Loading color scheme

Transisi Menuju Normal Baru Justru Bisa Menghasilkan Tantangan-tantangan Kesehatan Baru

Pemerintah DKI Jakarta menerapkan masa transisi sebelum memasuki normal baru, kondisi kehidupan normal dengan penerapan protokol kesehatan. (Sumber gambar: Antara)

Pandemi COVID-19 merupakan situasi krisis, sehingga menuntut respon cepat pemerintah, entah dalam level daerah maupun pusat. Pasalnya, hal tersebut belum terpenuhi di Indonesia ketika kasus pertama diberitahukan kepada publik pada 2 Maret lalu. Langkah pemerintah ketika itu ialah melihat situasi dan menunggu hingga kasus memasuki situasi darurat. Alhasil, kebijakan imbauan PSBB muncul pada awal April 2020. Kendati tidak menampilkan hasil yang gemilang, PSBB disinyalir berhasil menurunkan tingkat persebaran. 

Pemerintah Provinsi DKI adalah salah satu pemerintah daerah yang mengungkapkan hal tersebut. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan berkat penerapan PSBB selama dua bulan ke belakang, angka reproduksi COVID-19 (RT) DKI Jakarta turun menjadi 0,99. Itu berarti 10 orang yang terinfeksi COVID-19 bisa menyebarkannya ke sembilan orang lain. Angka tersebut berkali lipat lebih kecil dari RT tertinggi 4 pada bulan Maret lalu. Menyusul temuan ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta hendak menghentikan PSBB. Pemerintah DKI memperpanjang satu periode PSBB sebagai sebuah ‘masa transisi’ memasuki normal baru (new normal) yang telah dipromosikan pemerintah pusat beberapa bulan ke belakang. 

Kapasitas Tes

Sejauh ini komunitas kesehatan mengakui PSBB bukanlah kebijakan terbaik untuk mengatasi pandemi COVID-19. PSBB merupakan kompromi dari tindakan ideal pencegahan wabah. Sejauh ini belum ada alternatif terbaik selain menerapkan PSBB di beberapa wilayah Indonesia dalam struktur administrasi kota ataupun kabupaten. Kebijakan pemerintah DKI yang berniat menghentikan PSBB menuju normal baru diyakini banyak pihak sebuah tindakan berisiko. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas) memahami bahwa normal baru sebagai kehidupan normal (seperti sebelum wabah) dengan menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. 

Perilaku hidup bersih dan sehat, kebiasaan menjaga jarak, dan upaya menghindari kontak fisik termasuk dalam protokol kesehatan tersebut. Sama seperti PSBB, kenormalan baru adalah imbauan publik yang diikuti oleh pengerahan aparat dan pemberian fasilitas tambahan di ruang publik. Sukses atau tidaknya penerapan normal baru sangat bergantung dari perubahan perilaku komunitas menjalankan kehidupan masing-masing. Karenanya, kebijakan ini perlu mempertimbangkan kompleksitas masyarakat dengan beragam latar belakang. Fakta di lapangan menunjukkan masa transisi justru meningkatkan jumlah kasus harian COVID-19. Pada Selasa (9/11) peningkatan jumlah kasus di DKI mencapai 239 kasus atau tertinggi sejak munculnya kasus perdana. 

Dinas DKI menyatakan hal tersebut terjadi karena penelusuran kasus yang masif. Hal itu tidak mengklarifikasi apapun dan justru mengindikasikan terdapat banyak positif COVID-19 di wilayah DKI yang belum bisa mengakses tes RT PCR. Jika pemerintah DKI benar-benar hendak menuju normal baru, seharusnya persoalan penelusuran tes yang masif dan menjangkau beragam lapisan sudah selesai terlebih dulu sebagai basis pengambilan kebijakan. Penelusuran tes secara masif seharusnya dimulai dengan menampilkan data secara transparan, tanpa ada yang ditutup-tutupi, tanpa ada dalih khawatir menciptakan kepanikan di masyarakat. Kepanikan dapat dimitigasi dengan komunikasi risiko yang baik serta menegaskan bahwa transparansi data dapat menunjang penguatan intervensi kesehatan, termasuk peningkatan kualitas tes.

Kerumunan

Konteks tempat, perilaku masyarakat, dan ketegasan aparat adalah salah satu kunci untuk mengendalikan wabah. (Sumber gambar: kompas.com)

Terlepas dari jangkauan tes, pengendalian kerumunan adalah kunci mengendalikan wabah. Konteks tempat, perilaku masyarakat, dan ketegasan aparat berperan penting dalam aspek ini. Fakta di lapangan menunjukkan masa transisi normal baru di wilayah padat seperti pasar belum efektif. Hingga hari ini saja, setidaknya terdapat 51 pedagang di DKI Jakarta yang terbukti positif COVID-19. Pedagang-pedagang itu pun tersebar di 19 pasar di DKI Jakarta. Beruntung, pemerintah DKI segera menutup pasar tersebut untuk mencegah transmisi lokal. 

Kerumunan dalam angkutan umum juga layak mendapat perhatian. DKI Jakarta memiliki wilayah satelit di sekitarnya, seperti Bekasi maupun Depok dengan KRL sebagai moda transportasi paling populer. Pemberlakuan masa transisi yang diikuti aturan kembali bekerja dari kantor terbukti sulit membendung ledakan kerumunan di stasiun maupun dalam KRL. Jumlah penumpang harian yang banyak menyulitkan penerapan protokol kesehatan. Sementara situasi di dalam kereta juga masih bersesakan, meski ada pembatasan jarak tempat duduk. Di lain sisi pengecekan suhu tubuh tidak akan efektif ketika virus masih dalam masa inkubasi. 

Pemerintah DKI sepertinya juga perlu memperhitungkan penerapan masa transisi di wilayah padat penduduk, seperti di kampung-kampung kota yang padat dengan penduduk, namun minim pemberlakuan tes. Di sisi lain, ketika masa transisi juga diikuti oleh pembukaan fasilitas umum seperti sekolah, sebuah protokol khusus perlu dikembangkan, mengingat pemahaman anak tentang protokol kesehatan tidaklah seperti orang dewasa. 

Kesimpulan

Masa transisi menuju kenormalan baru saat ini diyakini bukanlah satu hal yang tepat. Kebijakan ini perlu dibarengi dengan kesiapan publik dalam menerapkan protokol kesehatan. Fakta di lapangan menampilkan wajah publik dan pemerintah yang tidak siap menerapkan normal baru. Terdapat banyak celah yang memungkinkan transisi menuju normal baru menjadi malapetaka. Kepatuhan masyarakat, kapasitas tes, serta insentif dan disinsentif pemerintah daerah dengan preseden positif seharusnya menjadi dasar penerapan masa transisi menuju normal baru. Tanpa preseden positif transisi menuju normal baru justru bisa menghasilkan tantangan-tantangan kesehatan baru.  


Sumber:

Bom Waktu di Permukiman Padat. Koran Tempo. 12 Juni 2020

Data Sebaran COVID-19 DKI Jakarta, 2.902 Kasus Positif di 24 Kelurahan. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/04/19/09134701/data-sebaran-covid-19-dki-jakarta-2902-kasus-positif-di-247-kelurahan. 19 April 2020 

Daerah Berjibaku Memasuki Normal Baru. Koran Tempo. 12 Juni 2020

DKI Catat Kasus Tertinggi COVID-19, Dinkes: Karena Tracing Ditingkatkan. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/06/10/15354011/dki-catat-kasus-tertinggi-covid-19-dinkes-karena-tracing-ditingkatkan. 6 Juni 2020

PSBB DKI Diperpanjang, Ini Alasan Lengkap Anies. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200605080823-4-163227/psbb-dki-diperpanjang-ini-alasan-lengkap-anies. 5 Juni 2020

Transportasi Era New Normal, Menhub: Pakai Masker dan Jaga Jarak, https://bisnis.tempo.co/read/1350663/transportasi-era-new-normal-menhub-pakai-masker-dan-jaga-jarak. 7 Juni 2020 


Penulis 

Amru Sebayang