

Cerita kecil ini merupakan satu dari sekian banyak cerita kader lain yang begitu luar biasa membantu puskesmas melaksanakan penanganan wabah. Kader adalah contoh pahlawan tanpa tanda jasa bagi masyarakat setempat. Di balik semangat mereka, ada sejuta rasa terima kasih dari kami, tenaga kesehatan dan juga penyintas Covid-19 yang ikut berjuang sepanjang pandemi Covid-19 ini.

 

Tentang Program PUSPA

Program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang didukung oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dalam memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas. Program ini merekrut 500 tenaga kesehatan sebagai field officer yang akan ditugaskan di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Program PUSPA bertujuan menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, menyiapkan vaksinasi Covid-19, hingga memastikan pemenuhan layanan kesehatan esensial di Jawa Barat.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

 

Penulis

Astriana Marta Batubara

Tim Puskesmas Terpadu dan Juara

Puskesmas Cimandala

Kabupaten Bogor

160 Pengunjung
Share This!