Loading color scheme

Pandemi COVID-19 Adalah Tantangan Bagi Lingkungan Hidup dan Kesehatan

Limbah medis seperti sampah masker adalah salah satu persoalan lingkungan baru pada periode pandemi COVID-19 (Sumber gambar: detik.com)

Pandemi COVID-19 menimbulkan banyak persoalan, salah satunya persoalan lingkungan yang diakibatkan oleh bertumpuknya limbah medis. Penumpukan limbah medis di kala pandemi sudah terprediksi lama. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah mengupayakan langkah untuk mencegah penumpukan melalui peluncuran Surat Edaran tentang Pengolahan Limbah Medis Infeksius. Surat edaran tersebut berbentuk instruksi kepada masyarakat dan kepala daerah untuk mengikuti tata cara pengolahan limbah medis

Meski begitu, kenaikan limbah medis dalam periode pandemi tetaplah signifikan. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan diri telah menangani 200 Kilogram limbah medis selama periode pandemi COVID-19. Pada awal Mei lalu, Kementerian LHK menyatakan bahwa terjadi kenaikan sebesar 30 persen limbah medis infeksius. Hal ini wajar mengingat, limbah-limbah tersebut bukan hanya berasal dari RS Rujukan ataupun RS Darurat COVID-19, namun juga dari masyarakat umum, ODP, ataupun PDP.

Menumpuknya limbah medis bisa memberi efek buruk berganda. Limbah medis bukan hanya memperburuk kualitas lingkungan sekitar, tetapi juga meningkatkan risiko penularan COVID-19. Itu lantaran limbah dari alat pelindung diri (APD) termasuk dalam kategori limbah medis infeksius. Di sisi lain, mengelola limbah medis dengan baik pasti memberikan efek baik berjangka panjang. Dengan pengetahuan pengolahan pada masa pandemi, setidaknya masyarakat akan terbiasa memilah limbah sebelum melakukan pembuangan. Ini penting untuk membuat pola hidup masyarakat yang ramah terhadap lingkungan.

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk mengolah limbah medis?

Mengolah Limbah?

Meskipun terkesan rumit, prosedur pengolahan limbah medis seperti sampah plastik sangat mungkin dilakukan di rumah tangga (Sumber gambar: kompas.com)

Sejatinya limbah medis terdiri dari berbagai material medis yang tidak terpakai lagi, seperti jarum suntik, pakaian pelindung, hingga sampel darah. Secara prinsip, masker dan APD yang digunakan di rumah tangga juga merupakan limbah medis. Dikarenakan muatan yang berbahaya pengolahan limbah medis wajib dipisahkan dari pengolahan limbah lain. Baik pekerja kesehatan maupun rumah tangga perlu memilah limbah medis dari jenis limbah lain berdasarkan prosedur yang telah disepakati bersama. 

Bagi pelayanan kesehatan, prosedur itu terlampir dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.56. Berdasarkan peraturan itu, pelayanan kesehatan wajib mengolah limbah medis berdasarkan beberapa tahapan. Pada tahapan pertama limbah medis dipilah atau dipisahkan dari jenis limbah lain. Pada tahapan selanjutnya limbah disimpan dalam fasilitas penyimpanan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Selanjutnya, limbah disimpan dalam wadah berwarna dan diberikan label sesuai dengan jenis limbah medis.

Setelah semua langkah tersebut dilakukan, pemberi layanan kesehatan wajib untuk menyerahkan limbah-limbah medis tersebut paling lama dua hari sejak limbah B3 dihasilkan pada pemegang izin pengelolaan limbah B3. Meskipun terkesan panjang dan rumit, pengolahan limbah medis juga sangat bisa diterapkan di tingkat rumah tangga. Apalagi, pada periode pandemi COVID-19 ini penggunaan masker dan APD di level rumah tangga cenderung meningkat. Berdasarkan Surat Edaran Menteri LHK tentang Pengolahan Limbah Infeksius, setiap rumah tangga wajib mengumpulkan limbah infeksius berupa masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri dan mengemasnya dalam wadah tertutup. Limbah yang sudah terkumpul kemudian perlu perlu dibawa ke fasilitas drop box yang disediakan oleh pemerintah daerah. 

Kendati didasarkan instruksi pemerintah, pengolahan limbah medis di rumah tangga masihlah bermasalah. Fakta di lapangan menunjukkan masyarakat masih belum menerapkan pemilahan limbah medis dengan baik. Di sisi lain, masih banyak juga pemerintah daerah yang belum menyiapkan drop box pengolahan limbah medis di fasilitas umum dan mudah dijangkau. Beberapa wilayah juga masih belum terlayani oleh pengelola pengolahan limbah B3 yang mengantongi izin beroperasi. 

Tantangan Bagi Lingkungan

Berdasarkan estimasi dari Asian Development Bank dengan populasi 10,5 juta manusia, selama 60 hari Jakarta bisa menghasilkan 12,700 ton limbah medis atau 212 ton per hari pada masa pandemi. Padahal, menurut data Kementerian LHK dari 2.813 rumah sakit di Indonesia pada 2018 terdapat 242 ton limbah medis. Artinya, penumpukan limbah medis dalam satu hari selama periode pandemi meningkat berkali-kali lipat. Selain itu, metode pembakaran limbah medis yang banyak digunakan di Indonesia oleh pengolah limbah medis juga belum terbukti ramah lingkungan. Itu dikarenakan metode pembakaran bisa berpotensi menghasilkan lepasan senyawa organik yang bersifat racun dan bisa hinggap cukup lama di lingkungan sekitar. 

Di Eropa maupun Amerika Serikat metode autoklaf, penguapan dan pencacahan limbah, mulai sering digunakan untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Metode penguapan berfungsi mengubah limbah B3 menjadi limbah domestik yang steril. Metode ini lebih baik dari metode pembakaran yang berpotensi menyisakan abu, kerak, dan emisi yang bisa mencemari air, tanah, dan udara. Dengan kata lain, pengolahan limbah medis yang tidak tepat sangat mungkin menciptakan kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup tidak selalu dimaknai sebagai bencana alam atau kepunahan, tetapi juga penurunan kualitas lingkungan, seperti kualitas air maupun udara. Oleh sebab itu, masyarakat umum dan pemerintah perlu menyadarinya. 

Pada periode pandemi, masyarakat perlu mempertimbangkan penggunaan APD. Sesuai imbauan, mereka baiknya menggunakan masker kain yang bisa digunakan berulang-ulang. Kalaupun menggunakan masker bedah perlu dipastikan tidak dibuang sembarangan serta disobek ketika dibuang. Masyarakat juga tidak perlu segan untuk mengedukasi lingkungan sekitar terkait pengolahan limbah medis di tingkat rumah tangga. Sementara, pemerintah bisa mulai mempertimbangkan metode pengolahan limbah menggunakan autoklaf yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan autoklaf memang sudah berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia, namun belum sampai menjadi sesuatu yang umum dilakukan. 

Pada akhirnya, mengelola limbah medis adalah upaya melindungi lingkungan. Tanpa kualitas lingkungan hidup yang baik kesehatan bagi masyarakat pun akan sulit terwujud. Masa pandemi ini adalah hari-hari terbaik untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan keterkaitannya dengan kesehatan.


Sumber: 

Empat Cara Mengelola Limbah Masker dan APD Selama Pandemi Covid-19. https://theconversation.com/empat-cara-mengelola-limbah-masker-dan-apd-selama-pandemi-covid-19-mana-yang-lebih-efektif-135956. 15 Mei 2020

ADB: Coronavirus could leave major Southeast Asian cities with 1,000 extra tonnes of medical waste per day. https://www.eco-business.com/news/adb-coronavirus-could-leave-major-southeast-asian-cities-with-1000-extra-tonnes-of-medical-waste-per-day/. 4 Mei 2020

Bagaimana Penanganan Limbah Medis COVID-19? https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5e9d2ab76a7d8/bagaimana-penanganan-limbah-medis-covid-19/#_ftn2. 20 April 2020.

Seberapa Berpengaruh COVID-19 terhadap Produksi Limbah Medis? https://cisdi.org/index.php/en/news/news-update/14-blog/recent/2319-seberapa-berpengaruh-covid-19-terhadap-produksi-limbah-medis. 24 April 2020.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.56/MENLHK-SETJEN/2015 Tahun 2015


Penulis:

Amru Sebayang