Loading color scheme

Tenaga Kesehatan Kesulitan Tes RT-PCR di Jakarta

PRESS RELEASE: Tenaga Kesehatan Kesulitan Tes RT-PCR di Jakarta, Solidaritas Berantas COVID-19 dan CISDI Tingkatkan Kapasitas Tes RT-PCR Gratis bagi Tenaga Kesehatan


1. Tenaga kesehatan di Jakarta akui kesulitan mendapatkan fasilitas tes RT-PCR pada fasilitas kesehatan meskipun memiliki riwayat kontak dengan pasien COVID-19.

2. Hingga 2 Mei 2020, Solidaritas Berantas COVID-19 (SBC) dan CISDI fasilitasi 674 tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan RT-PCR gratis dan 649 tenaga kesehatan dinyatakan terbebas dari COVID-19.

3. Solidaritas Berantas COVID-19 (SBC) dan CISDI sediakan 2.000 rapid test, 4.000 RT-PCR, dan 8.000 paket Alat Pelindung Diri untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan tingkat pertama di Jakarta, Bandung, dan Semarang.


Jakarta, 6 Mei 2020 – Memasuki minggu ke-9 infeksi wabah COVID-19 di Indonesia, per 5 Mei 2020 telah ditemukan 12.071 kasus positif dan 872 meninggal. Di antaranya ribuan kasus positif tersebut, pemerintah Indonesia belum memiliki catatan jumlah tenaga kesehatan Indonesia yang terpapar, positif terkonfirmasi COVID-19 dan meninggal. Ketidaksiapan dan keterlambatan pemerintah Indonesia dalam melakukan penanganan pandemi menyebabkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19 terus meningkat. Pembatasan Sosial Berskala Besar yang menjadi tameng utama pemerintah baru secara resmi diberlakukan pada April 2020 secara efektif di kurang lebih 20 kabupaten dan kota di Indonesia. Sementara itu, dampak sosial dan ekonomi sudah terlalu luas dirasakan masyarakat. Penemuan kasus dan tindaklanjut secara cepat menjadi kunci utama pemutusan rantai penularan wabah, ini dapat berjalan dengan melakukan tes sebanyak-banyaknya.

Jakarta, sebagai episenter COVID-19, terus meningkatkan kapasitas dan alokasi pemeriksaan bagi masyarakat. Per 4 Mei 2020, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaporkan sebanyak 80.192 orang telah menjalani rapid test di 6 wilayah kota dan kabupaten administrasi DKI Jakarta dengan presentase positif COVID-19 sebesar 4 persen. Per 26 April 2020, Tim Gugus Tugas Nasional melaporkan Jakarta menerima 52.000 reagen PCR. Namun demikian, tenaga kesehatan sebagai kelompok risiko tinggi terinfeksi dan rentan menginfeksi belum semua mendapat akses pemeriksaan COVID-19 yang terjangkau dan cepat karena keterbatasan kapasitas tes.

Anggraini, SpPK, dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta, menyampaikan kesulitan yang dialami dirinya dan rekan sejawat untuk memperoleh pemeriksaan. “Meskipun saya dan rekan-rekan memiliki frekuensi kontak yang tinggi dengan pasien rumah sakit baik yang berstatus positif COVID-19, orang tanpa gejala, orang dalam pemantauan, maupun pasien dalam pengawasan, namun fasilitas pemeriksaan tetap diprioritaskan untuk masyarakat sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dari pemerintah provinsi. Pada kenyataannya, beberapa tenaga kesehatan dan staf di rumah sakit kami berstatus positif COVID-19 meskipun tidak menunjukkan gejala-gejala COVID-19. Oleh karenanya, kami membutuhkan pemeriksaan yang hasilnya dapat diketahui dengan cepat agar kami segera bisa menentukan perawatan selanjutnya dan tidak bekerja untuk mencegah penularan ke tenaga kesehatan lain atau bahkan pasien.” 

Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K), Ketua Kolegium Urologi Indonesia dan Penggagas SBC, menyatakan, jumlah ketersediaan RT-PCR tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga kesehatan di lapangan. “Saat ini, tenaga kesehatan memperoleh pemeriksaan RT-PCR jika mereka menunjukkan gejala dan berisiko tinggi. Namun, belum ada aturan atau kesepakatan yang menetapkan frekuensi pemeriksaan RT-PCR harus dilakukan untuk memastikan tenaga kesehatan terlindungi dengan optimal. Ketiadaan aturan atau kesepakatan terkait frekuensi pemeriksaan ini menjadi masalah karena frekuensi pemeriksaan akan mempengaruhi jumlah kebutuhan RT-PCR yang harus disediakan bagi tenaga kesehatan sebagai kelompok risiko tinggi.”

Menyadari situasi yang ada di lapangan, Solidaritas Berantas COVID-19 (SBC) dan CISDI berusaha memperluas cakupan program pemeriksaan gratis bagi tenaga kesehatan melalui rapid test dan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga kota lain. Hingga April, SBC dan CISDI telah bekerja sama dengan Lab Mikrobiologi Universitas Indonesia dan 6 rumah sakit serta 1 puskesmas dalam melaksanakan pemeriksaan bagi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan di Jabodetabek dan Bandung.

Arifin Panigoro, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI dan Pembina SBC, menegaskan peran masyarakat sipil dalam melengkapi intervensi kesehatan pemerintah. “Solidaritas Berantas COVID-19 bersama CISDI sudah menjalankan program pemeriksaan rapid test dan RT-PCR gratis bagi tenaga kesehatan selama dua minggu. Sejauh ini kami bermitra dengan GrabHealth-Good Doctor Technology, Laboratorium Mikrobiologi Universitas Indonesia, dan total 6 rumah sakit di Jakarta dan 1 puskesmas di Bandung untuk memberikan bantuan pemeriksaan rapid test antibodi ke 1.740 tenakes dan juga akses RT-PCR ke 674 tenaga kesehatan dari 82 fasilitas kesehatan baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik mandiri. Dari pemeriksaan ini, kami juga menemukan 25 tenaga kesehatan dengan status positif COVID-19 yang sudah kami laporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta agar tata laksana medis dapat segera dilakukan. Kami masih terus mengupayakan peningkatan dukungan dari yang saat ini sudah kami alokasikan: 2.000 rapid test, 4.000 RT-PCR, dan 8.000 paket Alat Pelindung Diri (APD). Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat sipil, kita dapat mendeteksi kasus positif COVID-19 secara lebih cepat.”

Pemeriksaan Rapid-Test Antibodi dan RT-PCR gratis bagi tenaga dan staf fasilitas kesehatan dimulai secara bertahap dari tanggal 26 Maret 2020, yang mana SBC dan CISDI bermitra dengan RS Islam Jakarta Sukapura, RS Islam Jakarta Pondok Kopi, RS Haji Jakarta, RSCM, RS Harapan Kita, RSUD Tarakan, serta Puskesmas Pasir Kaliki di Bandung. Selain fasilitas kesehatan di Jakarta, SBC dan CISDI memperluas cakupan program hingga kota lainnya seperti Bandung dan Semarang. Olivia Herlinda, Direktur Kebijakan CISDI, menyatakan perluasan cakupan ini sejalan dengan peningkatan kasus yang saat ini terus bertambah di daerah. “Peningkatan kapasitas pemeriksaan di daerah belum dapat mengejar kebutuhan tes ideal dari peningkatan secara eksponensial penularan di daerah. Berusaha mengisi keterbatasan tersebut, saat ini kami sedang menjajaki kerjasama dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan baik di dalam dan luar Jabodetabek agar dapat memberikan pemeriksaan kepada 4.000 tenaga kesehatan yang membutuhkan. Melalui program ini kami memprioritaskan tenaga kesehatan dan staf yang tidak memiliki akses pemeriksaan, seperti tenaga kesehatan non-dokter dan juga staf fasilitas kesehatan seperti cleaning service, OB, supir ambulans dan lainnya. Kami berharap upaya ini dapat mendorong para pemangku kepentingan untuk bahu-membahu meningkatkan kapasitas tes, terutama penyediaan tes secara reguler untuk tim kesehatan kita.”

Diah Saminarsih, Senior Advisor on Gender and Youth, WHO, kembali mengingatkan potensi penularan COVID-19 jika strategi pemeriksaan tidak digencarkan, termasuk kepada tenaga kesehatan. “Saat ini beberapa negara seperti Singapura dan Tiongkok melaporkan kemunculan gelombang kedua penularan COVID-19. Artinya, meskipun mereka sudah melakukan upaya-upaya pencegahan dan pemeriksaan secara masif di awal, potensi penularan masih ada. Pemerintah Indonesia tidak boleh lengah menerapkan strategi test, trace, isolate -melakukan pemeriksaan, memantau kasus penularan, serta melakukan isolasi bagi ODP, PDP, dan pasien positif COVID-19 dengan mengoptimalkan tidak hanya rumah sakit tetapi juga fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Di masa pandemi, kesiapan seluruh lini sistem kesehatan nasional perlu dimaksimalkan sebagai garda terdepan dalam memastikan layanan kesehatan, khususnya tenaga kesehatan, dalam memastikan upaya surveilans, pemeriksaan, edukasi masyarakat, hingga menjalin pelibatan lintas sektor.”

- SELESAI -


Tentang Solidaritas Berantas COVID 19

Solidaritas Berantas COVID 19 merupakan gabungan ahli kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan professional, pengamat kebijakan publik, serta organisasi masyarakat sipil dengan beragam latar belakang dan keahlian yang memiliki pengalaman dan jejak rekam terpercaya dalam memantau proses pembuatan kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat. Beberapa anggota koalisi ini di antaranya adalah CISDI (selaku Sekretariat SBC), Stop TB Partnership Indonesia, Komnas PT, PPTI, HOPE project, LKNU, serta para pakar dan praktisi kesehatan masyarakat

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi masyarakat sipil yang mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pembangunan kesehatan dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan. CISDI melakukan kajian isu prioritas berdasarkan pengalaman mengelola program penguatan pelayanan kesehatan primer di daerah sub-urban dan DTPK, riset dan analisa kebijakan kesehatan, kampanye perubahan sosial, serta keterlibatan dalam diplomasi kesehatan di tingkat nasional dan global. Program penguatan pelayanan kesehatan primer yang CISDI ampu, Pencerah Nusantara, diadopsi oleh Kementerian Kesehatan sebagai program nasional Nusantara Sehat, pada tahun 2015 yang diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan primer di lebih dari 5.000 daerah DTPK. CISDI juga aktif mengadvokasi kebijakan dalam isu-isu prioritas lainnya seperti pengendalian tembakau, peningkatan status gizi masyarakat, dan pelibatan kaum muda dalam pembangunan kesehatan.

For further information, please contact:

Tim Komunikasi CISDI
Email: communication@cisdi.org
www.cisdi.org


Keterangan Foto:

Foto 1. Tenaga kesehatan di RS Islam Jakarta Pondok Kopi, mitra pelaksana program pemeriksaan nakes gratis yang diinisiasi oleh SBC bersama CISDI, melakukan swab nasofaring dan orofaring bagi tenaga kesehatan dan staf rumah sakit risiko tinggi pada akhir April lalu.

Foto 2. SBC bersama CISDI memperluas cakupan program pemeriksaan gratis bagi tenaga kesehatan hingga ke luar wilayah Jabodetabek. Pada gambar, tenaga kesehatan Puskesmas Pasirkaliki, Bandung, melakukan rapid test tidak hanya kepada staf, tetapi juga ke masyarakat di wilayah kerja puskesmas.