Loading color scheme

Seberapa Berpengaruh COVID-19 terhadap Produksi Limbah Medis?

Pandemi COVID-19 mengurangi produksi polusi di berbagai dunia, namun juga berpotensi menghasilkan penumpukan limbah medis yang berbahaya bagi lingkungan. (Sumber gambar: Liputan 6)

Pandemi COVID-19 telah berlangsung kurang lebih selama 4 bulan dan menelan banyak korban. Namun di sisi lain, pandemi ini dianggap memberi dampak positif terhadap lingkungan. Penerapan pembatasan sosial dan kerja di rumah di berbagai belahan dunia, sukses menurunkan tingkat polusi di negara-negara penghasil polusi udara tertinggi. Kebijakan karantina juga disinyalir meningkatkan kualitas udara di beberapa wilayah. 

Meski begitu, permasalahan limbah medis yang kian menumpuk merupakan persoalan lingkungan lain yang perlu disorot. Pada 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) menyatakan sisa alat kesehatan yang berasal dari 2.813 rumah sakit di Indonesia menyumbang 242 ton limbah medis per hari. Itu berarti, tanpa adanya pandemi COVID-19, Indonesia sudah menghasilkan rata-rata 87 kilogram tumpukan limbah medis per hari. 

Beberapa ahli telah mengingatkan potensi penambahan limbah medis di tengah pandemi. Studi kasus dari Wuhan menyatakan terjadi penambahan limbah medis dari 4.902,8 ton menjadi 6.066 ton per hari selama pandemi COVID-19. Jika dikonversikan per pasien, satu orang menyumbang 14,3 kg limbah medis per hari. Berdasarkan pemodelan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, setidaknya 600.000 orang akan memerlukan perawatan intensif ketika karantina wilayah dan tes massal diberlakukan. Dengan begitu, dalam kemungkinan terburuk Indonesia bisa memproduksi kurang lebih 8.580 ton limbah medis per hari. 

Penting diketahui, alat-alat kesehatan mulai dari alat pelindung diri (APD) hingga instrumen laboratorium adalah alat sekali pakai. Kendati penting bagi tenaga kesehatan, usai digunakan mereka dikategorikan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahan B3 tidak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi juga makhluk hidup lain dan lingkungan hidup. Oleh karena itu, semua limbah medis harus dimusnahkan sesegera mungkin untuk mencegah potensi bahaya.

Rumah sakit bukan satu-satunya yang menghasilkan limbah medis. Masyarakat umum juga menghasilkan limbah medis melalui penggunaan masker dan sarung tangan yang berlebihan pada periode pandemi ini. Meskipun seharusnya, masyarakat tidak diimbau untuk menggunakan masker dan sarung tangan medis karena seharusnya barang-barang ini diprioritaskan bagi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dengan masifnya produksi limbah medis, potensi kerusakan lingkungan di masa depan menjadi lebih besar bila tidak ditangani dengan baik.

Apa yang harus dilakukan?

Pemerintah melalui Kementerian LHK telah mengeluarkan Surat Edaran tentang Limbah B3 sebagai pedoman pengelolaan limbah medis. (Sumber gambar: Antara)

Pemerintah melalui Kementerian LHK mengeluarkan Surat Edaran tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan COVID-19 pada 24 Maret lalu. Surat tersebut menjadi pedoman pemerintah menangani limbah B3 dari fasilitas pelayanan kesehatan, limbah dari rumah tangga Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan sampah rumah tangga atau sampah sejenis rumah tangga. 

Limbah B3 akibat perawatan ODP ialah masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri. Usai dipakai, alat-alat harus dikumpulkan dan dimasukkan dalam wadah tertutup untuk diangkut dan dimusnahkan di tempat pengolahan limbah B3. Usaha pemerintah sangat patut diapresiasi, namun memberikan imbauan teknis saja dirasa kurang cukup. Pemerintah perlu memberi tahu bahwa limbah medis ataupun infeksius perlu dikelola dalam tempat pembuangan atau penghancuran khusus. 

Sebuah data menyatakan sebelum pandemi COVID-19 hanya sekitar 57 persen dari 200 ton limbah B3 yang bisa dikelola oleh pemerintah. Dari 2.820 rumah sakit yang tersebar di Indonesia, hanya ada 83 lokasi dengan incinerator, alat pembakar sampah pada suhu di atas 800 derajat celcius. Selain itu, hanya terdapat enam pabrik pengolahan limbah medis yang terpusat di Jawa dan Kalimantan. Dengan kondisi yang terpusat, pengolahan limbah medis pasti akan berlangsung lama. 

Di Tiongkok ketika pandemi COVID-19 dimulai, selain rumah sakit mereka juga membangun pabrik pengolahan limbah medis dan menyalurkan 46 fasilitas pengolahan limbah bergerak. Langkah cepat ini adalah upaya mencegah tercecernya limbah-limbah medis. 

Sebelum pandemi COVID-19 muncul, Indonesia memiliki preseden buruk pengolahan limbah medis. Di Jawa Timur, PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) pernah melakukan penimbunan limbah B3 di sekitar pemukiman masyarakat di Mojokerto. Sampah-sampah medis yang terdiri dari infus, kantong kencing, dan bekas alat suntik itu membuat kualitas air sumur warga tercemar. Hal serupa juga terjadi di kawasan hutan mangrove Karawang pada 2018. Limbah medis berupa alat suntik dan obat-obatan dibiarkan tercecer di bantaran Ciherang, Jawa Barat. 

Untuk mencegah hal itu, pemerintah Indonesia bisa membangun incinerator dan wilayah pengolahan limbah di titik-titik episentrum persebaran COVID-19 atau wilayah potensial lainnya. Pemerintah juga perlu tegas dan memberikan sanksi bagi pabrik yang membuang limbah medis sembarangan. Dengan adanya wilayah penghancuran limbah yang dekat dan regulasi yang kuat, potensi kerusakan lingkungan sangat bisa dikurangi. 

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Transparansi data berapa banyak limbah medis yang dihasilkan per hari diperlukan. Di samping itu, wilayah tempat penghancuran limbah juga harus diketahui oleh publik. Meski begitu, masyarakat tetap perlu mengikuti himbauan pemerintah sesuai surat edaran yang telah diberikan. Mereka perlu mengumpulkan limbah infeksius yang dihasilkan oleh ODP sesuai prosedur dan memastikan limbah itu dibawa oleh petugas kebersihan yang menggunakan APD.

Untuk mencegah tumpukan sampah, masyarakat juga memiliki opsi untuk menggunakan masker guna ulang yang dibersihkan setiap hari. Sementara itu, jika masyarakat berada dalam situasi yang mewajibkan dirinya menggunakan masker sekali pakai, maka masker ini harus disobek, dipotong, atau digunting untuk mencegah penyalahgunaan atau pemakaian ulang. Kesadaran dari pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk mencegah potensi kerusakan lingkungan hidup akibat limbah medis yang menumpuk pada periode pandemi ini.   


Sumber: 

Coronavirus leaves China with mountains of medical waste. https://www.scmp.com/news/china/society/article/3074722/coronavirus-leaves-china-mountains-medical-waste. 12 Maret 2020

Kementerian LHK Keluarkan Edaran, Pastikan Pencegahan Covid-19. https://mediaindonesia.com/read/detail/304828-kementerian-lhk-keluarkan-edaran-pastikan-pencegahan-covid-19. 17 April 2020

KLHK: Limbah Medis di Indonesia Capai 242 Ton Per Hari. https://mediaindonesia.com/read/detail/171421-klhk-limbah-medis-di-indonesia-capai-242-ton-per-hari. 11 Juli 2018

Limbah Bekas Penanganan COVID-19 Harus Diapakan? https://www.asumsi.co/post/limbah-bekas-penanganan-covid-19-harus-diapakan. 1 April 2020

Pengelolaan Limbah Medis di Indonesia Bermasalah Sebelum Pandemi. Sekarang Bagaimana? https://www.asumsi.co/post/pengelolaan-limbah-medis-di-indonesia-bermasalah-sebelum-pandemi-sekarang-bagaimana. 21 April 2020

Satu Pasien Positif Corona Hasilkan 14,3 Kg Limbah Medis Setiap Hari. https://www.suara.com/bisnis/2020/04/10/133758/satu-pasien-positif-corona-hasilkan-143-kg-limbah-medis-setiap-hari. 10 April 2020

SOE to build medical waste disposal center in Wuhan. https://www.chinadaily.com.cn/a/202002/07/WS5e3d152ca310128217275d44.html. 7 Februari 2020

Warga Mojokerto Tuntur Pabrik Pengolahan Limbah Berbahaya Dibongkar. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4436445/warga-mojokerto-tuntut-pabrik-pengolahan-limbah-berbahaya-dibongkar. 20 Februari 2019


Penulis: 

Amru Sebayang