Loading color scheme

Ini Saran Penanganan Pandemi COVID-19 dari Dirjen WHO untuk Pemimpin-pemimpin Dunia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyampaikan siaran pers pada 29 Juni 2020 lalu. (Sumber gambar: AFP)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyampaikan siaran pers pada 29 Juni lalu. Siaran itu menandakan bulan keenam pandemi COVID-19 terhitung sejak WHO pertama kali menerima laporan kasus pertama. Kendati situasi COVID-19 telah berlangsung selama enam bulan terakhir, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom, menyatakan dengan tegas bahwa pandemi ini masih jauh dari kata selesai.  Pernyataan Tedros sangatlah valid mengingat lonjakan kasus di penjuru dunia masih terjadi. Per 9 Juli 2020, jumlah kasus infeksi telah mencapai angka 12.051.561 dengan Amerika Serikat, Brazil, dan India berturut-turut menjadi penyumbang kasus terbesar. Dalam tiga bulan terakhir, negara-negara Eropa telah berhasil menyusutkan jumlah kasus setelah sebelumnya menjadi episenter pandemi. 

Meski begitu, ledakan kasus justru terjadi cukup signifikan di wilayah Amerika Latin dan Asia Pasifik. Tedros, baik secara lembaga maupun personal, menyatakan bahwa upaya pengendalian wabah tidak selalu memerlukan teknologi canggih maupun ketersediaan ahli yang melimpah. Alih-alih demikian, ia meyakini pelaksanaan protokol kesehatan yang dipadu dengan pelacakan kasus secara massif mampu menahan laju penyebaran COVID-19. Paparan Tedros mengindikasikan dua hal. Pertama, selama enam bulan ke belakang tidak ada satu negara pun yang benar-benar bebas dari COVID-19. Adapun, penambahan jumlah kasus yang kian tinggi menunjukkan terjadinya perpindahan klaster episenter dari satu wilayah ke wilayah lain. Selama perpindahan klaster masih terjadi, pandemi ini masih akan sangat jauh dari usai. 

Kedua, pandemi COVID-19 adalah persoalan kesehatan global. Kesehatan global berfokus pada isu-isu kesehatan dunia yang membutuhkan kerja sama lintas negara, memerlukan keahlian multi-disiplin, serta bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat dunia. Keberhasilan upaya penanganan wabah tidak bisa berhenti dalam langkah-langkah penurunan kasus semata, tetapi juga harus menjamin kesehatan fisik, mental, maupun sosial masyarakat dunia.

Kewajiban

Direktur Jenderal WHO menyampaikan lima upaya penanganan wabah COVID-19 yang wajib dilakukan oleh pemimpin-pemimpin dunia. (Sumber gambar: AFP)

Tedros mengakui bahwa tidak semua pemimpin dunia memiliki kapasitas yang cukup untuk menjamin kesehatan warganya di masa pandemi. Meski begitu, upaya penanganan wabah dengan segala daya yang dimiliki wajib dilakukan. Bersama pidato pembuka siaran pers tersebut, Tedros menyampaikan lima upaya penanganan wabah COVID-19 yang wajib dilakukan pemimpin-pemimpin dunia.

Pertama, pemerintah perlu memperkuat peran masyarakat. Tenaga kesehatan kerap dianggap sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Anggapan itu keliru lantaran masyarakat luas adalah garda terdepan penanganan COVID-19. Masyarakat perlu selalu menerapkan segala bentuk protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memastikan kebersihan tangan, menerapkan etika bersin yang benar, mengenakan masker, serta tidak menyebarkan informasi dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Paling penting lagi, beberapa anggota masyarakat perlu menyadari, walau mereka dalam kategori rendah terinfeksi COVID-19, kepatuhan mereka terhadap protokol kesehatan diperlukan untuk menyelamatkan nyawa orang lain. 

Kedua, pemerintah perlu menekan sebisa mungkin transmisi COVID-19. Baik ketika suatu negara memiliki atau tidak memiliki kasus, upaya pencegahan kasus tetap diperlukan. Cara-cara yang bisa ditempuh, di antaranya dengan memastikan setiap tenaga kesehatan memiliki akses terhadap pelatihan penanganan pandemi serta memiliki alat pelindung diri (APD) yang memadai. Di sisi lain, pemerintah juga perlu meningkatkan upaya surveilans serta lacak kasus melalui kolaborasi dengan pemberi layanan kesehatan. Pelacakan kasus dan juga karantina terhadap seorang yang teridentifikasi positif COVID-19 adalah beberapa upaya paling efektif untuk mencegah penyebaran. Beberapa negara bahkan menggunakan tenaga non-kesehatan untuk melakukan pelacakan kasus.

Ketiga, pemerintah perlu memastikan segala upaya untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat. Identifikasi awal kasus dan pelaksanaan upaya-upaya klinis diyakini paling efektif menyelamatkan nyawa masyarakat pada masa pandemi. WHO mencatat penyediaan oksigen dan dexamethasone yang cukup terbukti ampuh untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Perhatian khusus terhadap kelompok rentan, seperti lansia dan individu dengan penyakit bawaan seperti jantung, hipertensi, dan TBC juga sangat diperlukan mengingat  mereka  memiliki kemungkinan  lebih tinggi tertular COVID-19. 

Penelitian dan Kepemimpinan Politik

Pemerintah dunia diharapkan juga untuk selalu mendukung upaya riset dan menampilkan kepemimpinan politik yang kuat pada periode pandemi COVID-19. (Sumber gambar: Antara)

Keempat, pemerintah perlu mendukung setiap upaya riset dan penelitian terkait virus SARS-COV-2. Selama beberapa bulan ke belakang, publikasi ilmiah tentang COVID-19 cenderung bermunculan. Dengan adanya upaya riset dan publikasi yang massif, ditemukan fakta-fakta baru, seperti penularan COVID-19 melalui udara (airborne) dan juga penggunaan masker oleh masyarakat yang kerap salah. Pengetahuan-pengetahuan praktis tersebut berguna untuk mencegah penyebaran kasus secara simultan dalam masyarakat. Akan tetapi, pemerintah tetap perlu mendukung upaya-upaya penelitian yang membutuhkan biaya besar, seperti pengembangan vaksin. 

Terakhir, kepemimpinan politik yang kuat selalu diperlukan dalam menghadapi pandemi. Pemerintah perlu memupuk rasa kesatuan nasional dalam menghadapi pandemi. Dalam pandemi COVID-19, tidak boleh ada perpecahan antara satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lain. Beberapa fakta telah membuktikan bahwa selama periode pandemi angka kekerasan hingga tingkat kriminalitas meningkat pesat. Di sisi lain, banyak pula kelompok masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Jika pemerintah membenturkan kepentingan ekonomi dengan kesehatan, bukan tidak mungkin terjadi saling ketidakpercayaan di antara kelompok-kelompok tersebut. Hal itu  perlu dicegah karena selain memberi beban sosial, juga mampu mengancam keamanan nasional.

Tedros tidak memungkiri bahwa pandemi COVID-19 tidak bisa serta merta terselesaikan dengan menerapkan kelima kewajiban tersebut. Kendati demikian, ia meyakini bahwa dengan menerapkan kelimanya, setidak-tidaknya tingkat penularan bisa ditekan sedemikian rupa. Keyakinan tersebut selalu diperlukan untuk mencegah situasi yang bisa kian memburuk di masa depan. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, setiap pemimpin hendaknya mematuhi saran ini. Pandemi COVID-19 memasuki wilayah kesehatan global, sehingga tindakan kooperatif dan kerja sama antar-pemimpin dunia selalu dibutuhkan. Hal tersebut diperlukan bukan untuk menampilkan superioritas di kancah global, melainkan untuk menyelamatkan nyawa sebanyak-banyaknya. 


Sumber:

Timeline of WHO’s response to COVID-19https://www.who.int/news-room/detail/29-06-2020-covidtimelineUpdate terakhir pada 30 Juni 2020.

WHO acknowledges ‘evidence emerging’ of airborne spread of COVID-19. https://www.thejakartapost.com/news/2020/07/08/who-acknowledges-evidence-emerging-of-airborne-spread-of-covid-19.html?src=mostviewed&pg=news/2020/06/30/indonesia-records-highest-daily-covid-19-death-toll-yet.html. 8 Juli 2020.

WHO says Coronavirus situation ‘worsening’ worldwide. https://www.thejakartapost.com/news/2020/06/09/who-says-coronavirus-situation-worsening-worldwide.html. 9 Juni 2020.

WHO – Press Conference (29/06/2020) https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019. 29 Juni 2020. 


Penulis:

Amru Sebayang