Loading color scheme

Penyelamatan Sistem Kesehatan dari Pandemi

Tedros Adhanom (tengah), Direktur Jenderal WHO, memimpin sebuah konferensi pers di Jenewa, Swiss. (Sumber gambar: Reuters)

Sejak wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) mulai merebak pada awal 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menggarisbawahi bahwa mempertahankan integritas dan ketahanan sistem kesehatan nasional menjadi kunci berhasil-tidaknya pengendalian wabah di tingkat nasional. Ini karena seluruh spektrum aksi yang masuk kategori penyelamatan nyawa manusia dan penyelesaian krisis kesehatan masyarakat berada dalam lingkup sistem kesehatan nasional maupun daerah.

Sistem kesehatan mempunyai tiga komponen utama, yaitu layanan kesehatan primer, layanan kesehatan sekunder, dan layanan kesehatan tersier. Layanan kesehatan primer memegang posisi strategis sebagai titik kontak pertama masyarakat ke sistem kesehatan dalam hal penanganan wabah. Memperkuat layanan kesehatan primer akan memberikan dampak langsung berupa tumbuhnya keinginan masyarakat untuk tetap sehat dan terbangunnya pemahaman bagaimana menjaga kesehatan diri, hal yang menjadi sangat penting sebagai penentu keberhasilan memutus mata rantai penularan virus. Hal ini tidak bisa tercapai bila layanan kesehatan primer tak diperhatikan dan diberdayakan secara optimal.

Mengapa sistem kesehatan sepenting itu harus diselamatkan? Indikator apa saja yang bisa dijadikan pedoman dalam upaya menyelamatkan sistem kesehatan?

Pertama, serbuan wabah secara tiba-tiba, cepat, dan tak terduga harus diakui membuat dunia terkejut. Layaknya gempa bumi yang meruntuhkan bangunan-bangunan pencakar langit, pandemi bisa berakibat runtuhnya sistem kesehatan nasional. Bayangkan segitiga sistem ini kolaps karena beban terlalu besar pada puncaknya, yaitu rumah sakit. Banyaknya orang yang jatuh sakit pada saat bersamaan, dengan tingkat keparahan sedang hingga kritis, bisa membuat rumah sakit kewalahan. Namun segitiga sistem kesehatan tidak hanya berisi komponen rumah sakit. Layanan kesehatan primer adalah komponen lain yang mempunyai peran tak kalah strategis.

Kedua, kenyataannya, wabah terjadi di komunitas, di tengah-tengah masyarakat. Ledakan epidemiologi terjadi di kawasan padat penduduk dan dalam kelompok atau kluster. Tidak mungkin semua orang yang jatuh sakit bergantung pada rumah sakit, yang kapasitasnya terbatas. Mereka yang kondisinya memungkinkan untuk dirawat di rumah atau melakukan isolasi mandiri membutuhkan layanan kesehatan primer yang berdaya. Hal ini mensyaratkan tersedianya tenaga kesehatan terampil dan berkapasitas tinggi yang dilengkapi dengan alat pelindung diri dan teknologi tepat guna di layanan kesehatan primer.

Ketiga, selain menangani wabah, sistem kesehatan tetap harus menghadapi dan memberikan layanan kesehatan untuk penyakit non-wabah. Contohnya, beban TBC di Indonesia kini nomor dua terbesar di dunia dan angka stunting masih tinggi. Layanan kesehatan primer harus mampu memastikan bahwa wabah tidak membuat capaian untuk dua target kesehatan ini kembali menurun.

Dengan demikian, layanan kesehatan primer sesungguhnya bisa berfungsi sebagai jangkar yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan teknis pada tingkat nasional di masyarakat. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan secara holistik dan integratif pada layanan kesehatan primer dalam konteks penanganan wabah. Pertama, layanan kesehatan primer sebagai pusat pencarian dan penelusuran kasus Covid-19. Hal ini dilakukan melalui pemindaian populasi risiko tinggi dan pelaksanaan tes masif oleh tenaga kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), ditambah tenaga dokter internship dan dokter keluarga.

Kedua, sebagai pusat pemantauan kasus positif serta orang dalam pemantauan (ODP) yang melakukan isolasi mandiri. Tenaga kesehatan dan relawan bekerja bersama tenaga kesehatan lainnya di puskesmas sebagai tim yang merawat dan memantau keadaan masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Ketiga, pusat koordinasi relawan dalam memberikan pendampingan dan edukasi publik untuk membangun kesadaran akan kesehatan masyarakat, agar secara signifikan menurunkan jumlah kasus baru. Keempat, mengingat bahwa Indonesia masih harus memperbanyak jumlah tes per seribu penduduk (data per 6 Mei lalu baru 0,4 orang per seribu penduduk), layanan kesehatan primer berfungsi sebagai pusat pengumpulan data yang mencakup perhitungan target jumlah tes dalam populasi.

Tuntutan kecepatan dan ketepatan melangkah adalah situasi yang datang bersama pandemi. Memilih mana dan apa yang dilaksanakan lebih dulu menjadi sebuah kemewahan, karena menyelamatkan nyawa manusia tidak memberikan keluangan waktu. Langkah jangka pendek harus dikerjakan berbarengan dengan penentuan langkah strategis yang punya dampak jangka panjang. Sebagai contoh, integrasi data di tingkat masyarakat dibutuhkan bukan hanya untuk mengatasi wabah, tapi juga mempunyai nilai strategis amat tinggi di masa mendatang, terutama saat memasuki era big data, dengan satu data dan keterbukaan data/informasi publik.

Bila sistem kesehatan nasional berhasil diselamatkan, terbuka berbagai kesempatan sebagai bekal menata realitas baru setelah pandemi berakhir nanti. Populasi yang sehat menjadi modal untuk bersaing dalam lanskap baru inovasi kesehatan yang punya potensi ekonomi tinggi, baik itu obat, vaksin, alat kesehatan, maupun digital health. 


Diah S. Saminarsih

Penasihat Senior Direktur Jenderal WHO untuk Bidang Gender dan Pemuda, pendiri Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI)

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di Koran Tempo Edisi 11 Mei 2020. Diterbitkan ulang di website ini untuk tujuan pendidikan.